Tag: analisis kesalahan bahasa indonesia

Berbahasa Jangan Boros

Berbahasa Jangan Boros

Berbahasa, baik secara lisan maupun tulisan, seharusnya mengutamakan kehematan. Tujuannya agar komunikasi lebih efektif. Bila itu dilakukan, tentu saja tidak ada kata yang sia-sia dan terkesan bertele-tele. Begitu pula dari segi pendengar atau penerima pesan, semua yang dia dengar atau baca merupakan kata yang benar-benar diperlukan. Faktanya tak demikian. Sebagian kita banyak memboroskan kata ketika berkomunikasi. Akibatnya, banyak waktu terbuang, begitu pula biaya.

Pemborosan dalam berbahasa sebenarnya juga banyak ragamnya. Namun, dalam tulisan kali ini, saya menspesifikkan pembahasan pada dua hal, yaitu penggunaan kata yang maknanya sama dan kata yang sebenarnya tidak diperlukan. Kata yang bermakna sama maksudnya penggunaan dua kata atau lebih yang memiliki kesamaan arti atau masih memiliki relasi arti yang sama meski bentuknya yang berbeda. Adapun kata yang sebenarnya tidak diperlukan maksudnya adalah kata itu tidak mengganggu kegramatikalan kalimat, tetapi tidak dibutuhkan karena tanpanya kalimat itu masih berterima.

Anda barangkali pernah menggunakan atau mendengar orang memakai kata adalah yang disertai dengan merupakan dalam kalimat, misalnya “Tujuan diutusnya Nabi Muhammad ke dunia adalah merupakan untuk memperbaiki akhlak manusia.” Karena sama-sama dapat dipakai untuk mendefinisikan sesuatu, pemakaian adalah dan merupakan secara berdampingan dapat digolongkan sebagai pemborosan. Seharusnya salah satu kata itu yang harus dipakai, bukan kedua-duanya. Jadi, pada kalimat di atas, kata yang digunakan hanya adalah atau merupakan.

Begitu pula ekskombatan, misalnya. Eks pada kombatan berarti ‘mantan’. Dengan demikian, karena telah bermakna ‘mantan’, tidak tepat alias pemborosan jika kata mantan digunakan lagi mendampingi kata eks, yaitu mantan ekskombatan.

Dalam kasus yang lain, misalnya, pada pemakaian kata bermakna ‘jamak’, misalnya banyak dan para. Pemborosan semakin diperparah dengan pengombinasian kedua kata itu dengan kata ulang yang juga bermakna ‘jamak’. Sebagai contoh, “Banyak para pegawai-pegawai tidak masuk kerja hari ini karena meliburkan diri.” Pada kalimat itu, selain banyak dan para, pegawai-pegawai juga bermakna ‘jamak’ (lebih sari satu). Seharusnya, di antara ketiga kata itu, cukup salah satu saja yang dipilih, boleh banyak, para, atau pegawai-pegawai sehingga menjadi banyak pegawai, para pegawai, atau pegawai-pegawai.

Kata ulang yang bermakna ‘saling’ juga sering disertakan penggunaannya dengan kata ‘saling’, misalnya pada saling pukul-memukul. Bentuk seperti ini sebenarnya masih dapat dihemat lagi dengan menggunakan kata saling atau kata ulangnya saja, pukul-memukul sehingga menjadi saling memukul atau pukul-memukul tanpa menggunakan kata saling. Ini dilakukan karena pukul-memukul memang bermakna ‘saling’ sehingga tak perlu dieksplisitkan kembali kata saling.

Adalah dan merupakan, selain digunakan secara berdampingan, juga sering dipakai dalam kalimat yang sebenarnya tidak membutuhkan kata itu. Bila adalah tidak pakai, keutuhan kalimat masih tetap terjaga. Kata adalah dalam kalimat “Dia adalah orang tua saya”, misalnya, tidak perlu digunakan atau dihilangkan saja karena tanpanya kalimat itu masih tetap benar secara kaidah. Begitu pula dengan kalimat, “Komputer merupakan alat tercanggih di zaman sekarang.” Ini dapat diperhemat dengan menghilangkan kata merupakan.

Kesalahan yang mirip dengan itu dapat pula dilihat dalam kalimat seperti ini, “Guru harus mampu membuat jadi pintar peserta didiknya.” Kalimat ini sebenarnya masih dapat diperhemat lagi dengan menghilangkan kata membuat jadi, lalu melekatkan imbuhan me- pada kata pintar dan menempatkan akhiran –kan setelahnya. Setelah pengubahan seperti yang saya jelaskan itu, kalimat menjadi “Guru harus mampu memintarkan peserta didiknya”.

