Tag: aswaja

Nahdlatul Ulama Aceh Launching Sekolah Tinggi Ilmu Syariah

Nahdlatul Ulama Aceh Launching Sekolah Tinggi Ilmu Syariah

JANTHO – Pimpinan Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Mahyal Ulum Al-Aziziyah, Teungku H. Faisal Ali, secara simbolis meresmikan kuliah perdana berbasis pesantren Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah Nadhlatul Ulama (STIS NU) Aceh, Senin, 5 Oktober 2015. STIS NU Aceh beralamat di Sibreh Suka Makmur, Aceh Besar.

“STIS NU ini merupakan satu-satunya sekolah tinggi di Aceh Besar yang mewajibkan mahasiswanya mondok di pesantren. Hal ini bertujuan mensingkronisasikan antara pendidikan kampus dengan pendidikan dayah, dimana mahasiswa selain mendapatkan ilmu di kampus juga dibekali ilmu agama di dayah,” ujar Teungku H Faisal Ali atau biasa dipanggil Lem Faisal dalam siaran pers yang dikirim oleh NU Aceh kepada portalsatu.com.

Lem Faisal mengatakan STIS NU ini juga memiliki nilai tambah dibanding sekolah-sekolah tinggi lainnya. Di antaranya, dengan perpaduan metodologi sains dan pengajian salafiyah, diharapkan mahasiswa mampu memahami kitab kuning di samping kompetensi akademik.

“Semoga dengan diresmikannya STIS NU ini, ke depannya mampu melahirkan lulusan mahasiswa yang bermutu dan berkompeten,” kata Lem Faisal.

Sementara itu, Ketua STIS NU Aceh, Teungku H. Muhammad Hatta, Lc., M.Ed, mengatakan kampus ini nantinya diharapkan akan mampu mencetak kader-kader hafiz.

“Kita ingin memperkenalkan bahwa perguruan tinggi harus memiliki landasan-landasan yang paling kokoh, yaitu landasan ahlussunnah wal jamaah,” katanya.

Dia mengharapkan generasi Aceh memiliki kualitas intelektual dan juga memiliki basis kedaerahan di masa depan dengan hadirnya kampus STIS NU Aceh ini.

“Ini merupakan sebuah gagasan untuk menghindari pemahaman yang selama ini, yang kerap jadi perbincangan di Aceh dengan berbagai berbagai persoalan, dan juga melahirkan kader-kader ulama yang berintelektual yang akan memberikan pemahaman ke masyarakat dan diharapkan mampu tampil di nasional dan internasional,” ujarnya.

Untuk tahun pertama, STIS NU Aceh sudah membuka dua pilihan jurusan yaitu S1 Hukum Ekonomi Syari’ah dan Hukum Keluarga berdasarkan surat izin dari Dirjen Pendidikan Tinggi Islam RI.

“Dengan Jumlah umlah Dosen yang mengajar berjumlah 14 orang yang ahli di bidangnya masing-masing serta dengan jumlah mahasiswa sebanyak 62 mahasiswa untuk kedua prodi tersebut,” ujarnya.[](bna)

Video: Pemerintah Aceh Tandatangani 13 Tuntutan Jamaah Aswaja

Video: Pemerintah Aceh Tandatangani 13 Tuntutan Jamaah Aswaja

BANDA ACEH – Wakil Gubernur Aceh, H. Muzakir Manaf atau kerap disapa Mualem menandatangani 13 tuntutan jamaah Ahlussunnah wal jamaah di Kompleks Makam Syiah Kuala, Banda Aceh, Kamis, 1 Oktober 2015. Sebelum menandatangani tuntutan tersebut, pria yang karib disapa Mualem ini meminta para jamaah untuk memenuhi masjid dan meunasah di setiap gampong di Aceh.

Neutem meu janji ngon lon? Meuhan han lon teken? (mau berjanji dengan saya? Kalau tidak, saya tidak mau menandatangani),” kata Mualem.

