Tag: aceh besar

Jubir Fokus Gempar: Aceh Besar Terlalu Luas

Jubir Fokus Gempar: Aceh Besar Terlalu Luas

JANTHO – Forum Komunikasi Gerakan Mahasiswa Pemuda Pelajar (Fokus-Gempar) Kabupaten Aceh Besar mendukung upaya pemekaran wilayah Aceh Besar menjadi tiga kabupaten, yaitu Aceh Besar, Aceh Raya dan Aceh Rayeuk.

Hal ini disampaikan oleh Juru Bicara Fokus Gempar Aceh Besar, Rahmad Saputra, SIP, melalui siaran persnya kepada portalsatu.com, Sabtu, 19 September 2015.

“Pemekaran Aceh Besar itu adalah sebuah keharusan yang wajib dilakukan,” katanya.

Dia mengatakan Aceh Besar merupakan salah satu kabupaten di Aceh yang memiliki wilayah sangat luas mencapai 2.974,12 km2. Daerah yang masuk dalam administratif Aceh Besar tersebut meliputi dari Lhoong hingga Lembah Seulawah dan dari Pulo Aceh hingga Lampanah Leungah.

“Kalau hari ini kita ingin mengelilingi Aceh Besar, butuh waktu dan tenaga yang ekstra. Saya kira dengan luas wilayah seperti itu, rasanya tidak akan masuk akal kalau misalnya pemerintah Aceh Besar beralasan bahwa pemerintahan akan berjalan efektif dan permasalahan yang dihadapi oleh rakyat akan bisa diatasi,” kata Rahmad.

Dia mengatakan salah satu kendala yang dialami oleh masyarakat Aceh Besar hari ini adalah jarak jangkauan ibukota kabupaten, yang berada di Jantho. Menurutnya, warga yang hendak mengurus keperluan berkaitan dengan pemerintahan membutuhkan waktu satu hingga dua jam perjalanan jika menempuh jalur darat.

“Bayangkan saja kalau mereka yang tinggal di Pulo Aceh, itu baru dari sisi waktu, belum lagi dari sisi finansial yang harus masyarakat keluarkan. Dan kami sangat yakin bahwa pemerintah Aceh Besar hari ini juga memiliki permasalah yang sama dalam menjangkau dan mengelola semua wilayah yang ada di Aceh Besar,” kata Rahmad.

Di sisi lain, Rahmad merujuk pada sejarah perjalanan Kabupaten Aceh Besar yang kurang memberikan perhatian kepada daerah pesisir. “Dan itu saya kira sangat tidak baik dalam proses bernegara,” ujarnya.

Rahmad Saputra juga menjelaskan dengan adanya pemekaran, ada banyak sisi manfaat yang akan didapatkan. Salah satunya adalah rentan kendali pemerintah akan lebih dekat dengan wilayah yang tidak begitu luas.

“Pemerintah akan lebih mudah dan fokus melakukan pembangunan terhadap kesejahteraan masyarakatnya, kemudian alokasi DAU dan DAK dari pemerintah pusat secara otomatis akan bertambah sesuai ketentuan berlaku. Dan itu saya kira cukup mengutungkan rakyat Aceh Besar,” ujarnya.

Dia lantas mencontohkan dengan pemekaran Aceh Barat menjadi beberapa kabupaten lain. Menurutnya pemekaran daerah bukanlah barang haram dan juga bukan momok menakutkan. Hal ini, kata dia, juga diatur dalam undang-undang yang berlaku di Indonesia.

Menyikapi hal tersebut, Fokus Gempar mendesak pemerintah kabupaten, DPRK, dan Pemerintah Aceh serta DPRA untuk memberikan rekomendasi pemekaran wilayah di Aceh Besar.

“Fokus-Gempar juga berharap pemerintah tidak melihat pemekaran daerah dari sisi politis dan sisi kepentingan kelompok, tetapi pemekaran harus dilihat dari sisi positif dan keuntungan bagi rakyat banyak,” katanya.[](bna)

Ini Tujuan Dasar Pembentukan Kabupaten Aceh Raya

Ini Tujuan Dasar Pembentukan Kabupaten Aceh Raya

JANTHO – Kepanitiaan Pemekaran Aceh Raya sudah menyiapkan segala dokumen dalam rangka pembentukan kabupaten baru. Panitia juga sudah menyiapkan kantor kesekretariatan di Jalan Ulee Lheue-Peukan Bada yang dipeusijuk hari ini, Jumat, 18 September 2015.

