Tag: air bersih

Warga Meunasah Asan Kesulitan Air Bersih

Warga Meunasah Asan Kesulitan Air Bersih

IDI RAYEUK – Warga Gampong Meunasah Asan, Kecamatan Madat, Kabupaten Aceh Timur, mengeluh kesulitan mendapatkan air bersih yang bisa dikomsumsi.

“Sudah sangat lama kami masih mekonsumsi air payau. Untuk air yang layak seperti air tawar di sini susah dicari,” ujar salah satu tokoh pemuda Gampong Meunasah Asan, Muhammad Mardani, saat dikomfirmasi portalsatu.com Rabu, 5 Agustus 2015 sekitar pukul 15.00 siang tadi.

Bermacam langkah upaya sudah dilakukan masyarakat setempat untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah.

“Perangkat gampong sudah berulang kali mengusulkan pemasangangan air bersih kepada bupati dan gubernur,” kata Mardani.

Bahkan, katanya lagi, usulan tersebut sudah pernah disampaikan langsung kepada Wakil Gubernur Aceh Mualem yang saat itu berkunjung ke daerah setempat. Namun sampai kini belum ada respon dari hasil usaha yang sudah dilakukan.

Menurut Mardani sejak dibangunnya tempat penampungan itu, pemerintah pernah menyediakan mobil tangki air bersih yang dititipkan di kantor dikecamatan setempat. Namun hingga kini tidak pernah sekalipun mobil tersebut menyetor air bersih ke desa tersebut.

“Sampai saat ini tidak diketahui bangkai mobilnya dimana,” kata Mardani.

Informasi yang dihimpun portalsatu.com menyebutkan mobil yang sejatinya disediakan untuk pengadaan air bersih ini sudah digunakan untuk pengerjaan proyek, seperti pengaspalan jalan. “Bukan membawa air bersih untuk kita disini,” ujar salah satu warga Gampong Meunasah Asan yang enggan menyebutkan namanya.

Secara terpisah, Geuchik Desa Meunasah Asan, Saiful, membenarkan bahwa lebih dari 400 KK warganya yang kesulitan mendapatkan air bersih. Selain itu dia mengatakan masyarakat telah membangun tempat penampungan air bersih secara swadaya pada 2001 lalu. Namun tempat penampungan tersebut sama sekali tidak bisa dipergunakan oleh masyarakat.

“Kondisi penampungannya itu pun sudah bocor,” ujar Saiful.

Saat ini, kata Saiful, warganya harus merogoh koceknya jika ingin mendapatkan air bersih yang dipasok oleh pedagang.

“Harganya sekitar Rp4 ribu sampai Rp5 ribu per galon,” kata Saiful.[](bna)

Menanti Suplai Air PDAM, Warga Lhok Incin Bernazar Potong Kambing

Menanti Suplai Air PDAM, Warga Lhok Incin Bernazar Potong Kambing

LHOKSUKON – Masyarakat Desa Lhok Incin, Kemukiman Buah, Kecamatan Baktiya Barat, Aceh Utara, sejak beberapa tahun lalu bernazar akan menyembelih kambing jika supai air PDAM Tirta Mon Pase mencapai desa mereka. Pasalnya, hingga kini masyarakat setempat masih kesulitan air bersih.

Di Kemukiman Buah terdapat sembilan desa yang kesulitan air bersih. Masing–masing mencakup Desa Matang Paya, Cot Laba, Meunasah Pante, Meunasah Hagu, Cot Murong, Blang Rheu, Paya Bateung, Lhok Incin, dan Meurandeh Paya.

“Warga di sini memiliki sumur, tapi airnya asin, keruh dan berbau. Sehingga hanya dapat dipergunakan untuk mencuci dan mandi. Untuk minum dan memasak kita biasanya membeli di pedagang pengecer Rp 5 ribu per jeriken. Dalam sehari rata-rata setiap keluarga butuh empat jeriken,” kata Geuchik Desa Lhok Incin, Amriadi, kepada portalsatu.com, Sabtu, 4 Juli 2015.

