Tag: anak

Menyiasati Agar Mainan Tak Pernah Usang

Menyiasati Agar Mainan Tak Pernah Usang

DI bawah kreativitas orangtua, mainan yang didesain untuk usia bayi baru lahir pun dapat tetap relevan dimainkan oleh anak yang usianya lebih tua, begitu pula sebaliknya.

“Tak ada istilah mainan usang sudah harus dibuang selama orangtua kreatif,” kata spesialis anak dr. Markus Danusantoso dalam media gathering di Jakarta, Rabu.

Dokter yang membuka praktik di RSU Bunda Jakarta itu mengatakan kerap mainan-mainan yang didesain untuk bayi baru lahir menjadi terbengkalai saat anak beranjak besar karena orangtua mengira mainan tersebut sudah tidak bisa digunakan kembali.

“Sebenarnya bisa, tergantung cara memainkannya yang disesuaikan untuk perkembangan anak,” ujar dia.

Sebagai contoh, ketika anak sudah bisa mengenal warna, orangtua dapat menyuruh buah hati untuk mengelompokkan mainan-mainan lama sesuai dengan warnanya.

“Mainan untuk bayi baru lahir bisa dipakai anak lebih besar, misalnya ‘coba bawakan mainan berwarna merah’,” papar dia.

Sebaliknya, anak juga bisa bebas memainkan mainan yang didesain untuk usia lebih tua selama orangtua dapat menyiasatinya.

Misalnya mainan bersusun yang membutuhkan kemampuan jari tangan anak dapat dipakai untuk menstimulasi pancaindera bayi baru lahir. Tentunya bayi belum mampu menyusun mainan, tapi orangtua dapat memakainya untuk memperkenalkan warna bagi si buah hati.[] sumber: antaranews.com

Aceh belum Mampu Wujudkan Kota Layak Anak?

Aceh belum Mampu Wujudkan Kota Layak Anak?

BALIKPAPAN – Hingga kini 236 daerah terus berupaya mewujudkan kota layak anak, dari 546 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia. Menurut Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Susana Yembise, Aceh termasuk salah satu daerah yang belum mampu mewujudkan kota layak anak.

Melansir kompas.com, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menjajaki kemungkinan mewujudkan program untuk menempatkan satu mahasiswa perguruan tinggi menetap dalam satu keluarga, selama sang mahasiswa menjalani praktek kuliah kerja nyata (KKN) dan sejenisnya. Bila terwujud, program ini diyakini bisa mempercepat pemberdayaan masyarakat di tingkat paling bawah, yakni keluarga.

“Kami akan wacanakan one student of university in the one family. Semacam homestay selama satu bulan tinggal dalam keluarga selagi mahasiswa itu menjalani KKN,” kata Menteri Yohana Susana Yembise, Kamis (1/10/2015).

Yohana mengatakan, praktek kerja mahasiswa di masyarakat menghasilkan banyak manfaat, khususnya untuk masyarakat itu sendiri. Peran mahasiswa selama KKN bisa diperluas tugas dan tanggung jawabnya, yakni membantu pemberdayaan sampai di tingkat ibu dan anak.

“Bisa turut membantu anak-anak belajar selagi dalam rumah. Melihat anak-anak itu belajar atau tidak, bapak ibunya sibuk sendiri-sendiri atau tidak, atau ibunya kini menjadi kepala rumah tangga sedangkan bapaknya sering pergi dan minum-minum,” kata Yohana.

“Jadi KKN tidak hanya menghasilkan perbaikan pagar atau kegiatan mengecat saja di masyarakat. Kami akan membangun komunikasi dengan Kementerian Pendidikan (menjajaki rencana ini),” kata Yohana.

Yohana mengatakan, saat ini jumlah anak di Indonesia lebih dari 87 juta orang. Menurut dia, perlu pendekatan kreatif dan perhatian ekstra untuk bisa menjangkau seluruh anak-anak dan perempuan itu.

Di sisi lain, kekerasan dalam rumah tangga setiap hari terjadi dan meningkat baik jumlah maupun kualitasnya. Tiap kekerasan yang terjadi, kerap berakhir anak menjadi korban.

Dengan beragam program yang bisa dikembangkan di daerah maka akan membantu menurunkan tingkat KDRT. “Maka perlu program yang harus bisa menurunkan kekerasan dalam rumah tangga pada anak dan perempuan,” kata Yohana.