Sedikitnya terdapat tujuh kecamatan yang diwacanakan termasuk dalam Aceh Raya. Adapun tujuh kecamatan tersebut adalah Kecamatan Lhoong, Leupung, Lhoknga, Peukan Bada, Darul Kamal, Darul Imarah dan Pulo Aceh.

Menurut Ketua Panitia, Dahlan Sulaiman, tujuan dasar pembentukan Aceh Raya ini untuk mempersingkat dan mendekatkan hubungan masyarakat dengan pemerintah. Pasalnya, selama ini untuk tujuh kecamatan ini berhubungan ke Jantho sebagai ibu kota Aceh Besar. Padahal letak geografis ibu kota kabupaten tersebut terlalu jauh sehingga langkah ini dilakukan untuk memangkas rentang kendalinya.

“Serta sumber daya manusia dan sumber daya alam di Kabupaten Aceh Besar sangat layak untuk diekploitasi lebih jauh lagi. Kita punya sumber daya manusia yang mumpuni dan memadai di Aceh Besar. Sementara semuanya ini menumpuk di Kabupaten Aceh Besar dan pusat pemerintahan di Jantho,” kata Dahlan.

Potensi yang ada di Aceh Besar, katanya, bisa dikembangkan lagi sehingga lebih berdaya guna. Sementara untuk ibu kota Aceh Raya hingga saat ini panitia belum membicarakan hal tersebut.

“Tetapi sesuai peraturan perundang-undangan, tentu tidak boleh terlalu dekat dengan kota tingkat dua yang lain. Kemudian seyogyanya fasilitas-fasilitas yang ada di calon ibu kota itu sudah memadai, baik infrastruktur, sarana dan prasarana serta layak menjadi sebuah ibu kota kemudian letaknya strategis berada di tengah-tengah antara kecamatan-kecamatan yang dimekarkan menjadi kabupaten Aceh Raya,” ujar Dahlan.

Ketua Komite Mahasiswa Aceh Raya, Firmansyah mengatakan, hari ini delegasi panitia pemekaran telah menerima mandat sekaligus peresmian kantor kesektariatan Aceh Raya. Mahasiswa berkomitmen dalam menjalankan hal ini membutuhkan semangat dan ide kawan-kawan, baik yang lama maupun yang baru, untuk bersama-sama merangkul bagaimana Aceh Raya ke depan bisa secepatnya mekar.

“Kemudian program yang telah kami susun ada beberapa hal, di antaranya mencari momen silaturrahmi dalam lebaran dan mengibarkan spanduk bahwa Aceh Raya sudah di ambang pintu untuk pemekaran. Serta program selanjutnya adalah kita akan mendesak DPRA dengan silaturrahmi untuk membicarakan soal pemekaran Aceh Raya agar berjalan dengan lancar dan sukses,” kata Firmansyah.[](bna)

Dahlan: Pemekaran Aceh Raya Tinggal Tiga Langkah Lagi

Dahlan: Pemekaran Aceh Raya Tinggal Tiga Langkah Lagi

JANTHO – Sekret Aceh Raya yang beralamat di Jalan Ulhe-Lhee, Simpang Rima, Nomor 88, Peukan Bada, Aceh Besar, resmi dipeusijuk, Jumat, 18 September 2015.

“Sampai hari ini, kita untuk ketiga kalinya pindah kesektariatan. Dulu sekretariat kita di Ajun kemudian pindah ke Simpang Dodik, setelah itu sekarang berpindah ke kediaman saya dan semua perlengkapan sudah saya sediakan,” ujar Dahlan Sulaiman, SE, selaku ketua panitia pembentukan Aceh Raya saat ditemui portalsatu.com di kediamannya sore tadi.

Dahlan berharap dengan adanya sekret baru dan kelengkapan tempat tersebut, pemekaran Aceh Raya akan segera terealisasi. Adapun tiga hal yang akan segera diupayakan tersebut adalah persetujuan DPRA, persetujuan Gubernur Aceh, dan penandatanganan peta batas wilayah oleh kabupaten kota, yaitu Kota Sabang, Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Jaya.