Amriadi mengatakan di desanya terdapat 70 Kepala Keluarga (KK) dengan 450 jiwa yang berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.

“Di sini hanya dua keluarga yang ekonominya berkecukupan. Lebih dari itu, semua warga miskin. Warga sudah sangat kelabakan jika harus terus membeli air. Seharusnya uang itu dapat dipergunakan untuk keperluan rumah tangga yang lain,” ujarnya.

Menurutnya ada juga masyarakat sangat miskin yang tidak mampu membeli air. Mereka terpaksa harus menempuh jarak 2 kilometer dengan sepeda dayung untuk mengambil air di Musala Desa Meunasah Hagu.

“Air di Meunasah Hagu tidak tawar dan terasa asin juga, tapi setidaknya tidak seasin air di Lhok Incin. Besar harapan kami air PDAM dapat mengalir ke desa. Bahkan sejak beberapa tahun lalu kami bernazar akan potong kambing jika air PDAM tiba,” katanya.

Dia mengatakan warga sudah berulangkali mendatangi PDAM Tirta Mon Pase. Demikian juga dengan pihak PDAM yang sudah pernah datang ke Lhok Incin.

“Kata petugas PDAM, air akan masuk tahun ini. Namun janji itu tetap sama saban tahun kita datang ke PDAM. Faktanya hingga hari ini belum ada realisasi apapun,” kata Amriadi.[](bna)

Sungai Sarah Bisa Jadi Solusi Masalah Air di Banda Aceh

Sungai Sarah Bisa Jadi Solusi Masalah Air di Banda Aceh

BANDA ACEH – Saat ini sekitar 80 persen lebih warga Banda Aceh terdaftar sebagai pelanggan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Namun hanya 52 persen pelanggan yang bisa menggunakan air secara baik di Kota Banda Aceh, lantaran ada pelanggan yang sudah tidak aktif dan belum mendapatkan air.

Hal ini mengemuka dalam Bincang Kebudayaan Solusi Air Bersih untuk Aceh dalam pandangan Kebudayaan dan Hak Asasi Manusia yang diselenggarakan Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT) di Gedung ACC Sultan Selim II Banda Aceh, Sabtu, 27 Juni 2015.

Hadir sebagai pemateri dalam bincang kebudayaan ini Kepala BP SPAM (Badan Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum Regional Aceh) Drs. Azhari Ali, MM. Ak dan Saifuddin Bantasyam sebagai pemateri Pemerhati HAM. Bincang kebudayaan ini dipandu oleh Teuku Zulkhairi sebagai moderator.

Azhari Ali mengatakan salah satu solusi yang bisa ditawarkan dalam masalah ini adalah pemanfaatan Sungai Sarah sebagai sumber air bersih untuk warga Kota Banda Aceh.

“Sungai sarah lebih tepat untuk menjadi sumber airnya, apalagi masih alami dan belum tercemar. Walau begitu pemerintah kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar harus mengkomunikasikan hal ini dengan baik, karena sungai Sarah berada di wilayah Aceh Besar,” kata Azhari Ali.

Pada kesempatan yang sama, Pemerhati HAM, Saifuddin Bantasyam mengatakan pemerintah seharusnya menjadikan air sebagai pilihan utama dalam setiap program yang dijalankan.

“Air kan sumber utama kehidupan makhluk hidup, tujuh hari kita tidak minum bisa meninggal, beda dengan makanan. Tapi kenyataannya saat ini masih banyak orang yang menganggap remeh akan hal ini,” kata Saifuddin.

Saifuddin berharap pemerintah bisa lebih memerhatikan kebutuhan utama ini. Pasalnya, kata dia, keterbatasan air bersih akan melahirkan banyak permasalahan lain jika tidak diselesaikan dengan bijak.

