Tag: aswaja

Pria Keturunan Arab Tampar Imam Saat Salat Jumat

Pria Keturunan Arab Tampar Imam Saat Salat Jumat

KUALA LUMPUR – Suasana khusyuk ketika ibadah salat Jumat yang dilaksanakan di Masjid Negara yang berlokasi di Malaysia harus terganggu.

Pasalnya, seorang pria yang diduga keturunan Arab nekat menampar imam yang tengah memimpin salat Jumat.

Dikutip dari Siakapkeli (18/9/2015), kejadian bermula saat salat baru memasuki rakaat pertama.

Menurut keterangan beberapa orang saksi mata di lokasi kejadian, ketika imam yang memimpin salat jumat baru saja menyelesaikan bacaan Surah Al-Fatihah.

Namun, tiba-tiba sang pria keturunan Arab tersebut mendekati sang imam dan langsung menamparnya.

Selain itu, pria tersebut dilaporkan mengambil pengeras suara sembari berteriak “You go back!” berulang kali. (Klik di sini untuk melihat cctv kejadian penamparan imam salat Jumat)

Tak pelak, aksi nekatnya ini membuat keributan saat ibadah tengah berlangsung.

Sang pria ini pun akhirnya berhasil diamankan oleh masyarakat, meski sempat terjadi keributan di luar masjid tersebut ketika sang pelaku hendak diserahkan kepada pihak kepolisian setempat. (Lihat video pria Arab nyaris dihakimi massa usai salat Jumat)

Beberapa orang netizen yang mengetahui kejadian ini ramai-ramai memberikan komentarnya melalui berbagai situs media sosial, seperti Facebook dan Twitter.

Shaiful Izam Shahruddin, salah seorang netizen menulis:

“Tadi saat sedang salat Jumat di Masjid Negara, saat imam sedang membaca surah, ada seseorang yang merampas mikrofon dan berteriak .. You go back… You go back.. Terpaksa, salat pun harus dimulai dari awal.”
Netizen lain, Mohammad Faizal, menulis:

“Sedikit keributan terjadi di Masjid Negara. Imam ditampar (diduga oleh pria keturunan Arab) ketika sholat Jumat, terpaksa sholat dihentikan dan diulang dari awal. Aku ada di sana.”

Pria tersebut kini telah diamankan pihak berwajib dan tengah dalam pemeriksaan oleh pihak kepolisian.

Tujuan dari aksi nekatnya ini juga masih belum diketahui.[] sumber: tribunnews.com

Sekjen MIUMI Sikapi Pernyataan Said Aqil Siradj Terkait Jenggot

Sekjen MIUMI Sikapi Pernyataan Said Aqil Siradj Terkait Jenggot

JAKARTA – Cendikiawan dan Ulama Muda Indonesia, Bachtiar Nasir menilai pernyataan Ketua Umum Nahdhatul Ulama (NU), Said Aqil Siradj tentang orang yang jenggotnya semakin panjang semakin bodoh karena syarafnya tertarik oleh jenggot hanya candaan di internal saja. Sayangnya candaan itu masuk ke ranah sosial media (sosmed) membuat bahasa kamar menjadi keluar ke ruang publik.

“Saya kira itu hanya candaan internal saja. Candaan dalam kamar yang keluar ke sosmed atau ruang publik. Memang ada pendapat dari kalangan minoritas di Islam yang sangat kontradiktif seperti yang dikemukakan itu yang bertentangan dengan mahzab yang ada. Pendapat ini kemudian yang dijadikan candaan,” kata Bachtiar ketika dihubungi, Selasa (15/9).

Bachtiar menyayangkan itu dijadikan candaan karena selain bertentangan dengan sunah memelihara jenggot itu shahih karena Nabi Muhammad dan para pengikutnya melakukan itu termasuk Pendiri NU, KH Hasyim Ashari berjenggot, juga karena tidak ada bukti empiris atau ilmiah yang membenarkan hal itu.