“Tiga langkah inilah yang masih tinggal untuk tingkat daerah. Kemudian setelah ini semua selesai kita akan hantarkan ini dan melengkapi dokumen yang pernah kita hantarkan ke Kementerian Dalam Negeri. Sementara lainnya sudah lengkap. Kita berharap sebelum Pilkada 2017 masalah pemekaran Aceh Raya ini sudah selesai,” ujarnya.[](bna)

Tim Pemekaran Aceh Raya Audiensi dengan DPRA

Tim Pemekaran Aceh Raya Audiensi dengan DPRA

Banda Aceh – Tim pemekaran Kabupaten Aceh Raya dari Kabupaten Induk Aceh Besar melakukan audiensi dengan Pimpinan DPR Aceh, Jumat.

Pertemuan tim pemekaran Kabupaten Aceh Raya dari Kabupaten induk Aceh Besar itu berlangsung di ruang kerja Wakil Ketua III DPR Aceh, Banda Aceh.

“Panitia akan berupaya agar pembentukan Aceh Raya akan segera terwujud,” kata salah seorang Panitia Pemekaran Aceh Raya H Abdurrahman Ahmad usai audiensi dengan pimpinan DPRA.

Ia menjelaskan pihaknya akan terus berupaya agar segera terbitnya rekomendasi dari DPR Aceh dan pengantar dari Gubernur Aceh, sehingga upaya mempercepat terbentuknya Kabupaten Aceh Raya dapat segera terwujud.

Ia menjelaskan dalam pertemuan dengan Pimpinan DPRA itu hadir Wakil Ketua I Sulaiman Abda, Wakil Ketua II T Irwan Djohan dan Wakil Ketua III Dalimi dan dari panitia pemekaran Aceh Raya diantaranya  Dahlan Sulaiman, Anwar Ahmad dan Prof Jamaluddin Ahmad.

Abdurrahman yang juga anggota DPRA dari dapil I itu mengatakan pemekaran Aceh Raya telah melalui proses panjang sejak Januari 1999.

“Insya Allah saya bersama tim akan berusaha agar pemekaran Aceh Raya dapat segera terwujud,” katanya.

Politisi dari Partai Gerindra itu mengatakan pimpinan DPRA yang hadir dalam pertemuan tersebut juga memberikan dukungan.

Ia menambahkan dalam pertemuan Tim Pemekaran Aceh Raya dengan pimpinan DPRA juga hadir panitia dari Pemekaran Aceh Rayeuk. | sumber: antara

Dewan Sambut Positif Rencana Pemekaran Aceh Besar

Dewan Sambut Positif Rencana Pemekaran Aceh Besar

BANDA ACEH – Luasnya wilayah Kabupaten Aceh Besar membuat masyarakat sulit menjangkau pusat administrasi. Hal ini menjadi alasan masyarakat 7 kecamatan minta pemekaran.

Rencananya Kabupaten Aceh Besar yang dipimpin oleh Mukhlis Basyah selaku Bupati dari Partai Aceh akan dimekarkan tiga kabupaten, yaitu Aceh Besar selaku kabupaten induk, Aceh Rayeuk dan Aceh Raya.

Rencana pemekaran ini yang diajukan oleh sejumlah tokoh masyarakat 7 kecamatan ini mendapat sambutan baik dari seorang anggora Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Besar. Anggota dewan ini mengaku menyambut positif rencana tersebut.

“Kami akan menampung aspirasi rakyat yang berkeinginan untuk pemekaran Kabupaten Aceh Besar, menjadi tiga bagian, yakni Aceh Besar Aceh Rayek dan Aceh Raya,” kata anggota Komisi E, DPRK Aceh Besar, Tgk Mufaddhal Zakaria, Rabu (20/5).

Mufaddhal mengaku wacana pemekaran Kabupaten Aceh Besar memang pernah mencuat beberapa tahun lalu dan kemudian tenggelam. Sekarang dari 23 kecamatan di Aceh Besar, ada 7 kecamatan yang sudah menyatakan dukungan untuk dilakukan pemekaran. 7 Kecamatan yang mendukung penuh adalah Blang Bintang, Ingin Jaya, Darussalam, Kuta Baroe, Krueng Barona Jaya, Masjid Raya dan Baitussalam.