Beberapa program lain, kata Yohana, di banyak kota kabupaten di Indonesia sudah berlomba mewujudkan predikat kota layak anak. Predikat itu tentu membuat pemerintah setempat memenuhi kriteria terkait perlindungan pada anak dan perempuan. Hingga kini 236 terus berupaya mewujudkan kota layak anak, dari 546 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia.

“Termasuk yang belum bisa mewujudkan kota layak anak itu seperti Aceh, Papua, NTT, dan Maluku malahan belum,” kata Yohana.[] (*) Sumber: kompas.com

Foto: Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise. @kompas.com

Ciri Anak Sehat dari Segi Fisik, Psikis, dan Sosialisasi

Ciri Anak Sehat dari Segi Fisik, Psikis, dan Sosialisasi

Ciri-ciri anak sehat tidak hanya dilihat dari segi fisik, namun segi psikis dan segi sosialisasi. Menurut Departemen Kesehatan RI ciri anak sehat ada 9, yaitu:

* Ciri anak sehat ia akan tumbuh dengan baik,  yang dapat dilihat dari naiknya berat dan tinggi badan secara teratur dan proporsional.

* Tingkat perkembangannya sesuai dengan tingkat umurnya.

* Tampak aktif atau gesit dan gembira.

* Mata bersih dan bersinar.

* Anak sehat nafsu makannya baik.

* Bibir dan lidah tampak segar.

* Pernapasan tidak berbau.

* Kulit dan rambut tampak bersih dan tidak kering.

* Ciri anak sehat lainnya, mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Secara sederhana, ciri anak sehat dilihat dari segi fisik, psikis dan sosialisasi adalah:

* Dilihat dari segi fisik ditandai dengan sehatnya badan dan pertumbuhan jasmani yang normal.

* Segi psikis, anak yang sehat itu jiwanya berkembang secara wajar, pikiran bertambah cerdas, perasaan bertambah peka, kemauan bersosialisasi baik.

* Dari segi sosialisasi, anak tampak aktif, gesit, dan gembira serta mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya.[] Sumber:  kompas.com

Foto ilustrasi

Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Meningkat di Banda Aceh

Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Meningkat di Banda Aceh

BANDA ACEH – Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Banda Aceh meningkat menjadi 94 kasus dari 54 kasus tahun sebelumnya, Senin, 7 September 2015. Kasus ini didominasi oleh kekerasan terhadap perempuan.

Demikian hasil pemaparan yang dilakukan oleh Divisi Kajian Publik Flower Aceh dalam diskusi terbatas merujuk data terbaru dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Banda Aceh. Data ini dikumpulkan hingga 25 Agustus 2015.

“Angka kekerasan selama pertengahan tahun 2015 ini jauh melampaui total kekerasan yang terjadi di tahun lalu,” ujar Divisi Kajian Flower Aceh, Mirza Ardi, melalui siaran persnya kepada wartawan.

Berdasarkan wilayah sebaran kasus kekerasan paling banyak terjadi di Kecamatan Baiturrahman sejumlah 14 kasus, diikuti oleh Kuta Alam (13 kasus), Kuta Raja (10 kasus), Meuraxa, Lueng Bata (9 kasus), Ulee Kareng (7 kasus), Banda Raya (6 kasus), Jaya Baru (5 kasus), dan Syiah Kuala (2 kasus).

Flower menilai dampak kekerasan terhadap perempuan dan anak tak bisa dianggap enteng. Fakta lapangan membuktikan perempuan yang menjadi korban kekerasan menderita trauma psikis hebat dari frustasi, ketakutan, ingin bunuh diri, bahkan ada yang kehilangan kepercayaan kepada tuhan.

Demikian pula halnya dengan anak yang menjadi korban kekerasan. Selain menjadi minder dan menurunnya prestasi di sekolah yang mengakibatkan masa depan mereka terancam, dalam beberapa kasus ada yang terkena HIV.

Berdasarkan penelusuran yang dilakukan Flower, fakta dan angka tersebut hanya kasus yang terlapor. Diperkirakan masih banyak kasus-kasus kekerasan lainnya yang belum terlapor.

“Kami masih melakukan pendataan lebih lanjut soal ini,” ujar Mirza.[](bna)

Tekan Permasalahan Anak dan Perempuan, Kepala BP3A: Perlu Koordinasi

Tekan Permasalahan Anak dan Perempuan, Kepala BP3A: Perlu Koordinasi

SABANG – Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh, Dahlia, mengatakan permasalahan perempuan dan anak merupakan permasalahan lintas sektor serta lintas wilayah.