Ada banyak jenis pemborosan kata lain yang dapat ditemukan dalam berbagai tulisan. Sejatinya, pemborosan itu tidak perlu terjadi agar komunikasi benar-benar efektif. Cermatlah dalam menulis agar kita dapat menghemat kata. Ingat, jangan boros dalam berbahasa![]

Tahanan Kejar-Kejaran dengan Polisi?

Tahanan Kejar-Kejaran dengan Polisi?

Tahanan Kejar-Kejaran dengan Polisi. Inilah salah satu judul pada salah satu harian lokal di Aceh. Judul ini cukup “memantik” ruh kebahasaan saya dan mendorong saya untuk menuliskannya melalui media online ini.

Sepintas, tak ada yang salah dengan judul itu. Namun, jika kita meluangkan waktu dan melihat dengan saksama, kesalahan pada judul itu dapat diketahui.

Apa yang salah? Mungkin di antara pembaca bertanya demikian. Dilihat secara struktur, kalimat itu benar. Akan tetapi, mari kita lihat dari segi makna. Saya tidak akan mengupas makna setiap kata dalam judul itu. Fokus saya hanya pada kata kejar-kejaran.

Kata tersebut secara bahasa diklasifikasikan sebagai kata ulang. Kata yang juga sering diistilahkan dengan reduplikasi itu, sebagaimana halnya kata lain, memiliki makna. Penelusuran makna tentu saja berdasarkan konteks kalimat meski ada yang menentukan makna kata ulang secara terpisah, bukan dalam kalimat.

Lantas, secara konteks kalimat, apa makna kejar-kejaran pada judul di atas? Tak diragukan lagi, kata ulang tersebut bermakna ‘saling’. Karena bermakna ‘saling’, paling tidak ada dua komponen makna saling. Pertama, saling merupakan tindakan yang membutuhkan minimal dua pelaku. Kedua, tindakan yang dilakukan terjadi secara timbal balik. Artinya, pelaku pertama melakukan suatu tindakan pada pelaku kedua, begitu sebaliknya, pelaku kedua membalas tindakan itu.

Bila kita lihat pada komponen makna yang pertama, tampaknya tak ada masalah. Pada kalimat itu pelaku terdiri dari dua bagian, yaitu tahanan dan polisi. Persoalan kemudian muncul jika kejar-kejaran dikaitkan dengan komponen makna kedua. Bila dikatakan tahanan kejar-kejaran dengan polisi, hal itu berarti bahwa perbuatan kejar-kejaran itu terjadi secara timbal balik, polisi mengejar tahanan, lalu berganti tahanan mengejar polisi. Mungkin juga, tahanan mengejar polisi, lalu polisi mengajar tahanan.

Itulah hakikat makna sebenarnya dari judul di atas jika digunakan kata kejar-kejaran. Sekarang kaitkan dengan logika berbahasa. Mungkinkah tahanan mengejar polisi, lalu polisi mengejar tahanan? Rasanya logika belum bisa menerima hal itu. Ini karena logika menafsirkan, bila tahanan mengejar polisi, tentu kejadian itu sangat diharapkan oleh polisi karena polisi tak perlu bersusah-payah menguras tenaga mengejar tahanan. Ia hanya menunggu tahanan saja karena tahanan mengejarnya. Jika begitu, yang diuntungkan adalah polisi, tetapi musibah bagi tahanan karena ia ditangkap kembali dan dijebloskan ke penjara.

Ketika saya membaca substansi berita, tak ada satu pun kalimat yang mengatakan tahan mengajar polisi, selain polisi yang mengejar tahanan. Dengan demikian, tampak pada judul di atas, logika berpikir yang kacau dan sudah seharusnya diperbaiki. Agar benar secara makna dan tentunya logika, kalimat itu harus ditulis menjadi “Tahanan Dikejar oleh Polisi” atau “Polisi Mengejar Tahanan”.

Mari berbahasa Indonesia yang baik dan benar![]

Bukan Komoditi

Bukan Komoditi

Bahasa Indonesia, sebagaimana bahasa-bahasa lain di dunia ini, tidak memiliki kosakata yang lengkap. Oleh karena itu, dalam bahasa Indonesia cukup banyak kosakata dari berbagai bahasa.