Neu meujanji bak tip-tip meunasah na jamaah, bek yang tuha-tuha mantong bak meunasah, tapi awak dron muda-muda yang mantong kong teuot. Nyan neu meujanji ngon lon. Ta kalon singoh, lon man saboh Aceh lon rawon, akan ta kalon u keu (berjanjilah di tiap-tiap meunasah terdapat jamaah, jangan sekadar yang tua-tua di meunasah, tapi Anda yang muda-muda yang masih kuat. Berjanjilah itu kepada saya. Kita lihat nanti, saya akan keliling seluruh Aceh, kita lihat nanti),” kata Mualem. (Baca: Mualem: Neu Meujanji Bak Lon, Bek yang Tuha-tuha Mantong Bak Meunasah)

Berikut video penandatanganan 13 tuntutan tersebut:

Ini Isi Tausiyah Saat Zikir Akbar di Makam Syiah Kuala

Ini Isi Tausiyah Saat Zikir Akbar di Makam Syiah Kuala

BANDA ACEH- Sejumlah ulama Aceh hari ini menghadiri zikir akbar dalam rangka meminta penandatangan tuntutan terkait penerapan ahlussunnah waljamaah yang ditujukan kepada Pemerintah Aceh di Makam Syiah Kuala, Banda Aceh, 1 Oktober 2015.

Dari DPR Aceh, Teungku Muharuddin yang diwakilinya mengatakan setiap manusia memiliki kesalahan, dan sebaik-baik kesalahan adalah orang-orang yang bertaubat dan mengikuti ahlussunnah waljamaah.

Perwakilan dari Majelis Permusyarawatan Ulama (MPU) Aceh, Teungku Haji Faisal Ali atau kerap disapa Abu Sibreh mengatakan tuntutan yang diajukan barisan ahlussunnah waljamaah bukan hal yang baru melainkan punya indatu.

“Butuh respon dan perhatian kepada hal ini karena di Aceh adalah orang-orang yang mayoritas ahlisunnah waljamaah dan bermazhab Imam Syafi’ie,” katanya.

Sementara itu, Teungku Ali Basyah mengatakan pandangannya bahwa sudah dari dahulu kala ‘Adat Bak Poetemereuhom, Hukom Bak Syiah Kuala’.

Nyoe keuh syiah kuala, ahlisunnah waljamaah, disinoe hukom serta jinoe kana qanun yang tertulis, peu yang harus ditakuti untuk menjalankan ahlusunnah waljamaah di bumi Aceh (Disinilah hukum, di syiah kuala serta sekarang sudah ada qanun yang tertulis, apa yang harus ditakuti untuk menjalankan Aswaja di Aceh),” kata Tengku Ali Basyah.

Juga Perwakilan Pantai Timur, Abah Tangke Kawat menjabarkan bahwa Islam adalah agama berkasih sayang dan terdapat tiga golongan yang akan menghancurkan Islam, yaitu orang yang melemahkan fisik orang Islam (imprealisme), orang yang menghancurkan aqidah orang Islam (misionaris) dan orientalis.

Agama Islam adalah agama kasih sayang, na lhee organisasi yang menghancurkan islam, mereka adalah imprealisme, orientalis, dan misionaris,” ujar Abah Tangke Kawat. [] (mal)

 Foto: Peserta zikir Aswaja.@Zahratil Ainiah/portalsatu.com

Teungku Bulqaini: Mualem Teken, Leupi Lam Hate

Teungku Bulqaini: Mualem Teken, Leupi Lam Hate

BANDA ACEH- Koordinator aksi, Teungku Bulqaini Tanjungan mengakui sangat senang pada hari ini karena dari pihak pemerintahan, dalam hal ini diwakili Muzakir Manaf untuk menandatangani tuntutan ulama Aceh dalam barisan Ahlussunnah Waljamaah di Makam Syiah Kuala, Banda Aceh, 1 Oktober 2015.

Nyoe leupi hate kamoe, sang-sang sibak eh bate, sang-sang rab bineh kolkah. Sang-sang lage u laot tawar keudeh leupi walaupun bak bineh laot Syiah Kuala. Senang that-that peulom wate geuteken bak ulee makam ulama Syiah Kuala ureung yang peutheun Ahlisunnah Waljamaah yoh masa dilee,” kata Tengku Bulqaini saat ditemui portalsatu.com usai penandatanganan.

Ia mengaku ini merupakan sebuah penghormatan karena Muallem menghadiri lokasi jamaah zikir dan menandatangani di kepala kuburan ulama Syeh Abdurrauf As Singkili atau makam Syiah Kuala.

“Terimakasih paleng lambong dari kamo yang tergabung dalam gerakan agama dan masyarakat pencinta Ahlisunnah Waljamaah kepada Muallem,” ujarnya. Dengan harapan usai penandatanganan ini berjalan dengan baik dan semestinya.