“Ada tujuh kecamatan sudah menyatakan setuju terhadap pemekaran Aceh Besar. Tuntutan tersebut menjadi tugas penting kami di dewan, karena mengingat banyak sekali keluhan masyarakat yang butuh pelayanan pemerintah selama ini,” jelasnya.

Kata Mufaddhal, ada alasan lain yang mengharuskan Aceh Besar untuk dimekarkan. Selama ini minimnya serapan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari eksekutif berdalih sebaran wilayah Aceh Besar yang luas, sehingga sulit terjangkau.

“Dari beberapa kali pertemuan dengan pemerintah, dewan selalu mempertanyakan hasil target PAD, dan mereka selalu berdalih luasnya wilayah membuat mereka sulit untuk mengontrol PAD, pasalnya kantor mereka berada di Jantho,” tegasnya.

Begitu halnya dengan masyarakat di Kecamatan Lhoong, jelasnya, untuk mengurus satu surat saja harus menempuh 2,5 jam, bahkan mereka sering mengeluh kalau pengurusan surat di Aceh Besar sangat sulit.

Mufaddhal selaku wakil rakyat, pihaknya akan terus menindak lanjuti keinginan rakyat dan akan melakukan rapat khusus pemekaran Aceh Besar seperti tuntutan rakyat.

“Kami akan menampung keinginan rakyat dan akan memperjuangkan bersama rakyat agar keinginan rakyat bisa terwujud, semoga permasalahan ini bisa terwujud,” tutupnya.[] sumber: merdeka.com

Hujan Es dan Puting Beliung Landa Dua Desa di Aceh Besar

Hujan Es dan Puting Beliung Landa Dua Desa di Aceh Besar

ACEH BESAR – Dua desa di Kecamatan Kuta Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar dilanda angin puting beliung, disusul hujan menyerupai es pada Minggu (2/8/2015). Sejumlah rumah dengan konstruksi papan dan beratap seng ambruk hingga menyebabkan warga setempat panik dan berlari berupaya menyelamatkan diri ke tempat yang dianggap aman.

Desa yang dilanda bencana tersebut adalah Desa Lamsie dan Desa Lam Aling. Menurut warga setempat, kejadian tersebut hanya berlangsung selama 15 menit dan mengakibatkan puluhan pohon tumbang, 16 rumah rusak ringan dan sedang serta 4 rumah rata dengan tanah.

Warga mulanya mengira hanya hujan dan angin biasa. Namun tiba-tiba ada suara benturan keras di atas atap rumah yang kemudian diketahui hujan yang mirip serbuk batu es.

“Saat itu saya lagi duduk di depan rumah, terus saya mengira hujan biasa, tapi tiba-tiba ada angin kencang dan turun hujan warna putih,” kata Abdul (30) seorang warga yang rumahnya ambruk rata dengan tanahnya, Minggu (2/8/2015).

Awalnya, Abdul mengaku bertahan dan berlindung di rumah miliknya. Akan tetapi berselang beberapa menit kondisinya semakin mengkhawatirkan. Sehingga ia berinisiatif menyelamatkan anak-anaknya ke rumah tetangga.

“Karena kondisinya tidak memungkinkan lagi, saya menyelamatkan diri ke rumah tetangga dan tak berselang lama rumah sayapun ambruk,” ujarnya.

Senada dengan itu, kepala Desa Lamsie, Mundasir mengaku kejadian seperti itu baru pertama kali terjadi. Saat kejadian seluruh warganya panik, ketakutan dan masing-masing menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman.

“Ini baru pertama kali terjadi, jadi semua panik karena suara atap rumah yang terdiri dari seng, terdengar sangat keras, persis seperti dilempar batu es,” kata Mundasir.

Saat ini, Mundasir mengaku tengah melakukan pendataan rumah dan sejumlah fasilitas lainnya yang mengalami kerusakan. Atas kejadian ini, Mundasir mengaku sudah melaporkan pada pihak Camat setempat.

“Sudah saya laporkan pada Camat, nanti Camat akan melaporkan pada BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) dan Dinas Sosial,” ungkapnya.

Sementara itu Camat Kecamatan Kuta Cot Glie, Tajuddin mengaku sudah membuat laporan kejadian ini pada pihak BPBD dan Dinas Sosial Kabupaten Aceh Besar. Nantinya Dinas Sosial akan memberikan bantuan tanggap darurat bagi warga yang membutuhkan.