Dilihat dari segi sistem penulisan, ada perbedaan antara bahasa Indonesia dan bahasa asing. Perbedaan itu tentu saja disebabkan oleh aturan penulisan yang berbeda dari masing-masing bahasa. Karena perbedaan itu, ketika bahasa asing itu digunakan dalam bahasa Indonesia, sistem penulisannya harus mengikuti aturan penulisan yang ditetapkan dalam bahasa Indonesia. Penyesuaian penulisan dianggap perlu dilakukan agar mudah diucapkan oleh para penutur bahasa Indonesia.

Aturan penulisan ini dikenal dengan kaidah penyerapan. Kaidah ini telah dikemas dalam Ejaan yang Disempurnakan (EyD). Jika Anda buka, ada banyak kaidah penyerapan dari bahasa asing di dalamnya dan ini dapat menjadi pedoman bagi siapa saja yang menulis.

Meski telah ada aturan tentang itu, cukup banyak orang yang tak acuh terhadapnya. Sebut saja misalnya kata komoditi. Paling ini paling sering dipakai meskipun sebenarnya salah. Lantas, bagaimana penulisan yang benar?

Kata tersebut berasal dari bahasa Inggris, commodity. Karena merupakan bahasa asing, penulisannya ke dalam bahasa Indonesia haruslah disesuaikan. Penyesuaian itu harus mengikuti kaidah penyerapan bahasa Indonesia.

Dalam kaidah itu disebutkan, apabila di depan c terdapat vokal o, huruf c menjadi k, sedangkan mm cukup ditulis satu saja. Penyesuaian selanjutnya adalah pada ty. Bentuk ini, sesuai dengan kaidah penyerapan, menjadi tas sehingga terbentuklah kata serapan dalam bahasa Indonesia, yaitu komoditas. Maka, tidak benar bila kata itu ditulis komoditi.

Ada banyak kata dengan kaidah penyerapan yang sama seperti ini dalam bahasa Indonesia. Di antara kata-kata itu adalah kreativitas, universitas, aktivitas, realitas, stabilitas, efektivitas. Semua kata itu telah disesuaikan penulisannya. Bentuk asli kata-kata itu adalah creativity, university, activity, reality, stability, effectivity. Pada praktiknya, kata-kata bahasa Inggris itu sering ditulis seperti ini, kreativiti, universiti, aktiviti, realiti, stabiliti, efektiviti. Penulisan dengan cara seperti ini tentu saja tidak benar.

Yang kadang-kadang juga terabaikan adalah dalam penulisan kreativitas dan aktivitas. Dua kata ini sering ditulis kreatifitas, aktifitas. Huruf v dalam bahasa asalnya diganti dengan f. Penggantian seperti tidak benar karena bertentangan dengan aturan EyD. Huruf v yang digunakan dalam bahasa asalnya tetaplah v, bukan f. Dengan kata lain, huruf v tidak berubah penulisannya.  Biasakanlah menulis kreativitas dan aktivitas (menggunakan huruf v), bukan kreatifitas, aktifitas (menggunakan huruf f).[]

Bagaimana Menulis Inter-, Non-, dan Eks- dalam Bahasa Indonesia?

Bagaimana Menulis Inter-, Non-, dan Eks- dalam Bahasa Indonesia?

Bukan hanya pasca yang merupakan bentuk terikat dalam bahasa Indonesia dan tidak dapat berdiri sendiri sebagai suatu kata. Bentuk-bentuk seperti inter-, non-, dan eks- juga berstatus sama seperti pasca. Ini berarti kedua bentuk ini harus digabung dengan kata lain yang mengikutinya. Maka, penulisan yang benar adalah interaksi, nonaktif, dan ekskombatan, bukan inter aksi, non aktif, dan eks kombatan.

Sebenarnya, cukup banyak bentuk terikat dalam bahasa Indonesia yang harus ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, seperti a pada amoral, adi, pada adikuasa, antar pada antarkota, anti pada antibodi, audio pada audiovisual, ekstra pada ekstrakurikuler, pro pada propemerintah, dan nara pada narasumber.

Sayangnya, bentuk-bentuk terikat yang cukup banyak itu dalam praktiknya tidak ditulis dengan benar. Banyak orang menulis seperti ini: a moral, adi kuasa, antar kota, anti bodi, audio visual, ekstra kurikuler, pro pemerintah, nara sumber. Padahal, penulis cukup membuka pedoman EYD yang banyak tersedia, baik dalam bentuk cetak maupun di internet untuk mencari penulisan yang benar.