“Tentunya sangat disayangkan karena Nabi Muhammad dan pengikutnya, termasuk pendiri NU, KH Hasyim Ashari berjenggot, juga karena pernyataan itu tidak ada dasarnya. Tidak ada satupun bukti ilmiah yang pernah mengatakan bahwa semakin panjang orang berjenggot, semakin bodoh orang itu,” tegas Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) ini.

Terkait pernyataan Said Aqil bahwa paham yang diikuti itu bukan ajaran Islam tapi hanya mengambil budaya Arab sehingga yang terjadi bukan Islamisasi tapi Arabisasi, Bachtiar melihatnya bahwa hal itu hanya bentuk akumulasi kekesalan NU terhadap kelompok tertentu yang kerap menyerang NU dengan tuduhan bahwa ritual di NU banyak yang bid’ah atau mengada-ada.

“Saya lihat ada kekesalan dengan kelompok tertentu, yang saya akui memang ada di antara teman-teman para pendakwah yang mempraktek agama yang rigid atau kaku. Kelompok ini menyerang NU dan mungkin sangat menyakitkan NU. Kelompok ini kerap menghantam tradisi ritual NU dan NU selama ini diam. NU di-bid’ah-kan, dikatakan sesat. Ini mungkin terakumulasi, akhirnya terlontar candaan seperti ini. Sudah kelamaan NU disakiti nampaknya. Tapi kalau kebodohan dilawan dengan kebodohan jadinya yah seperti ini,” pungkasnya.[] sumber: JPNN.com

[Video]: Profesor Muslim Ibrahim: Tak Semua Syiah Sesat

[Video]: Profesor Muslim Ibrahim: Tak Semua Syiah Sesat

BANDA ACEH – Sebuah video yang memuat  pernyataan Profesor Muslim Ibrahim bahwa tidak semua syiah sesat sedang ramai dibicarakan di media sosial.

Video ini sebenarnya sudah diupload oleh pemilik akun kaciwa83  pada 23 Februari  2013 lalu. Namun baru dalam beberapa hari terakhir mendapat respon yang luar biasa dari pengguna media sosial di Aceh.

Berdasarkan latar, Profesor Muslim Ibrahim memberi komentar ini pada sebuah acara yang dilaksanakan pada 2 April 2011.

“Tadi ada pertanyaan menarik tentang Syiah. Syiah pagi-pagi sudah sesat, itu keliru. Karena syiah itu sendiri ada 8 mazhab atau 8 firqah. Malah barangkali 3 diantaranya persis seperti ahlussunnah wal jamaah,” kata Profesor Muslim Ibrahim.

Berikut video pernyataan Profesor Muslim Ibrahim ini:

Ini Penjelasan KH Muhammad Idrus Ramli Soal Kenduri

Ini Penjelasan KH Muhammad Idrus Ramli Soal Kenduri

BANDA ACEH- Ustaz K.H. Muhammad Idrus Ramli, saat memberikan tausiyah pada pawai dan zikir akbar Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja) di Kompleks Makam Syiah Kuala Banda Aceh, Kamis, 10 September 2015, mempertanyakan beberapa hal dasar kepada jemaah.

Pertanyaan tersebut, seperti mengapa para ulama dahulu berhasil mengislamkan bangsa nusantara sehingga menjadikan nusantara dengan jumlah penduduk ummat Islam terbesar di Indonesia? Mengapa bukan di Arab melainkan Indonesia?

Katanya, Indonesia menjadi mayoritas Islam karena yang menyebarkan Islam di nusantara adalah para ulama Ahlussunnah Waljamaah.

Ia melanjutkan, lalu mengapa Aswaja dulu sukses dan berhasil mengislamkan lainnya? Karena mereka menyebarkan Islam dengan Akhlaqul Karimah (akhlak yang mulia) dan salah satu ciri khas akhlak mulia adalah mudah beradaptasi dengan masyarakat.