Geutanyoe ta harapkan nyoe beu beutoi-beutoi gelaksanakan dan geutanyoe pih mengerti oeh wate geuteken nyoe koen semudah lage tabalek telapak jaroe. Tapi lon yakin karena memang Muallem yang jiwa gobnyan ureung Ahlisunnah Waljamaah apalagi uroenyoe leu chit ureung-ureung gobnyan yang hadir keunoe lage mantan kombatan yang hadir keunoe bak uroenyo,” kata Teungku Bulqaini.

Terlebih, katanya, Muallem yang mengatakan sendiri bahwa hal yang dilakukannya pada hari ini adalah wasiat dari alamarhum Wali Nanggroe, Hasan Tiro.

Dan nyoe pih bunoe Muallem peugah keudroe, nyoe adalah wasit almarhum Wali Nanggroe, Hasan Tiro awai,” ujar Teungku Bulqaini.

Zikir Akbar di Makam Syiah Kuala, Ulama Aswaja Sampaikan Tuntutan Kepada Pemerintah Aceh

Zikir Akbar di Makam Syiah Kuala, Ulama Aswaja Sampaikan Tuntutan Kepada Pemerintah Aceh

BANDA ACEH – Massa dari berbagai kalangan memadati kompleks Makam Syiah Kuala, Banda Aceh, Kamis, 1 Oktober 2015, sejak pukul 07.50 WIB. Kedatangan mereka untuk mengikuti zikir akbar yang digelar oleh sejumlah ulama Aceh dalam barisan ahlussunnah wal jammaah.

Massa tersebut datang dari berbagai pelosok Aceh seperti Aceh Barat Daya, Aceh Timur, Aceh Utara, Banda Aceh dan Aceh Besar tersebut. Hal ini diketahui dari plat kendaraan sejumlah angkutan roda empat yang mereka tumpangi dan berbaris rapi di badan jalan.

Kegiatan zikir akbar dimulai sekitar pukul 08.30 WIB. Rencananya, usai zikir massa akan bergerak ke kantor Gubernur Aceh untuk menuntut 12 poin seperti pada kegiatan sebelumnya.

Namun hal tersebut urung dilaksanakan. Pasalnya, Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf, hari ini menjumpai massa di lokasi pelaksanaan zikir akbar di Kompleks Makam Syiah Kuala, Banda Aceh.

“Insya Allah akan hadir dari pemerintahan, nyo aksi yang kedua,” kata salah satu panitia kegiatan, Teungku Muslim.

Dia mengatakan akan membawa massa lebih banyak jika tuntutan mereka tidak dipenuhi oleh Pemerintah Aceh. Teungku Muslim mengatakan banyak jamaahnya yang tidak bisa hadir lantaran ada yang menghalangi mereka. Di sisi lain, kata dia, ada juga massa dari dayah yang masih berada di kampung halaman masing-masing karena sedang liburan Idul Adha.

Pantauan portalsatu.com di lokasi terlihat beberapa ulama dayah di Aceh, pimpinan dayah dari pelosok Aceh dan utusan Kapolda.

Insya Allah pemerintah uroe nyoe hadir, nyo hana geujak, tanyo ta jak keudeh ta preh pemerintah tanyoe, meunyo hana gob nyan, ta preh pajan-pajan yang na,” ujar Teungku Muslim.

Dia juga mengungkapkan kenapa parade Aswaja dimulai dari Kompleks Makam Syiah Kuala. “Karena beu berkat, supaya tidak ada provokator,” katanya.

Amatan portalsatu.com, Wakil Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, baru tiba di lokasi sekitar pukul 09.45 WIB. Dia langsung naik ke atas panggung utama bersama para ulama dayah seperti Teungku Muslim dan Tu Bulqaini Tanjungan untuk mendengarkan tuntutan massa.[]

Teungku Muhammad Nur: Jangan Salahkan Ulama Kalau Harus Turunkan Gubernur yang Tidak Pro Syariat

Teungku Muhammad Nur: Jangan Salahkan Ulama Kalau Harus Turunkan Gubernur yang Tidak Pro Syariat

BANDA ACEH – Alumni Dayah Darul Ulum Tanoh Mirah, Kabupaten Bireuen, Teungku Muhammad Nur, mengatakan parade Aswaja susulan pada 1 Oktober 2015 merupakan sebuah gerakan moral bukan gerakan politik, yang bekerja untuk meluruskan iktikad ahlussunnah wal jamaah sesuai dengan tuntunan Alquran dan Al hadis, Ijma dan Kias.