Hal yang perlu diketahui dalam penulisan bentuk terikat ini adalah dalam pemakaian tanda hubung. Bila kata yang akan dilekati oleh bentuk terikat itu diawali oleh huruf kapital, di antara bentuk terikat dan huruf kapital itu harus ditulis tanda hubung, misalnya non-Islam, non-Asia, eks-GAM. Aturan seperti ini juga berlaku untuk bentuk terikat lainnya seperti imbuhan, misalnya se-Aceh, ber-KTP. Maka, tidak benar bila bentuk-bentuk itu ditulis nonIslam, nonAsia, eksGAM, seAceh, berKTP.

Meski demikian, bila semua bentuk itu ditulis dengan huruf kapital, tanda hubung justru tidak boleh digunakan karena fungsi tanda hubung pada kasus yang saya sebutkan di atas untuk memisahkan huruf kapital dan huruf kecil. Jadi, tidak benar jika ada orang menulis seperti ini, NON-ISLAM, NON-ASIA, EKS-GAM, SE-ACEH, SE-ASIA, BER-KTP. Penulisan yang tepat adalah tanpa tanda hubung dan ditulis serangkai: NONISLAM, NONASIA, EKSGAM, SEACEH, SEASIA, BERKTP.[]

Dilanda Musibah, Anda Jangan Berbesar Hati

Dilanda Musibah, Anda Jangan Berbesar Hati

Makin hari makin aneh dan tidak masuk akal saja bahasa Indonesia yang digunakan oleh penuturnya. Dalam sebuah pidato resmi, seorang pejabat berkata, “Kita harus berbesar hati menghadapi musibah ini.

Benarkah dalam menghadapi musibah kita harus berbesar hati? Dari pernyataan pejabat besar itu saya menangkap maksudnya, si pejabat menginginkan para peserta yang hadir dalam pertemuan resmi itu menerima dengan lapang dada musibah yang mereka alami. Bila dugaan saya ini benar, berarti si pejabat tersebut telah salah menempatkan kata berbesar hati.

Apa sebenarnya makna berbesar hati? Jika kita melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata yang disebut idiom ini sebenarnya bermakna ‘sombong’. Makna lainnya adalah ‘girang hati, bangga, gembira’.

Berdasarkan makna ini, jika pejabat yang disebutkan di atas meminta peserta yang hadir dalam acara resmi itu untuk berbesar hati menghadapi musibah, dia sesungguhnya mengajak mereka untuk bergembira, bangga, atau girang hati menghadapi musibah. Lho, bukankah jika terkena musibah kita justru harus bersedih hati, berbesar jiwa, bukannya berbesar hati? Namun, itulah fakta sesungguhnya yang dewasa ini dipakai oleh hampir setiap orang, padahal bentuk itu salah kaprah.

Maka, jika Anda terkena musibah, jangan berbesar hati alias bergembira, tetapi bersedih hatilah meski sebenarnya tawakal jauh lebih baik.[]

Bukan Dirgahayu HUT RI ke-70

Bukan Dirgahayu HUT RI ke-70

Tujuh belas Agustus adalah hari bersejarah bagi bangsa Indonesia karena di tanggal inilah diproklamasikan kemerdekaan bangsa ini. Tepat 17 Agustus 2015 ini kita akan memperingati hari bersejarah itu yang ke-70. Berbagai kegiatan dan perlombaan telah dipersiapkan oleh panitia, mulai dari perlombaan olahraga, kesenian, permainan anak-anak, hingga perlombaan masak-memasak bagi kaum ibu.

Hal lain yang kita lakukan ketika akan memperingati hari ulang tahun negara kita adalah persiapan dalam penulisan semboyan, baik di spanduk-spanduk, gapura, maupun di media massa cetak dan elektronik.

Dalam kaitannya dengan bahasa, faktor yang sangat penting diperhatikan adalah cara penulisan semboyan itu. Pada permulaan bulan Agustus 2015 ini, saya mencatat beberapa kesalahan bahasa dalam penulisan semboyan yang berkaitan dengan persiapan menyambut hari kemerdekaan RI, di antaranya: (1) Pada tanggal 17 Agustus 2015 kita akan merayakan hari ulang tahun R.I. ke-70 (2) Dirgahayu HUT ke-70 RI.