K.H Muhammad Idrus Ramli mengatakan, dulu para ulama menyebarkan agama dengan pendekatan tradisi bangsa nusantara. Bahkan jauh sebelum Islam tersebar luas, bangsa ini  merupakan bangsa yang kaya dengan tradisi, terutama tradisi kenduri.

“Sampai-sampai bangsa Indonesia dari senangnya memberi makan (kenduri) mulai dari dalam kandungan (masa hamil) sampai ada keluarganya meninggal dunia memberi makan orang dan itu oleh Wahabi malah diprovokasi, dibalik dengan mengatakan, bagaimana orang Indonesia, tetangganya meninggal malah numpang makan,” katanya.

Ustaz Idrus mengatakan, alangkah baiknya bangsa Indonesia sampai keluarga meninggal dunia memberi makan orang. Perlu diketahui, tradisi memberi makan ini adalah tradisi yang Islami seperti selamatan, kenduri maulid, kenduri turun tanah dan lainnya. Mengapa islami?

Ia menceritakan, dulu saat Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah lalu orang-orang Madinah berkumpul menyambut beliau. “Ceramah pertama kali beliau adalah mengatakan ‘Wahai penduduk Madinah sebarkan salam, tradisikan memberi makan orang dan kerjakan salat pada malam hari ketika orang-orang sedang tidur’,” kata ustaz Idrus mengutip Sabda Rasulullah SAW.

“Jadi anjuran beliau pertama kali ketika datang ke Madinah adalah menganjurkan orang Madinah agar senang memberi makan banyak orang, ini anjuran Rasulullah. Lalu ada sahabat menanyakan, Ya Rasulullah amalan apa dalam Islam yang paling utama? Rasulullah SAW menajawab Ith’amut tha’am, yaitu memberi makan orang banyak dan tanda-tanda amal ibadah seseorang diterima adalah orang yang senang memberi makan. Lalu sahabat tersebut bertanya lagi, apa tanda-tanda haji mabrur Ya Rasulullah? Rasulullah SAW menjawab yaitu ucapan yang selalu baik dan senang memberi makan banyak orang,” katanya.

Katanya, tradisi memberi makan ini sampai sekarang masih ada di nusantara. Mulai dari Thailand, Papua, Filipina, Jayapura, Brunei Darussalam, Singapura dan Indonesia isinya sama, kenduri. Tradisi ini sebenarnya berlangsung sejak Islam belum datang, tetapi oleh para ulama dulu dibiarkan karena tradisi ini tidak menentang.

“Kalau ditinggalkan berarti tidak berakhlak, karena yang sering disebut Wahabi adalah menghilangkan tradisi tersebut. Kata mereka, tradisi keselamatan, kenduri, dan lain-lain merupakan budaya Hindu,” ujarnya. [] (mal)

Ini Penjelasan Alumni Dayah Tanoh Mirah Soal Wahabi di Aceh

Ini Penjelasan Alumni Dayah Tanoh Mirah Soal Wahabi di Aceh

BANDA ACEH – Alumni Dayah Darul Ulum Tanoh Mirah, Kabupaten Bireuen, Teungku Muhammad Nur, mengaku bingung dengan pernyataan Kadis Syariat Islam, Prof. DR. Syahrizal Abbas, MA, yang meminta ulama untuk menunjuk Wahabi di Aceh.

Hal itu diungkapkan Syahrizal Abbas kepada salah satu media online di Aceh.

“Pernyataan Kadis Syariat Islam yang meminta ulama Aceh untuk menunjukkan siapa yang dimaksud salafi ataupun wahabi, karena setahu beliau tidak ada wahabi di Aceh ini sangat berbeda dengan kenyataan ataupun beliau memang tidak tahu. Yang jadi pertanyaan siapa yang kelola Masjid Raya Baiturrahman dan tidak mengulangi rukun khutbah sebelum ulama Aswaja turun tangan? “ujar Teungku Muhammad Nur melalui siaran persnya, Jumat 11 September 2015.