“Yang rumah rusak atau roboh kita akan usahakan bantuan tenda untuk berteduh sementara, termasuk akan menyalurkan bantuan makanan seperti beras dan lainnya. Kejadian ini sudah kami laporkan kepada camat dan BPBD,” katanya. | sumber: kompas.com

Foto: Hujan es di Medan. Dok. Detik

 

Nanda Mariska; Berawal dari Hobi Jalan-jalan

Nanda Mariska; Berawal dari Hobi Jalan-jalan

BERAWAL dari hobby jalan-jalan, Duta Wisata Aceh Besar 2015 ini mengaku melihat potensi pariwisata Aceh, terutama Aceh Besar, yang cukup banyak dan memukau. Hal ini pula  menjadi motivasi baginya dalam mengikuti ajang Duta Wisata.

Dia adalah Nanda Mariska, gadis kelahiran Aceh Besar, 29 November 1990. Nanda baru saja memperoleh prestasi pertamanya di atas panggung pada May 2015 lalu.

Meskipun jabatannya sebagai Duta Wisata, ia juga bekerja sebagai konsultan geothermal di WWF Indonesia kantor program Aceh dan masih berstatus mahasiswi di Universitas Sumatera Utara Medan. “Terkadang juga terlibat aktif pada beberapa kegiatan komunitas yang bersifat fleksibel,” kata Nanda lewat elektronik mail ke portalsatu.com, Senin 13 Juli 2015.

Meskipun agendanya penuh, namun Nanda sangat lihai dalam memanajemenkan waktunya antara kuliah dan kerja sekaligus profesinya sebagai duta. “Kerja hari Senin sampai Kamis, semenatra kuliah Jumat dan Sabtu. Sisa hari minggunya untuk kegiatan lain, kalau kegiatan sebagai duta tidak rutin, jadi sangat fleksibel,” kata dara pencinta travelling ini.

Terjun dunia wisata baru dilakoninya sejak 2015, dengan potensi pariwisata Aceh Besar yang memukau itu menjadi daya tariknya, namun ada problema dibalik itu. “Banyaknya sampah dan lokasi pariwisata yang tidak memberi akses untuk perempuan. Jadi saya ingin menjadi mediator untuk menggali saran dari berbagai pihak sebagai upaya untuk merumuskan solusi terbaik bagi pengembangan pariwisata Aceh Besar,” ujarnya.

Menjadi Duta Pariwisata Aceh Besar adalah prestasi diatas pentas pertama kali yang sangat membanggakan bagi Nanda. Hal ini tentu saja tidak bisa diperolehnya tanpa ada pengalaman dari berbagai kegiatan lapangan dan lingkungan pergaulan yang membentuk karakter dan membuka cakrawala berpikir Nanda. “Semua yang saya peroleh saat ini, baik pendidikan, pekerjaan, serta dukungan dari keluarga dan teman adalah capaian terbaik yang akan terus saya jaga,” ungkap gadis yang pandai membuat kue tradisional Aceh ini.

Nanda berbagi cerita tentang hal menarik saat mengikuti duta pariwisata. Baginya hal menarik itu saat wawancara. “Saat sesi wawancara saya mengetahui banyak hal mengenai budaya Aceh, terutama Aceh Besar. Hal baru yang sangat berharga mengenai identitas budaya Aceh,” kata alumni Kesejahteraan Sosial UIN AR-Raniry ini.

Bagi Nanda, ia juga beruntung mendapatkan teman baru dari finalis Duta Wisata Aceh Besar yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa hingga sekarang bisa diajak diskusi dan tergabung dalam wadah Duta Rayeuk serta menjadi tim yang solid. “Semua ikut terlibat aktif dalam kegiatan dan saya belajar banyak hal dari mereka,” katanya.

Dengan kesibukan kuliah dan karirnya itu, Nanda banyak menghabiskan waktunya bersama teman dalam berbagai kegiatan karena lingkungan pergaulan adalah orang-orang yang sangat berpengaruh dalam hidupnya. “Saya belajar banyak hal dari teman-teman, baik tentang kehidupan, motivasi, sikap, pengalaman, pengetahuan, dan lain-lain,” kata anggota Pelajar Islam Indonesia ini.