“Parade ini harus dilakukan terus hingga tumbangnya kezaliman dan tegaknya sebuah kebenaran yang menggambarkan keseluruhan peradaban Islam di Aceh,” kata Teungku Muhammad Nur, kepada portalsatu di salah satu Warkop di Banda Aceh, Rabu 30 September 2015. [Baca: Ulama Aceh Akan Lakukan Parade Susulan?]

Katanya, Aceh membutuhkan pemimpin yang melaksanakan syariat, bukan menghancurkan hampir semua tatanan kehidupan masyarakat.

“Kita harus turunkan siapa pun, tak terkecuali gubernur kalau tidak mendukung tegaknya syariat Islam kaffah di Aceh,” katanya.

“Jangan salahkan ulama kalau harus turunkan gubernur yang tidak pro syariat. Tuntutan parade pertama ada sejumlah poin yang harus dicapai, tapi tak satupun dijalankan, makanya ada parade susulan,” ujarnya lagi.

Katanya, perjuangan yang dilakukan ulama dayah ini telah dilakukan puluhan tahun.

“Itu demi agama dan kebenaran bukan demi pangkat dan jabatan. Tanpa peunutoh ulama tidak ada yang mau melakukan perjuangan dan jangan sampai hari ini. Alquran, Alhadis, ijma dan kias yang merupakan keyakinan yang sudah mendarah daging bagi ulama mau ditinggalkan dan kita harapkan tidak ada Islam gaya baru yang mengurangi sunnah Rasulullah SAW di Aceh,” kata Teungku Muhammad Nur. [] (mal)

“Nyoe Kepentingan Agama, Bek Jak Peugah Lon Pendampeng Mualem Pilkada 2017”

“Nyoe Kepentingan Agama, Bek Jak Peugah Lon Pendampeng Mualem Pilkada 2017”

BANDA ACEH- Sejumlah ulama di Aceh, akan kembali menggelar parade dan zikir akbar di Makam Syiah Kuala, Kamis 10 September 2015. Parade susulan ini karena tuntutan pada kegiatan serupa sebelumnya dianggap tak dijalankan oleh Pemerintah Aceh.

Gerakan nyoe beutoi-beutoi untuk kepentingan agama, koen kepentingan politik. Apabila na yang peugah kamoe nyoe untuk kepentingan Pilkada 2017 ukeu, nyan hana urusan ngoen kamoe,” kata koordinator aksi, Teungku Bulqaini Tanjungan saat dihubungi portalsatu.com, Selasa malam, 29 September 2015.

Pihaknya, melakukan ini untuk kepentingan agama, namun siapa yang mengambil keuntungan hal itu terlepas dari kegiatan tersebut.

Man soe yang cok keuntungan nyan han ek meupike lee kamoe. Lage ureung peugot dakwah, na laba awak meukat kacang dan jagong, pane na urusan kamoe nyan. Meunyoe meunan, ngak bek na laba awak meukat kacang, bek tapeuduk lee dakwah, ka koen nyan, meunan cit nyoe,” kata Bulqaini.

Katanya, walaupun kadang ada sebagian orang mengambil keuntungan dan manfaat politik pada gerakan yang mereka lakukan namun hal itu tidak ada kaitannya dengan para ulama.

Nyan terserah ureung nyan, pane na meu urusan ngoen kamoe. Na yang peugah lom, nyoe kepentingan lon meujak ek ke wakil gubernur 2017 mendampingi Muzakir Manaf atau Mualem, lon meu lon tupeu pih tan, lon hana kaoi jak ek nyan, nyan koen mandum neutulong informasikan siat,” ujar Bulqaini. [] (mal)

Teungku Bulqaini: Peu Han Susulan, Pemerintah Kloe Prit!

Teungku Bulqaini: Peu Han Susulan, Pemerintah Kloe Prit!

BANDA ACEH- Alasan terjadinya parade susulan yang dibuat oleh ulama yang tergabung dalam HUDA, MUNA, dan FPI pada 1 Oktober 2015 mendatang karena pemerintah belum mengerjakan dan menjalankan apa yang diharapkan oleh para ulama.