Menurutnya, yang dimaksudkan wahabi oleh ulama dayah adalah sebagian orang yang masih tidak sepakat khutbah Jumat mualat sehingga sebagian mereka sudah migrasi ke masjid yang lain di Banda Aceh.

“Sehingga sebagian masjid, khususnya di Banda Aceh, tidak mengulangi rukun khutbah dan masih sekali azan dan mereka selalu meminta ulama untuk menghargai perbedaan. Padahal ini bukan khilafiah atau beda antara pandapat kadim dengan jadid, tetapi yang harus dipahami oleh Kadis Syariat Islam menyangkut sah atau tidaknya salat jumat tergantung khutbah nya juga,” ujar Teungku Muhammad Nur.

“Kalau memang ini semua di luar pengetahuan Kadis Syariat Islam berarti gubernur harus menggantikannya karena tidak ada yang bisa diharapkan dalam kerja nya yang sangat lemah dan tidak mencerminkan sebagai akademisi yang bagus,” kata dia lagi.

Sedangkan menyangkut dengan lembaga pendidikan Islam yang dianggap bukan lembaga pendidikan islam ahlussunnah wal jamaah, kata Teungku Muhammad Nur, adalah lembaga pendidikan Islam yang selalu mengikuti sekelompok orang yang menetapkan salat tarawih itu 8 rakaat.

“Ataupun puasa Ramadan bukan dengan birukyatih (melihat bulan) dan melanggar ketetapan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama,” katanya. [] (mal)

“Islam Masuk ke Indonesia Melalui Aceh”

“Islam Masuk ke Indonesia Melalui Aceh”

BANDA ACEH – Islam masuk ke Indonesia melalui Aceh. Karena itu, sampai sekarang para ulama di Jawa dan daerah lain di Indonesia, jika ditelusuri dasar orangnya, adalah orang Aceh.

Hal tersebut disampaikan oleh K.H. Muhammad Idrus Ramli saat memberikan tausiyah pada pawai dan zikir akbar Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja) di Kompleks Makam Syiah Kuala Banda Aceh, Kamis, 10 September 2015.

Dalam catatan sejarah, katanya, Islam ini masuk ke nusantara pada abad pertama Hijriah, yaitu pada masa khalifah yang ketiga, Usman bin Affan.

“Saat itu sudah ada utusan yang dikirim ke Aceh untuk mengajak bangsa kita masuk Islam dan pada saat itu pula sudah terdapat mazhab kita Ahli Sunnah Wal Jamah,” katanya.

Pada abad ke-19 Masehi, Islam tersebar luas dan diikuti oleh mayoritas masyarakat di negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan sekitarnya.

Pada abad yang sama atau 600 tahun lalu, kemudian para ulama dari Aceh banyak dikirim ke daerah-daerah lain di seluruh nusantara. “Karenanya, kalau di Jawa sana dipanggil kiai, kiai-kiai itu jika ditelusuri nasab (keturunan)-nya banyak dari Aceh,” ujar Ustaz Idrus.

Mengapa demikian? Ini karena mereka adalah keturunan para ulama yang menyebarkan Islam, misalnya Wali Songo yang juga asalnya dari Aceh. Ia mencontohkan wali pertama bernama Maulana Malek Ibrahim diundang oleh Kerajaan Majapahit. Saat itu Kerajaan Majapahit telah rusak dan Maulana Malek Ibrahim diangkat sebagai qadhi (suatu pangkat yang amat tinggi dalam Islam) untuk mengubah akhlak. Maulana Malek Ibrahim merupakan seorang ulama yang terkenal di Kerajaan Pasai, yaitu Aceh Utara.

Kemudian, lanjutnya, sunan-sunan yang lain juga berasal dari Aceh. Karena itu, sampai sekarang bangsa Indonesia menyebut Aceh dengan Serambi Mekah. “Karena memang pintu masuknya Islam ke Indonesia,” kata Ustaz Idrus.[](bna/*sar)

Ketua HMI Langsa: Isu Munculnya Aliran Sesat Berpengaruh Besar di Aceh

Ketua HMI Langsa: Isu Munculnya Aliran Sesat Berpengaruh Besar di Aceh

LANGSA – Ketua Umum HMI Cabang Langsa, Khairulrizal Alatif, meminta Pemerintah Aceh lebih tegas menyikapi dugaan aliran sesat di Aceh.