Pada kalimat pertama, ada beberapa kesalahan penulisan yang harus diperbaiki. Kesalahan-kesalahan yang dimaksud adalah sebagai berikut.

(a) Penempatan lambang bilangan. Penulisan bilangan yang berdampingan dengan RI (hari ulang tahun  RI ke-70) dalam kalimat (1) adalah salah. Jika kita perhatikan, bentuk penulisan nama sekolah, baik SD, SMP, maupun SMA selalu disertai oleh bilangan, misalnya SMAN 5, SMAN 3, atau SMAN 1. Kalau kita mengatakan SMAN 5, hal itu berarti bahwa SMA tersebut yang kelima didirikan setelah SMA 1, 2, 3, dan 4. Dengan demikian, berdasarkan analogi tersebut, kalau kita menulis HUT RI ke-70, maknanya adalah negara RI bukan hanya satu, melainkan juga ada 70 buah dan yang akan berulang tahun adalah RI yang ke-70 (RI yang terakhir).

Hal tersebut tentu tak sesuai dengan maksud kita yang menulis. Kita dapat menghindari salah tafsir itu kalau bentuk tersebut diubah dengan cara meletakkan kata bilangan sebelum bentuk RI atau setelah ulang tahun sehingga menjadi hari ulang tahun ke-70 RI. Dengan penulisan seperti itu, penafsiran hanya satu, bahwa pada 17 Agustus 2015 Republik Indonesia akan berulang tahun yang ke-70.

(b) Kesalahan berikutnya adalah penulisan RI. Singkatan RI, secara ejaan, tidak boleh ditulis dengan menggunakan titik karena dalam Ejaan yang Disempurnakan disebutkan bahwa “Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri dari huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti oleh tanda titik”, misalnya DPR, PGRI, GBHN, dan KTP. Singkatan RI termasuk juga ke dalam contoh ini sehingga penulisan yang benar adalah RI (tanpa tanda titik). Berdasarkan uraian tadi, penulisan kalimat (1) yang tepat adalah Pada tanggal 17 Agustus 2015, kita akan merayakan hari ulang tahun ke-70 RI.

Selanjutnya, kesalahan pada kalimat kedua berkaitan dengan tingkat kelogikaan. Tingkat kelogikaan tersebut tampak pada penulisan dirgahayu yang diikuti oleh bentuk HUT. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata dirgahayu berarti semoga panjang umur (biasanya ditujukan pada negara atau organisasi yang sedang memperingati hari jadinya). Dengan demikian, semboyan Dirgahayu HUT RI ke-70 berarti semoga panjang umur HUT ke-70 RI.

Kalimat tersebut tentu tidak logis karena hari ulang tahun, baik hari ulang tahun orang maupun negara, tetap hanya sehari atau 24 jam tanpa dapat ditambah atau dikurangi.

Pendampingan dirgahayu dengan HUT disebabkan oleh adanya anggapan sebagian masyarakat bahwa kata dirgahayu memiliki kesamaan arti dengan selamat sehingga orang sebenarnya ingin mengatakan selamat HUT RI dan dirgahayu RI secara sekaligus. Dirgahayu memang merupakan bentuk ucapaan selamat yang ditujukan bukan bagi seseorang. Namun, ucapan itu menjadi salah karena didampingkan dengan HUT. Dengan demikian, penulisan yang benar adalah Dirgahayu RI atau HUT RI.

Melalui tulisan ini, saya mengajak Saudara pembaca setia portalsatu.com untuk menuliskan semboyan HUT RI dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar.[]

 

Bukan Tenggat Waktu

Bukan Tenggat Waktu

Banyak orang menggunakan tenggang waktu untuk menyatakan jangka waktu. Ada pula yang menggunakan tenggat waktu untuk menyatakan makna yang sama. Sebagian orang mempertanyakan di antara kata tenggang dan tenggat, yang manakah bentuk yang tepat atau benar?

Bila merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, kedua kata itu merupakan kata yang benar alias kata baku. Artinya, keduanya benar bila digunakan dalam komunikasi sehari-hari.  Yang menjadi masalah adalah pemakaian kata waktu setelah tenggang atau tenggat. Secara kebahasaan, kata waktu tepat digunakan setelah kata tenggang karena tenggang bermakna ‘batas, upaya, usaha, ikhtiar.