Hai peu han susulan, karena pemerintah hana geupubut lom peu yang kaleuh kamoe lake, pemerintah hana geudeungoe, pemerintah kloe prit. Nyankeuh kali nyoe yang na Pemerintah Aceh yang hana deungoe haba ulama,” kata koordinator aksi, Teungku Bulqaini Tanjungan saat dihubungi portalsatu.com, Selasa sore, 29 September 2015.

Pemerintah waktu masa sebelum Zikir, kata Bulqaini, setidaknya mendengar apa yang dikatakan ulama, namun sekarang ini sudah berdasarkan pada UUPA. “Lebeh-lebeh gubernur, Zaini Abdullah yang hantem menjalankan fatwa ulama MPU,” katanya.

Bulqaini melanjutkan, dari kedua belas poin yang diajukan saat parade sebelumnya, hal yang sangat penting adalah poin ke enam karena akan terjadi kedepan perpecahan ummat dengan kehadiran salafi, wahabi, dan syiah serta mereka mengkafirkan tata cara ibadat orang-orang Aceh.

Peu-peu ka bid’ah bak awaknyan dan aqidah awaknyan bertentangan dengan aqidah ureung Aceh. Awak salafi wahabi dipeugah dan dii’tikeud Allah diateuh ‘arasy. Sedangkan Ahlussunnah Waljamaah yang na di Aceh geui’tikeud Allah bersifet Wujud tetapi Allah hana memerlukan kepada tempat,” ujarnya.

Masalah salafi nyoe kon masalah furu’ tetapi nyoe adalah masalah usul, masalah pokok aqidah, maka kamoe membangunkan nyoe supaya peu yang kaleuh terjadi lage di Suriyah dan Yaman bek terjadi di Aceh,” kata Bulqaini.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Ahlussunnah Waljamaah meminta Pemerintah Aceh maupun Pemerintah Pusat untuk merealisasikan ke-12 butir berikut:

  1. Meminta agar pemerintah Aceh mengatur sejumlah peraturan di Aceh berdasarkan mazhab imam syafi’ie dan Ahli Sunnah Waljamaah.
  2. Menyerahkan posisi imam besar, dan imam rawatib serta segala yang menyangkut dengan ibadah dan pengajian di Masjid Baiturrahman Banda Aceh kepada ulama Aceh yang bermazhab Syafi’ie.
  3. Meminta kepada pemerintah Aceh agar pengelolaan Masjid Raya Baiturraman dibawah kontrol wali nanggroe Aceh.
  4. Meminta kepada pemerintah Aceh menyerahkan muzakarah ulama mengenai tata cara ibadah di masjid raya kepada Majelis Permusyawaratan Aceh dan menolak dilaksanakan oleh pihak lain.
  5. Meminta kepada pemerintahan Aceh untuk mencabut izin operasional dan tidak mengizinkan pendirian sekolah dan lembaga Islam lainnya di Aceh yang bertentangan dengan mazhab Syafi’ie dan bertentangan dengan aqidah Ahli Sunnah Waljamaah (asy’ariyah dan mathudiniah)
  6. Mendesak pemerintah Aceh untuk memberhentikan aktivitas salafi wahabi, syiah, komunis, dan aliran-aliran sesat lainnya di seluruh Aceh.
  7. Meminta pemerintah Aceh agar setiap kegiatan keagamaan wajib mendapatkan rekomendasi dari Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh.
  8. Meminta kepada pemerintahan Aceh agar tidak menempatkan kepala SKPA dan ketua badan dijajaran pemerintah Aceh yang tidak paham Ahli Sunnah Waljamaah.
  9. Meminta kepada pemerinatahan pusat untuk mempercepat realisasi tuntunan butir-butir MOU Helsinki dan UUPA.
  10. Mendesak pemerintahan Aceh dan pemerintahan pusat untuk menjalankan Qanun Aceh Nomor 8 Tahun 2012 tentang lembaga wali nanggroe.
  11. Menolak intersensi pemerintahan Aceh terhadap Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh serta wajib menjalankan setiap fatwa yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Aceh.
  12. Meminta kepada pemerintah Aceh untuk menjalankan Qanun Jinayat dan Qanut acara Jinayat secepatnya.
  13. Apabila tuntutan ini tidak diindahkan atau dilaksanakan maka kami masyarakat pencinta Ahli Sunnah Waljamaah akan datang kembali dengan jumlah massa yang lebih besar. [] (mal)
Ulama Aceh Akan Lakukan Parade Susulan?