“Isu munculnya ada aliran sesat ini membuat pengaruh besar dalam hal kenyamanan ibadah masyarakat Aceh sendiri. Sangat kita takutkan jika ajaran tersebut menguasai seluruh wilayah Aceh dengan misi pendangkalan akidah,” kata Khairul kepada portalsatu.com, Jumat, 11 Septermber 2015.

Dia juga meminta masyarakat Aceh agar tidak terpengaruh dengan pemahaman-pemahaman di luar sunnah.

“Dasar kita adalah menganut aturan Ahlus Sunnah Waljamaah, jadi jangan sampai masyarakat Aceh terpengaruh dengan yang lain,” katanya.

Dalam hal ini, lanjutnya, Pemerintah Aceh juga harus bertindak dengan tegas jika ada hal-hal yang menyimpang mengenai ajaran Islam yang ada di Aceh.

“Ini semua bertujuan menghindari perpecahan dalam agama Islam, khususnya di Aceh. Jadi, pemerintah harus juga berperan di situ,” katanya.

“Kita berharap Islam di Aceh hanya berkiblat pada ajaran ahlus sunnah, dan tetap selalu menjaga kekompakan demi akidah anak bangsa di masa yang akan datang,” ujarnya.[](bna/*sar)

“Pegang Tongkat Saat Khutbah Jumat Bukan Karena Lemah, Melainkan Sunnah”

“Pegang Tongkat Saat Khutbah Jumat Bukan Karena Lemah, Melainkan Sunnah”

BANDA ACEH- Terdengar dari segelintir orang mengatakan pegang tongkat saat khutbah Jumat adalah bid’ah. Padahal, pegang tongkat merupakan sunnah Rasul dan Khulafauurrasyidin, Jumat, 11 September 2015.

Hal tersebut dikatakan oleh tamu kehormatan, K.H. Muhammad Idrus Ramli saat memberikan tausiyah dan pemikiran tentang Islam pada Zikir dan Pawai Akbar Ahlus Sunnah Waljamaah (Aswaja) yang berlangsung di Makam Syiah Kuala, Banda Aceh, kemarin, Kamis, 10 September 2015.

Katanya, dalam kitab hadis Imam Ahmad dalam Al Musnat, Imam Abu Daud dalam As Sunan dan Imam Ibnu Majah meriwayatkan, Saidina Al Hakam bin Hazn berkata, “Kami para sahabat menghadiri Jumat bersama Rasulullah saw., lalu beliau berdiri membaca khutbah dengan memegang tongkat.”

Di lain kesempatan, kata K.H. Muhammad Idrus Ramli, para sahabat juga melihat Saidina Abu Bakar, Umar bin Khathab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib juga memegang tongkat. “Orang Aceh dan orang Indonesia sejak dulu kalau membaca khutbah juga pegang tongkat,” katanya.

Namun, sekarang terdapat sebagian orang melaksanakan khutbah Jumat tidak memegang tongkat. “Kita Islamnya Rasulullah saw. dan para sahabat karena pegang tongkat. Bukan berarti orang yang pegang tongkat tersebut tidak kuat berdiri dan lemah, melainkan termasuk dalam sunnahnya khutbah,” ujar Ustaz Idrus.

Selain itu, ia juga mengatakan, baru-baru ini ada yang mengatakan bahwa salat qabliyah (sebelum) Jumat haram. Padahal, katanya, masa Nabi Muhammad saw., salat qabliyah (sebelum) Jumat tersebut sudah ada. [] (mal/*sar)

MUNA: Karena Weuh Hate, Maka Lahe Parade

MUNA: Karena Weuh Hate, Maka Lahe Parade

BANDA ACEH- Ali Basyar, perwakilan Majelis Ulama Nanggroe Aceh (MUNA), juga ikut andil dalam memberikan pandangan dan pemikiran tentang kondisi Islam di Aceh saat ini pada tausiyah di Makam Syiah Kuala, Banda Aceh, Kamis, 10 September 2015.