Harapannya ke depan, sebagai Inong Aceh, ia memiliki misi belajar untuk persiapan menuju tingkat provinsi. “Jika nanti menjadi juara propinsi (Amin) saya masih harus belajar lebih banyak lagi agar dapat mengharumkan nama Aceh di ajang nasional karena hal yang ingin saya lakukan adalah menjalin relasi dengan pihak terkait dan meningkatkan kapasitas serta peran pemuda Aceh untuk pengembangan pariwisata. Mohon doa dan dukungannya rakan,” ujar Nanda. [] (mal)

Foto; Nanda Mariska

Nina Duta Wisata Aceh Besar 2014; Antara Kampus dan Karir

Nina Duta Wisata Aceh Besar 2014; Antara Kampus dan Karir

Nina Maulidia Rizka, lekat disapa Nina. Ia Duta Wisata Aceh Besar 2014 dan tercatat sebagai mahasiswi tingkat akhir di Ilmu Komunikasi FISIP Unsyiah. Dara asal Lhoong, Aceh Besar, ini aktif di beberapa organisasi. Ia diamanahkan menjadi Bendahara Umum Ikatan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Lhoong (IPPEMAL) serta pernah aktif pada Himpunan Mahasiswa Komunikasi (HIMAKASI) periode 2012-2013.

Dara kelahiran Aceh Besar, 11 November 1993 tersebut juga memperoleh beberapa prestasi, yaitu Runner Up Duta Wisata Provinsi Aceh 2014, Inong Duta Wisata Aceh Besar 2014, dan Mahasiswi Bidikmisi Berprestasi versi Kemendikbud 2013. Mahasiswi penyandang IPK 3,7 ini juga bekerja sebagai customer service di salah satu toko usaha sablon baju.

Nina mampu menyeimbangkan antara kegiatan kampus dan karirnya di luar. Menurut mahasiswi semester delapan ini, kuliah dan kegiatan pengembangan diri lainnya itu dapat berjalan seiringan. “Jadwal kuliah sekarang ini dapat diatur dan tidak penuh seharian seperti anak sekolah. Jadi waktu-waktu luang itu dapat digunakan untuk melakukan kegiatan positif lainnya,” ujar anak kedua dari tiga bersaudara ini kepada portalsatu.com, Jumat, 10 Juli 2015.

Katanya, ketika ia terpilih menjadi Duta Wisata Aceh Besar, masih banyak mata kuliah yang harus diambil, berbeda dengan sekarang hanya mengerjakan skripsi. Namun waktu itu ia dapat menjalankan semuanya dengan baik. Bahkan ia juga memiliki kerja part time. “Walaupun terkadang harus ada yang harus dikorbankan jika kebetulan ada jadwal yang saling berbenturan. Tetapi disitulah saya melatih tanggung jawab dan cara pengambilan keputusan terhadap diri saya sendiri,” tutur Nina mahasiswi yang hobi baca buku ini.

Dalam hidupnya, Nina memiliki orang yang sangat berpengaruh, yaitu keluarga dan kedua almarhum orangtuannya serta adik dan abangnya. “Mereka sangat memahami sifat dan keinginan saya dan mereka itu selalau ada untuk saya,” kata pencinta travelling ini.

Nina memiliki cita-cita menjadi pengusaha sukses, motivasinya dalam mengikuti berbagai kegiatan adalah untuk melatih dirinya menjadi lebih baik lagi dan belajar lebih banyak lagi.

“Saya dari dulu senang berkomunikasi dengan banyak orang, saya suka hal-hal baru dan selalu kagum ketika melihat sesuatu yang baru pada diri saya,” ujarnya. Ia yakin dekat atau jauh, besar atau kecil hal yang dilakukannya pasti ada sesuatu yang diperoleh nantinya. “Harapan saya pemuda-pemudi Aceh menjadi pemuda-pemudi yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga cerdas emosional,” katanya.[]

Foto: Nina Maulidia Rizka. @Ist

Ramadan, IMKa Gelar Pelatihan Kepemimpinan Dasar

Ramadan, IMKa Gelar Pelatihan Kepemimpinan Dasar

JANTHO- Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Kuta Baro (IMKa) menggelar Latihan Kepemimpinan Dasar (LKD) yang diselenggarakan di MAN Kutabaro, Kabupaten Aceh Besar, sejak Jumat hingga Selasa, 26-30 Juni 2015.