“Perlunya koordinasi dan kerja sama yang erat untuk mencapai tujuan pembangunan bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak,” kata Dahlia saat rapat koordinasi Forum Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (FP3A) se-Sumatera, yang digelar di Kota Sabang, Kamis, 20 Agustus 2015.

Dia mengatakan rakor FP3A ini bertujuan untuk memperkuat koordinasi dan sinergitas berbagai program. Selain itu kegiatan tersebut juga berguna untuk mengurangi bahkan menghapus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Hal senada dikatakan oleh Wali Kota Sabang, Zulkifli H. Adam saat membuka langsung kegiatan rakor yang diselenggarakan selama tiga hari tersebut. Dia berharap melalui kegiatan itu, para peserta dapat berbagi ilmu guna menekan permasalahan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia umumnya, dan Sumatera pada khususnya.

“Qanun Pemerintah Aceh Nomor 11 tahun 2008 tentang perlindungan anak, dan Qanun Nomor 6 Tahun 2009 tentang standar pelayanan minimal, di bidang pelayanan terpadu bagi perempuan dan anak korban kekerasan, telah mengisyaratkan pada semua pihak untuk memberikan perlindungan terhadap perempuan dan anak,” katanya.[](bna)

Laporan: Razie Arda

Ubi Jalar Bisa Bantu Atasi Diare pada Anak

Ubi Jalar Bisa Bantu Atasi Diare pada Anak

Ubi jalar merupakan penganan alami yang nikmat, mengandung banyak manfaat, namun sering tak dianggap karena harganya yang murah. Selain jadi sumber karbohidrat sehat pengganti nasi, ubi jalar juga punya manfaat untuk meredakan diare pada anak-anak.

Penyakit diare yang diidap anak-anak sering bikin pusing orang tua, karena kerap terjadi dan sulit menyuruh anak untuk minum obat. Jika demikian maka sediakan saja ubi jalar di rumah, lalu olah dengan cara direbus atau dikukus. Berikan pada anak yang diare agar dikonsumsi sebagai makanan yang membantu meredakan penyakit pencernaan itu.

Dilansir oleh laman indiatimes.com, ubi jalar berfungsi untuk melawan bakteri pemicu diare. Zat bernama beta karoten pada ubi jalar lah yang menjadi rahasianya.

Saat dikonsumsi, maka beta karoten akan bereaksi dengan enzim dalam pencernaan menjadi vitamin A.

“Kandungan beta karoten di dalam ubi manis akan langsung berubah menjadi vitamin A saat masuk ke dalam tubuh. Vitamin A ini bermanfaat untuk melapisi usus dan membentuk sel-sel penyerang kuman penyebab diare,” kata Erick Boy, seorang nutrisionis di HarvestPlus.

HarvestPlus merupakan lembaga yang membuat program peningkatan gizi untuk cakupan global. Jadi penelitian tentang pangan dan masalah terkait hal itu pun jadi perhatian HarvestPlus.

Di wilayah terpencil saat sulit menemukan obat untuk diare yang dialami oleh anak-anak, maka ubi jalar adalah pilihan yang mudah dan murah. Ini sekaligus mengurangi tingkat kematian anak akibat diare dan dehidrasi. | sumber : sidomi

 

Gubernur Aceh: Ciptakan Lingkungan Ramah Anak

Gubernur Aceh: Ciptakan Lingkungan Ramah Anak

BANDA ACEH Orang tua berperan mendidik, membina serta membentuk kepribadian anak. Masyarakat berperan mengawasi, mendampingi dan menciptakan kondisi lingkungan yang ramah terhadap anak. Sedangkan pemerintah bertugas memberikan fasilitas pendidikan, kesehatan, dan berbagai peraturan untuk perlindungan anak.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Aceh, dr. H. Zaini Abdullah saat membuka Seminar Pembangunan Mekanisme Perlindungan Terhadap Perempuan dan Anak dalam Rumah Tangga, di Aula SMKN Lhoong Raya, Senin, 11 Mei 2015.

“Hak anak adalah bagian dari Hak Asasi Manusia yang wajib dipenuhi oleh orangtua, masyarakat dan pemerintah,” ujar Gubernur Aceh yang akrab disapa Doto Zaini ini.

“Komponen ini harus berjalan seiring dan memperkuat satu sama lain, sehingga kita mampu melahirkan generasi bangsa yang cerdas, tangguh, mandiri dan berakhlaq al-karimah.”