Ulama Aceh Akan Lakukan Parade Susulan?

BANDA ACEH- Sejumlah ulama yang tergabung dalam HUDA, MUNA, LPI dan FPI melakukan parade susulan pada 1 Oktober 2015 mendatang. Hal tersebut dilakukan karena permintaan dari mereka (Ahlussunnah Waljamaah) belum terpenuhi.

Koordinator umum, Teungku Bulqaini Tanjungan mengatakan pada Kamis mendatang akan ada zikir akbar di Makam Syiah Kuala, Banda Aceh sekaligus melakukan parade dengan jumlah massa yang belum diketahui.

Iya beutoi, pada tanggal 1 Oktober 2015 nyoe kamoe akan melakukan zikir akbar di Makam Syiah Kuala, dan sambilan wate woe ta parade laju sekalian tetapi hana loen tuoh kheun kalinyoe padum droe massa jih,” kata Teungku Bulqaini saat dihubungi portalsatu.com, Selasa, 29 September 2015.

Namun kali ini semua turun termasuk masyarakat. “Kalinyoe mandum-mandum masyarakat juga akan ikot karena santri dayah gohlom balek ke dayah mantoeng pre uroe raya,” katanya.

Menurut Bulqaini, tidak ada yang membedakan antara parade sebelumnya dengan yang akan datang karena permasalahannya tetap sama. Namun target yang ingin dicapai kali ini adalah hal yang sangat urgent yaitu pemerintah harus menandatangani fatwa Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh yang berisikan tentang pemerintah Aceh agar memberhentikan aktivitas salafi wahabi, syiah, komunis, dan aliran-aliran sesat lainnya yang berada di seluruh Aceh.

“Dari 12 item yang kami mintakan saat itu yang sangat urgent adalah masalah terkait pendangkalan akidah, pemahaman, pemikiran, penalaran dan penyiaran agama Islam di Aceh,” ujar Tengku Bulqaini.

Foto: Teungku Bulqaini yang pegang Microfon.@Zahra/portalsatu.com

Mengenal “Mazhab” Salafi-Wahabi

Mengenal “Mazhab” Salafi-Wahabi

MOBILISASI belasan ribu massa dalam parade Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di Banda Aceh pada 10 September 2015 telah menimbulkan kebingungan bagi sebagian kalangan di Aceh, tidak hanya masyarakat awam tetapi juga bagi birokrat dan akademisi. Betapa tidak, dalam pawai tersebut massa menolak kehadiran Wahabi, Syiah dan PKI serta aliran lainnya di Aceh. Namun yang paling banyak dipertanyakan kalangan masyarakat di media sosial adalah siapa Wahabi sebenarnya.

Tulisan yang ringkas ini mencoba memahami siapa Wahabi yang dipahami oleh para inisiator parade Aswaja tersebut dengan penuh kehati-hatian agar tidak “dituduh” memperkeruh suasana menjelang Hari Raya Idul Adha 1436 H. Sebenarnya sudah lumayan banyak buku dan karya tulis lainnya yang membahas siapa Wahabi dan bagaimana kiprah sejak kelahirannya. Tentunya berbagai tulisan tersebut tidak luput oleh sanggahan dari kalangan Wahabi sendiri, tidak terkecuali tulisan yang ringkas ini. Namun sepatutnya kita menilai mana yang lebih objektif.

Muhammad bin Abdul Wahab
Muhammad bin Abdul Wahab

Salafi-Wahabi adalah suatu aliran yang dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahab yang dilahirkan pada tahun 1115 H/1701 M. Muhammad bin Abdul Wahab kemudian disebut sebagai pembaharu (mujaddid) dan melakukan pergerakan yang mengklaim sebagai pemurnian aqidah.

Tokoh ini juga menulis puluhan makalah dan kitab yang kemudian sebagiannya mendapat syarahan dari pengikutnya, di antara kitab yang ia tulis berjudul Kasfu asy Syubhat di mana Muhammad membagi tauhid menjadi tiga, yaitu tauhid Rububiyah, tauhid Uluhiyyah dan tauhid Asma’ was Shifat. Pembagian ini juga berpedoman kepada Alquran namun ia telah keliru dalam memahaminya.