Katanya, berdasarkan musyawarah dan kesepakatan MUNA, HUDA, FPI dan para ulama lainnya, demi menegakkan dan mempertahankan Ahli Sunnah Waljamaah (Aswaja) di Aceh, maka mengambil sikap bahwa Masjid Raya Baiturrahman adalah milik Aswaja.

“Maka dari itu yang merasa tamu harus pindah. Karena menurut sejarah yang cukup lengkap masjid tersebut milik ulama Aceh. Oleh karena demikian, kami mengambil sikap dan menyusun program kerja, yaitu pada salat Jumat azan dua kali, khatib pegang tongkat,” kata Ali Basyar.

Ia melanjutkan, kejadian sedemikian rupa pada hari ini bukan tidak ada penyebab, melainkan sudah terdapat masalah saat itu. “Dikarenakan tidak mengindahkan keputusan ulama saat itu, maka sebentar lagi akan ada parade dan konvoi ke kantor gubernur pada hari ini. Apabila kali ini juga tidak diindahkan, maka akan terjadi lagi peristiwa yang lebih besar dibandingkan hari ini, ” katanya.

Katanya, usai penandatanganan oleh Abu Tu Blang Blahdeh, Waled Bakongan, Abu Kuta Krung, Gubernur, Sekda, dan Kapolda saat itu telah mengambil keputusan mendukung azan dua kali, khutbah muwalat (berturut-turut), dan khatib pegang tongkat.

“Namun hal yang menjadikan ‘Weuh Hate’ kita pada 14 Agustus 2015 terdapat perubahan atas keputusan yang telah ditandatangani tersebut. Berdasarkan itu, maka inilah sambungan atas perubahan yang mereka lakukan,” ujarnya.

Oleh karena hal tersebut, lanjutnya, Masjid Raya Baiturrahman harus diserahkan kepada ulama Aceh. Katanya lagi, lahirlah parade dan demo pada hari ini karena pihak pemerintahan tidak menghargai atas persetujuan saat itu.

“Hari ini bukan niat untuk macam-macam melainkan saling berdoa dan berusaha untuk menguatkan kembali Islam di Aceh sebagaimana yang telah dikuatkan oleh ulama sebelumnya,” ujar Ali Basyar. [] (mal)

Abi Lampisang: Sifat Orang Beriman Tegas dan Lugas

Abi Lampisang: Sifat Orang Beriman Tegas dan Lugas

BANDA ACEH- Perwakilan Front Pembela Islam (FPI) Aceh, Abi Lampisang, ikut memberikan pandangan dan pemikiran tentang kondisi Islam di Aceh saat ini pada tausiyah di Makam Syiah Kuala, Banda Aceh, Kamis, 10 September 2015.

Saat memulai tausiyah, ia mengawali dengan melontarkan beberapa pertanyaan kepada massa dengan menanyakan beberapa hal.

Bukankah ureung dron mandum ureung Islam? Bukankah ureung dron mandum ureung yang beriman? Bukankah ureung dron mandum ureung Islam? dan Bukankah ureung dron mandum ureung Aceh?” katanya kepada ribuan massa pagi tadi yang disambut dengan kata iya dan takbir Allahuakbar.

Oleh karena itu, kata Abi, tidak ada bangsa yang paling mulia di atas permukaan bumi Allah melainkan orang yang beriman.

“Sifat orang beriman tidak perlu menganggu orang lain, sifat orang beriman tidak menghina orang lain, tetapi sifat orang beriman adalah tegas dan lugas, berbicara dengan hebat sehingga semua lawan menakuti Qiyaul Mukmin dan Insya Allah kita akan menang dalam muka bumi ini,” ujarnya. [] (mal)