Gubernur menambahkan, arus globalisasi dan teknologi yang berkembang saat ini tidak semuanya bisa memberikan dampak positif. Betapa banyak anak yang terlibat aktivitas pornografi, narkoba dan berbagai bentuk pelanggaran hukum lainnya. Oleh karena itu, pola asuh anak harus diperbaiki sejak dini, agar anak tidak terjebak dalam sisi negatif globalisasi.

Seminar yang bertujuan memberi pemahaman tentang pola asuh anak yang terbaik ini mengangkat tema Dampak Pornografi terhadap Perkembangan Mental dan Spiritual Anak ini diikuti oleh para Guru, mahasiswa, unsur PKK se Aceh serta aktivis perempuan.

“Dalam ajaran Islam, anak adalah amanah yang harus ditunaikan oleh setiap orang tua. Orang tua memiliki kewajiban mendidik, melindungi, merawat, memberikan hak-hak anak dan mengembangkan potensi yang dimiliki anak sebagai anugerah Allah SWT. Oleh karena itu, kita harus memiliki pengetahuan dalam menentukan pola asuh yang tepat bagi anak,” kata Doto Zaini.

Gubernur berharap seminar ini mampu memberikan terapi yang tepat untuk penentuan pola asuh anak di Aceh. Hal tersebut perlu mendapatkan perhatian serius semua pihak. Karena akan berdampak luas pada kualitas generasi bangsa di masa mendatang.

“Saya berharap para peserta dapat mengikuti seminar ini dengan sebaik-baiknya, sehingga kita punya bekal yang berguna untuk menjadi orang tua yang dapat melahirkan generasi terbaik di masa depan,” katanya.

Turut hadir dalam seminar tersebut isteri Gubernur Aceh, Hj. Niazah A. Hamid, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dahlia, M.Ag, Isteri Kapolda Aceh, Isteri Sekda Aceh dan perwakilan dinas terkait lainnya.[] (ihn)

Menteri: Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Tinggi di Aceh

Menteri: Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Tinggi di Aceh

JAKARTA – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Menteri PP-PA) Yohana Susana Yembise akan mengirim staf ke Aceh guna melakukan pemetaan terhadap berbagai persoalan yang terjadi terhadap perempuan dan anak di provinsi itu.

“Saya sudah mohon izin sama Ibu Gubernur Aceh, nanti akan ada staf saya yang akan datang ke sini untuk mempelajari berbagai persoalan yang ada di provinsi ini,” katanya di sela-sela meninjau pelatihan keterampilan menjahit bagi perempuan korban konflik di aula gedung PKK Aceh, Banda Aceh, Minggu, 27 April 2015.

Ia menjelaskan ada berbagai laporan yang disampaikan kepadanya terhadap perempuan dan anak di provinsi berpenduduk sekitar 4,5 juta jiwa itu.

“Informasi yang sampai kepada saya katanya tingkat kekerasan dalam rumah tangga tinggi dan seksual dan pornografi di Aceh tinggi,” katanya.

Ia mengatakan saat ini pihaknya belum memiliki data secara lengkap, sehingga akan menurunkan stafnya untuk melakukan pemetaan terhadap berbagai persoalan di Aceh.

Menurut dia dengan adanya pemetaan terhadap persoalan yang terjadi maka akan dapat dilakukan penanganan di masa mendatang.

“Kami akan melakukan berbagai program penanganan di Aceh sesuai dengan persoalan yang terjadi terhadap perempuan dan anak,” katanya.

Dalam kunjungan kerjanya ke Provinsi Aceh, Menteri PP-PA turut didampingi Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Aceh Hj Niazah A Hamid, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) Aceh, Dahlia dan Kabiro Humas Setda Aceh M Ali Alfata.[] sumber: ANTARANEWS.com

Agar Mata Sehat, Anak Harus Sering Belajar di Luar Ruangan

Agar Mata Sehat, Anak Harus Sering Belajar di Luar Ruangan

Belajar di ruangan yang nyaman dengan penerangan yang baik tentu diharapkan oleh semua orang, tak hanya anak-anak. Namun penelitian terbaru mengungkap bahwa sebaiknya anak-anak lebih banyak menghabiskan waktunya belajar di luar ruangan untuk menjaga kesehatan mata mereka.