Sayangnya, orang salah kaprah menggunakan kata waktu setelah tenggat (tenggat waktu). Kata waktu tidak tepat digunakan setelah tenggat karena kata ini bermakna ‘batas waktu’. Dengan kata lain, di dalam kata tenggat sudah tercakup kata waktu sehingga tak perlu dimunculkan kembali kata waktu secara eksplisit. Bila kata waktu tetap digunakan, terjadilah bentuk yang lewah atau mubazir.

Salah kaprah seperti tenggat waktu itu tidak jauh berbeda dengan pemakaian kata yang sudah bermakna jamak, tetapi tetap digunakan kata penanda jamak, misalnya pada bentuk ratusan massa atau puluhan massa. Massa merupakan kata benda yang sudah bermakna jamak sehingga pemakaian kata lain yang juga menyatakan jamak sebelum atau setelah kata massa, seperti pada contoh yang disebutkan sebelumnya, melahirkan bentuk yang lewah alias mubazir. Seharusnya, bentuk yang benar adalah ratusan orang atau puluhan orang, bukan ratusan massa atau puluhan massa.

Mari menggunakan kata tenggat saja tanpa diikuti waktu dan ratusan orang atau puluhan orang, bukan ratusan massa atau puluhan massa.[]

Istri Kita?

Istri Kita?

Suatu sore saya dan teman-teman minum kopi bersama di sebuah warung kopi di Banda Aceh. Seorang teman yang baru saja menikah datang menghampiri kami. Katakanlah teman saya ini namanya Edi. Salah seorang teman lain yang tidak tahu bahwa Edi telah menikah bertanya, “Cewek yang sama kamu itu siapa?” “Itu istri kita!” kata Edi. Sambil tersenyum, salah seorang kawan saya yang lain mengatakan, “Istri kita? Berarti bukan istri kamu ya, tapi istri kita semua, istri ramai-ramai?” Mendadak semua tertawa terbahak-bahak dan si Edi pun meralat pernyataannya dengan mengatakan, “Bukan, istri saya maksudnya, bukan istri kita!”

Meski hanya candaan, koreksi bahasa yang dilakukan oleh kawan saya tadi terhadap bahasa yang digunakan si Edi memang benar adanya. Tak sepatutnya si Edi mengatakan istri kita ketika ditanyakan oleh kawan saya.

Adanya koreksi bahasa seperti itu karena memang ada yang janggal dan aneh dengan penggunaan kita pada bentuk istri kita. Kita merupakan kata ganti orang pertama jamak. Bila seseorang menyebut kita, itu berarti pembicara termasuk yang diajak bicara merupakan satu kesatuan atau inklusif. Jadi, kalau seseorang menyebut rumah kita, artinya rumah itu bukan hanya milik pembicara, melainkan juga miliki orang yang diajak bicara. Begitu pula jika disebutkan orang tua kita, berarti orang tua itu adalah orang tua si pembicara dan yang diajak bicara. Dengan kata lain, bila dalam suatu percakapan ada sepuluh orang, lalu salah seorang mengatakan orang tua kita, itu artinya bahwa orang tua itu bukan hanya orang tua pembicara, melainkan orang tua kesepuluh orang itu.

Begitu pula dengan pemakaian istri kita. Ketika si Edi mengatakan istri kita, itu berarti istri si Edi adalah istri kawannya juga yang terlibat dalam percakapan itu alias istri ramai-ramai seperti yang dikatakan oleh kawan saya tadi. Semestinya, si Edi mengatakan “Istri saya” karena memang perempuan itu adalah istrinya, bukan istri kawan-kawannya.

Pemakaian bentuk kita yang salah kaprah juga sering terjadi di kalangan pejabat. Ketika mereka diwawancarai oleh wartawan misalnya saja, banyak yang maksudnya ingin menyebut pihaknya secara eksklusif, tetapi dalam ketidaksadarannya justru menyebut pihak yang tidak inklusif itu dengan kita. Bentuk kita pada kita segera tangkap pelakunya dan kita proses kasusnya, yang diucapkan oleh seorang polisi, katakan saja, jelas sekali tidak benar karena wartawan itu pasti tidak ikut serta dalam penangkapan dan pemrosesan. Maka, pemakaian yang benar seharusnya adalah kami.

Mari gunakan bahasa Indonesia yang benar. Saya yakin, tak ada satu pun manusia yang normal di dunia ini rela menjadikan istrinya sebagai milik bersama atau untuk dipakai bersama. Oleh karena itu, gunakan bentuk istri saya, bukan istri kita.[]