Pembagian dan membedakan tauhid Rububiah (Rab) dan tauhid Uluhiyah (Ilah) telah menimbulkan pernyataan bahwa semua orang-orang murtad, kafir dan orang-orang musyrik yang mengakui Allah sebagai pencipta dan pengatur alam sama dengan orang-orang mukmin dalam tauhid Rububiyyah. Sebaliknya seorang muslim yang melakukan ziarah kubur, tawwassul, tabarruk, istighasah diklaim tidak bertauhid Uluhiyyah karena ibadahnya tidak lagi murni kepada Allah.

Implikasinya kemudian adalah mengkafirkan atau memusyrikkan orang-orang Islam yang melakukan beberapa ibadah ini, meskipun perkara ini sudah ada tuntunan dari Rasulullah, Sahabat dan Ulama salaf berdasarkan hasil ijtihad. Muhammad bin Abdul Wahab mengatakan bahwa: “Pengakuan mereka dengan tauhid Rububiah saja tidak tergolong mereka dalam Islam. Dan bahwa kasad mereka akan Malaikat, Nabi dan Aulia Allah yang mereka inginkan syafat dan dekat kepada Allah dengan demikian telah mengakibatkan halal darah dan harta mereka” (Kasfu asy Syubhat, hal. 13).

Kalau kita kaji pendapat tokoh pengikut Wahabi, sebagian mereka mengakui bahwa pembagian tersebut merupakan suatu kreasi yang memang tidak ditemukan pada masa Rasulullah, era Sahabat dan Ulama generasi salaf, tujuaannya cuma untuk memudahkah pemahaman. Menurut mereka hal ini sebagaimana pembagian wahdaniah (keesaan) Allah menurut pemahaman pengikut Imam Asy’ari kepada tiga, yaitu wahdaniah pada zat, pada sifat dan pada perbuatan.

Sebagian pengikut Wahabi membantah bahwa pembagian tiga tauhid bukan perkara baru tapi istilah ini juga sudah dikenal sebelum masa Ibnu Taimiah.

Syaikh Prof. DR. Abdur Rozzaq bin Abdul Muhsin Al Abbad
Syaikh Prof. DR. Abdur Rozzaq bin Abdul Muhsin Al Abbad

 

Seorang ulama Wahabi yang juga Guru Besar Aqidah di Universitas Islam Madinah, Syaikh Prof. DR. Abdur Rozzaq bin Abdul Muhsin Al Abbad menjelaskan makna ucapan Imam Hanafi dalam bukunya Al-Qoulus Sadid ‘ala Man Ankara Taqsima At-Tauhid: ‘Tidak ada yang serupa dengan-Nya,’ ini bagian dari tauhid Asma’ was Shifat. Dan ucapan beliau, ‘Tidak ada yang bisa melemahkan-Nya,’ ini bagian dari tauhid Rububiyah. Dan makna ucapan beliau, ‘Tidak ada yang berhak disembah selain-Nya,’ bagian dari tauhid Uluhiyah, adalah suatu penjelasan yang sangat dipaksakan olehnya, karena Imam Hanafi tidak menjelaskan demikian.

Kalaupun para ulama salaf ada menyebutkan istilah Rububiyah dan Uluhiyah seperti yang termuat dalam Kitab At Tauhid karya Imam Al Maturidi maka ini bukan berarti ingin membedakan kedua istilah Rububiyah dan Uluhiyyah, karena cukup banyak ayat dan hadist yang tidak membedakan Rububiyah dengan Uluhiyah seperti dalam surat Al A’raf ayat 172, Al An’am ayat 80 dan asy Syu’ara ayat 26.

Kembali kepada Alquran dan Hadist

Wahabi Salafi juga sering menggembor-gemborkan untuk kembali kepada Alquran dan Hadist dan mereka juga mengakui sebagai pengikut mazhab dan pengikut ulama salaf. Suatu pernyataan yang benar secara teorinya tetapi telah keliru pada aplikasinya. Mungkinkah ummat yang hidup di akhir zaman dengan keterbatasan ilmu mampu memahami langsung Alquran dan Hadist?

Bagaimana maksud mengikuti mazhab, apakah dengan mempelajari dan mengamalkan salah satu atau sebagian isi kitab yang ditulis Imam Mujtahid seperti Imam Hanafi, Malik, Syafii dan Hambali maka dianggap telah mengikuti mazhab. Ini yang sering keliru dipahami oleh Wahabi yang mengklaim dirinya sebagai pengikut ulama salaf (salafi). Bahkan mereka mengutip pendapat Imam Mazhab dan kemudian membenturkan dengan pendapat pengikutnya. Seolah-olah Aswaja bukan pengikut mazhab karena tidak berpedoman langsung kepada kitab-kitab yang ditulis langsung Imam Mazhab.