“Warga bisa menggugat pemerintah di pengadilan jika pemerintah tidak mampu selesaikan persoalan air ini. Class action ini baru bisa dilakukan jika warga telah memiliki wawasan yang cukup dan bukti yang kuat yang bisa dibawa ke pangadilan. Penggunaan hak-hak sipil ini akan mempercepat terpenuhinya hak aasi warga untuk memperoleh layanan air bersih yang standar,” katanya.[](bna)

Keuchik Zainal: Penanganan Air Bersih Perlu Komunikasi dengan Tim Teknis

Keuchik Zainal: Penanganan Air Bersih Perlu Komunikasi dengan Tim Teknis

BANDA ACEH – Wakil Wali Kota Banda Aceh, Drs Zainal Arifin atau dikenal sebagai Keuchik Zainal, mengatakan untuk menangani persoalan air bersih perlu dikomunikasikan dahulu dengan tim teknis. Selain itu juga perlu ditanyakan permasalahan yang menyebabkan hal tersebut.

“Saya pikir kalau itu letak masalahanya pada air yang tidak memadai, maka kita harus mencari solusi bagaimana air itu terpenuhi dalam arti kata dalam jumlah airnya,” kata Keuchik Zainal.

Namun Keuchik Zainal mengatakan kalau persediaan airnya cukup mungkin teknis untuk mensuplai kepada masyarakat yang bermasalah. Kalau pun dari segi teknis, kata dia, dimungkinkan diperlukannya tower atau pompa dan dilihat mana yang lebih efektif dan hemat.

“Maka nanti kita akan beri saran kepada Wali Kota semoga bisa diupayakan secara bersama-sama,” katanya.[] (bna)

Ombudsman Aceh: Perbaiki Internal PDAM Agar Pelayanan Tidak Terganggu

Ombudsman Aceh: Perbaiki Internal PDAM Agar Pelayanan Tidak Terganggu

BANDA ACEH – Asisten Ombudsman RI Perwakilan Aceh, M Fadhil Rahmi, berharap permasalahan yang terjadi di tubuh PDAM Tirta Daroy Banda Aceh tidak merugikan masyarakat. Perusahaan daerah ini diminta tetap menjaga kenyamanan masyarakat dalam menggunakan air bersih.

“Saat ini warga banyak melapor ke Ombudsman, ini merupakan bukti bahwa pengelolaan pengaduan di PDAM bermasalah. Harusnya mereka bisa langsung mengadu ke PDAM,” katanya kepada portalsatu.com, Sabtu, 18 April 2015.

Ombusman juga berharap Dirut PDAM bisa mengindentifikasi dan dapat menyelesaikan secara menyeluruh semua persoalan dan permasalahan yang ada di tubuh PDAM.

“Khususnya di internal PDAM sendiri seperti sistem manajemen dan teknis harus komprehensif,” ujarnya.[](bna)

Masyarakat Pesisir Bireuen Krisis Air Bersih

Masyarakat Pesisir Bireuen Krisis Air Bersih

BIREUEN – Keuchik Desa Alue Mangki, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen, Fuadi Sulaiman, mengatakan daerahnya kini mengalami krisis air bersih. Meski memiliki sumur bor, air tetap tidak tawar seperti sebelum Tsunami melanda Aceh.

Menurutnya, krisis air bersih ini melanda Desa Alue – Mangki, Desa Ie Rhob, Desa Lingka Kuta, Desa Lapang Barat dan sebagian Desa Lapang Timu, Kecamatan Gandapura.

“Kita berharap kepada pemerintah baik di tingkat provinsi maupun tingkat kabupaten, adanya solusi untuk mengadakan saluran air PDAM ke desa kami,” Kata Fuadi, kepada portalsatu.com, Minggu,12 April 2015.

“Daerah lainnya yang bukan daerah basis tsunami sudah duluan ada saluran pipa PDAM. Sementara kami yang asin air sumur akibat tsunami, sampai sekarang belum ada saluran air bersih,” kata Fuadi lagi.

Fuadi berharap kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh, khususnya dari Dapil Bireuen, agar bisa memprioritaskan program saluran PDAM ke desa pesisir. [] (mal)