LKD Jilid V ini resmi ditutup Senin malam yang diikuti oleh 72 peserta tingkat SMP, SMA sederajat serta mahasiswa semester satu dan dua.

Sufriadi Idris, Ketua IMKa, mengatakan bahwa LKD merupakan agenda tahunan yang diadakan setiap tahunnya.

Fadli, Panitia LKD V mengatakan kegiatan ini berjalan dengan lancar. Serta acara ini adalah program kerja dari bidang kaderisasi. “Dengan terselenggaranya LKD ini, maka harapan kami kedepan nantinya mampu melahirkan kader-kader yang aktif, kreatif, dan tangkas,” katanya.

Salah satu peserta, Sarah, mengatakan acara LKD V ini sangat menarik. Hal ini terbuki dari kawan-kawan yang sangat antusias mengikuti LKD yang diselenggarakan oleh IMKa.

“Banyak ilmu dan kawan baru yang kami dapatkan, dan kami sangat berterimakasih kepada seluruh panitia yang telah menyelenggarakan acara ini,” ujarnya. [] (mal)

Banyak Anak Pulau Terluar Aceh Putus Sekolah

Banyak Anak Pulau Terluar Aceh Putus Sekolah

BANDA ACEH – Banyak anak di Kecamatan Pulau Aceh, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, putus sekolah. Jalan rusak dan transportasi yang minim menghalangi anak-anak ke sekolah.

“Saya sangat ingin melanjutkan ke SMP, tapi tidak bisa, karena sekolah sangat jauh dari kampong (kampung) saya tinggal,” ucap Rismawati kepada SH, Rabu (24/6).

Seperti Rismawati yang tinggal di Desa Lapeng, sebagian besar anak, terutama di Pulau Breuh, juga di Kecamatan Pulau Aceh, hanya menamatkan sekolah dasar (SD). Hanya beberapa di antara mereka yang melanjutkan ke sekolah menengah pertama (SMP), sementara yang lain memilih bekerja membantu orang tua.

Rismawati mengatakan, jarak antara desanya dengan SMP mencapai 15 kilometer. Jika jalanan dalam kondisi bagus, Risma—begitu dia biasa disapa—bisa ke sekolah menumpang kendaraan orang tua atau pergi bersama teman-temannya. Persoalannya, jalan desa sangat rusak dan terjal. Sepeda motor warga juga sulit melewati perbukitan. “Kalau dinaiki dua orang, pasti sepeda motor akan mundur karena terjalnya jalan,” ujar Risma.

Siswa yang bisa melanjutkan pendidikan ke SMP hanya yang memiliki saudara di luar Desa Lapeng atau di desa yang berdekatan dengan sekolah. “Dari 10 teman saya yang tamat SD dua tahun lalu, hanya tiga orang yang melanjutkan sekolah. Mereka terpaksa tinggal bersama saudara ayah atau ibu mereka di luar desa,” ujar gadis berusia 14 tahun ini.

Jarak juga yang menjadi alasan Khaidir tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP. Karena tidak sekolah, cowok 15 tahun ini terpaksa membantu pekerjaan orang tuanya. “Saya ikut melaut bersama orang tua saya,” ujarnya.

Terkilir
Sekretaris Desa Lapeng, Kecamatan Pulau Aceh, Saifuddin mengakui banyak anak-anak dari beberapa desa di Pulau Aceh terpaksa tidak melanjutkan sekolah setelah tamat SD lantaran sulitnya transportasi dan terjalnya jalan menuju desa tersebut. Padahal, ada dua SMP di Kecamatan Pulau Aceh, satu di Pulau Nasi dan satu lagi di Pulau Breuh.

Anak perempuan Saifuddin pernah berkali-kali harus dibawa ke tukang urut. Kaki dan tangannya terkilir karena jatuh ketika menaiki tanjakan atau turun tanjakan dengan sepeda motor. “Jangankan anak-anak, orang dewasa saja susah melewati jalan desa yang berbatu dan licin,” tuturnya.

Di musim kemarau saja, lanjutnya, jalan di pulau terluar Aceh itu sangat sulit dilewati. Di waktu hujan, jalan akan semakin hancur. “Bahkan baru dua tahun anak saya sekolah, dua sepeda motor telah rusak,” kata Saifuddin. | sumber: viva.co.id