Penelitian mengungkap bahwa anak yang menghabiskan waktu terlalu banyak berada di dalam ruangan untuk belajar memiliki kesehatan mata yang lebih buruk. Cahaya buatan yang ada di dalam ruangan dicurigai sebagai penyebab memburuknya kemampuan penglihatan anak.

Saat ini jumlah anak yang mengalami rabun jauh semakin meningkat. Hal ini diperkirakan berkaitan dengan jumlah waktu yang mereka gunakan di depan televisi, komputer, atau di dalam ruangan yang menggunakan cahaya buatan. Anak-anak dinilai terlalu banyak menghabiskan waktu mereka untuk melihat layak benda elektronik dan berada di dalam ruangan sehingga berdampak buruk untuk kesehatan mata mereka.

“Selama 100 tahun peneliti telah mengamati efek membaca dan belajar dalam jangka waktu panjang terhadap kesehatan mata. Kebiasaan membaca dan belajar di dalam ruangan membuat kesehatan mata memburuk. Ditambah lagi saat ini banyak orang membaca lewat layar alat elektronik. Ini membuat lebih banyak orang yang mengalami penurunan penglihatan,” ungkap ahli bedah mata Dr David Allamby, seperti dilansir oleh Metro.

Penelitian terbaru juga mendukung hasil ini. Itulah kenapa saat ini di China banyak anak yang diajar di luar ruang kelas atau dengan ruangan yang dindingnya terbuat dari kaca. Ruangan dengan dinding kaca barangkali terlihat aneh. Namun penelitian menunjukkan bahwa membiasakan anak belajar di luar ruangan atau dengan cahaya matahari bisa menurunkan risiko rabun jauh hingga 23 persen.

Para ahli juga menyarankan agar anak diberi waktu istirahat dari berbagai alat elektronik seperti televisi, smartphone, atau tablet. Sesekali mata harus diistirahatkan untuk memperbaiki kesehatan mata mereka dalam jangka panjang. | sumber : merdeka

Bisakah Kanker pada Anak Dicegah?

Bisakah Kanker pada Anak Dicegah?

BANDA ACEH – Konsultan kanker anak Rumah Sakit Dharmais Jakarta, dr. Edi Setiawan Tehuteru SP AK, MHA, mengatakan peran orang tua sangat penting dalam mendeteksi gejala kanker pada anak.

Orang tua katanya harus memiliki pengetahuan karena kanker pada anak sangat sulit di deteksi, berbeda dengan kanker pada orang dewasa. Sampai saat ini dari sekian jenis kanker yang ditemui pada anak, hanya satu jenis kanker yang bisa terdeteksi secara dini yaitu kanker bola mata atau retinoblastoma.

“Karenanya, penting bagi orang tua untuk mengetahui dan mewaspadai gejala kanker pada anak mengingat baru satu jenis yang dapat dideteksi secara dini,” ujarnya saat mengisi seminar edukasi kanker pada anak yang dibuat Yayasan Anyo Indonesia dengan Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia Kota Banda Aceh di Balaikota Banda Aceh hari ini, Selasa, 14 April 2015.

Deteksi dini untuk retinoblastoma dinamakan dengan istilah ‘lihat merah’. Pemeriksaannya tidak harus ke rumah sakit besar, karena juga bisa diperiksa oleh seorang tenaga kesehatan yang telah dilatih sebelumnya.

“Di Puskesmaspun bisa diperiksa dengan menggunakan alat yang disebut ophthalmoscope, suatu alat untuk melihat bagian dalam dari mata anak,” katanya.

Ia juga menjelaskan jika kanker pada anak berbeda dengan kanker pada orang dewasa. Jika kanker pada orang dewasa bisa dicegah, maka kanker pada anak tidak bisa. Meski begitu orang tua sejak dini harus mengajarkan pola hidup sehat pada anak, untuk mencegah dan menghindari terserang berbagai jenis kanker ketika si anak dewasa kelak.

Ia juga menyarankan, jika orang tua mencurigai anaknya terkena kanker, sebaiknya orang tua segera membawanya ke rumah sakit untuk mengonfirmasi kebenarannya. Selanjutnya dokter yang akan melakukan pemeriksaan awal tergantung gejala yang timbul.

Para peserta seminar juga diberikan buku tentang Kanker pada Anak dari Yayasan Anyo Indonesia. Direktur Yayasan Anyo Indonesia, Pinta, berharap buku tersebut bisa menjadi panduan bagi para orang tua untuk mengenali kanker secara dini.[] (ihn)