Kalau kita telusuri dalam berbagai kitab mazhab yang empat, maka kita akan menemukan metode ijtihad yang sangat rumit sehingga ada beberapa level mujtahid dalam melakukan ijtihad, meskipun berbeda penggunaan istilahnya, secara umum level-level para mujtahid itu adalah: Mujtahid Muthlaq Mustaqil (memiliki kemampuan untuk merumuskan kaidah-kaidah fiqih berdasarkan kesimpulan dari pengkajian dalil Alquran dan Sunnah), Mujtahid Mutlaq Muntasib (memenuhi persyaratan dalam berijtihad secara mandiri namun mereka belum merumuskan kaidah sendiri tetapi hanya mengikuti metode imam mazhab dalam berijtihad), Mujatahid Muqayyad (memiliki kemampuan untuk mengqiaskan keterangan-keterangan yang disampaikan oleh Imam Mazhab, untuk memecahkan permasalahan baru yang tidak terdapat dalam keterangan-keterangan ulama mazhab).

Level mujtahid selanjutnya adalah Mujtahid Takhrij (ulama yang men-takhrij beberapa pendapat dalam mazhab. Kemampuan memahami landasan mazhab telah menjadi bekal bagi mereka untuk menguatkan salah satu pendapat), Mujtahid Tarjih (memiliki kemampuan memilih pendapat yang lebih benar dan lebih kuat, ketika terjadi perbedaan pendapat pada satu hukum antara imam dengan muridnya dalam satu mazhab) dan Mujtahid Fatwa (para ulama yang memahami pendapat mazhab, serta menguasai segala penjelasan dan permasalahan dalam mazhab, sehingga mereka mampu memenentukan mana pendapat yang paling kuat, agak kuat, dan lemah.

Namun, mereka belum memiliki kepiawaian dalam menentukan landasan qias dari mazhab). Level selanjutnya sebagai Muqallid (mengikuti hasil ijtihad yang telah ada).

Level ini memberikan gambaran bagi kita bahwa begitu rumitnya ber-ijtihad langsung dari Alquran dan Hadist serta memahami langsung pendapat Imam Mazhab kalau tidak memiliki kapasitas ilmu yang mumpuni sesuai tingkatan.

Sudah seharusnya kita menjadi pengikut salah satu mazhab sesuai kapasitas ilmu yang kita miliki. Namun bagi masyarakat Aceh untuk mengingat 21 wasiat pendiri kesultanan Aceh pada pada tanggal 12 Rabiul ‘Awal 913 H/23 Juli 1507 M, di antaranya agar terus berpedoman kepada mazhab ahlu-sunnah wal Jamaah dan bermazhab Imam Syafi’i di dalam sekalian hal ihwal hukum syariat. Maka mazhab yang tiga itu apabila mudarat maka dibolehkan dengan cukup syarat. (www.atjehcyber.net, edisi 15 May 2011).

Oleh karena itu, maka pemahaman Wahabi dalam masalah tauhid dan ibadah, sebagiannya berbeda dengan pemahaman masyarakat Aceh secara umum. Perbedaan ini bukan persoalan khilafiah seperti perbedaan pendapat antara empat Imam Mazhab Ahlussunnah wal Jamaah sehingga sangat berpeluang terjadi pergesekan kalau tidak ditemukan solusinya.

Maka seharusnya Aceh kembali memiliki mazhab resmi dalam hal aqidah, ibadah dan tasauf seperti masa silam untuk menghindari perpecahaan ummat dan ini juga dipraktekkan beberapa negara Islam saat ini seperti Iran, Arab Saudi dan Brunai Darussalam. Bagi pribadi yang beramal di luar mazhab resmi agar dibuat aturan tersendiri. Selamat Hari Raya Idul Adha, semoga umat Islam di Aceh akan terus bersatu dalam keridhaan Allah SWT dan kembali menuju masa kejayaan sebagaimana masa silam. Insya Allah.[]

Penulis adalah Teungku Mukhtar Syafari Husin, MA. Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat-Gerakan Intelektual se-Aceh (DPP-GISA), alumnus Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan alumnus Dayah MUDI – IAI Al-Aziziyah Samalanga.