Tag: 17 Agustus

Pelajar Lhokseumawe Meriahkan Karnaval

Pelajar Lhokseumawe Meriahkan Karnaval

LHOKSEUMAWE – Siswa dari TK, SD, SMP, hingga SMA mengikuti karnaval dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia di Lhokseumawe, Selasa, 18 Agustus 2015. Tidak hanya siswa, tradisi tahunan untuk memeriahkan HUT RI tersebut kali ini juga diikuti oleh puluhan kereta hias dari TNI dan polisi.

“Karnaval ini merupakan momentum bagi masyarakat agar kembali meningkatkan kecintaannya terhadap adat-istiadat yang telah lahir di Nusantara, khususnya adat istiadat kedaerahan,” ujar Wali Kota Suaidi Yahya usai melepas peserta pawai di Lapangan Hiraq Kota Lhokseumawe.

Mayoritas peserta pawai menggunakan baju adat dari seluruh Nusantara, baik Aceh hingga Papua. Selain baju adat, para siswa juga mengenakan pakaian menyerupai dokter, tentara, polisi, petani badut, hingga teroris, serta hantu yang terkenal di Indonesia seperti suster ngesot dan pocong. Peserta berjalan kaki mengikuti rute yang telah ditentukan. Sementara murid-murid TK menggunakan mobil. Pawai ini juga dimeriahkan dengan konvoi kendaraan hias seperti tank, helikopter dan lainnya.

Warga turut memadati rute lokasi karnaval, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Masyarakat juga tak segan-segan memberi tepuk tangan saat peserta pawai lewat, terutama dengan pakaian-pakaian unik.[](bna)

Sudahkah Kita (Aceh) Merdeka?

Sudahkah Kita (Aceh) Merdeka?

KEMARIN kita memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke 70 Republik Indonesia. Artinya 70 tahun sudah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memperoleh kedaulatan untuk mengatur dirinya sendiri usai penjajahan panjang Belanda dan pendudukan Jepang.

Sebagai bagian dari NKRI, Aceh juga turut merayakan HUT RI ke 70 tahun. Namun perayaan kali ini masih terasa hambar. Pasalnya aparat pemerintahan kerap mengimbau warganya untuk mengibarkan bendera jauh-jauh hari memasuki bulan Agustus. Belum lagi imbauan-imbauan itu sering diumumkan melalui corong meunasah atau masjid di setiap gampong yang ada di Aceh. Selain itu, personil TNI dan Polri juga masih bersusah payah patroli untuk mengingatkan warga agar mengibarkan Sang Saka.

Apa penyebabnya? Persoalannya tak lain dan tak bukan adalah kedaulatan hakiki ternyata susah kita (baca: Aceh) raih hingga saat ini. Aceh tidak pernah berhenti bergolak. Perang seakan-akan mendarahgapah di daerah ini. Sejak Belanda menancapkan kukunya di Nusantara, kemudian disusul oleh pendudukan Jepang, konflik Aceh tak pernah redam. Sebut saja kemudian pemberontakan PKI, disusul perang Cumbok, konflik Darul Islam/Tentara Islam Indonesia hingga Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Deretan konflik ini seakan-akan menjadi ‘maop’ untuk orang-orang Aceh. Begitu pula pemerintah Pusat yang sering menganggap Aceh adalah anak bandel, yang patut diawasi saban hari.

Jika kembali membuka kaleidoskop lama semasa konflik, ribuan pemuda Aceh tidak ‘merdeka’ untuk menyampaikan pendapat, tidak ‘merdeka’ berladang dan bercocok tanam hingga harus meninggalkan kampung halaman agar tak menjadi korban peluru nyasar.

Rasa nasionalisme masyarakat Aceh juga seringkali diragukan oleh pemerintah Pusat. Pernah suatu ketika masyarakat Aceh juga dipaksakan mengantongi Kartu Tanda Penduduk atau KTP khusus dengan background merah putih. Nasionalisme yang terkesan dipaksakan.

Hingga saat ini kecurigaan Pusat terhadap Aceh itu masih terlalu kental. Ada yang beda jika Aceh bersuara. Aceh juga seakan-akan terlarang menggunakan kata ‘merdeka’.

Sebut saja contohnya saat ada organisasi politik Aceh yang menggunakan kata Merdeka paskadamai terjadi. Organisasi tersebut langsung mendapat sorotan yang kemudian dipermasalahkan hingga tingkat kementerian. Padahal di tingkat Pusat juga pernah ada organisasi politik di era Reformasi yang menggunakan kata merdeka, seperti Partai Merdeka, misalnya.

Jika ada teriakan ‘merdeka’ yang dikeluarkan, diteriakkan, disampaikan oleh aktivis nasional maka hal itu diidentikkan sebagai nasionalisme yang hebat. Sementara jika ada aktivis Aceh yang berteriak ‘merdeka’ maka akan dianggap sebagai pemberontak.

Indonesia memang sudah merdeka, tapi Aceh belum. Minimal asumsi ini berkembang hingga perdamaian terjadi di daerah ini. Damai belum membuat masyarakat Aceh memperoleh kemerdekaan yang hakiki. Angka pengangguran dan kemiskinan sangat tinggi menyebabkan daerah ini tertinggal dari daerah lain. Aliran dana yang besar untuk Aceh setiap tahunnya justru belum menyentuh lapisan masyarakat paling bawah.

Di sisi lain, Provinsi Aceh juga masih sangat bergantung dengan Sumatera Utara. Setiap pasokan hasil alam, mulai telur hingga sayur masih ‘diimpor’ dari provinsi jiran. Padahal Aceh memiliki lahan yang luas dengan alam yang subur. Namun setiap hendak dikembangkan kerap berbentur di regulasi.

Ini belum lagi berbicara tentang harga minyak bumi, mulai minyak tanah hingga solar yang lumayan mahal dibandingkan di Pulau Jawa. Padahal, minyak itu juga berasal dari perut Aceh yang kemudian diboyong ke Pusat baru didistribusikan kembali ke daerah ini. Aceh hingga saat ini bisa disebut terbelenggu dan belum merdeka.

Saat Aceh memperjuangkan hak-haknya sebagai daerah merdeka di bawah payung Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Tanoh Rincong malah dicurigai. Ditekan dan kemudian dihalang-halangi dengan sejumlah regulasi. Sebut saja di antaranya pembagian hasil minyak bumi dan gas yang belum sesuai dengan kesepahaman Helsinki.

Padahal kemerdekaan yang hakiki baru bisa diraih jika semua persoalan ini segera dituntaskan. Mungkin pada saat itulah, mayoritas rakyat Aceh akan bersuka cita merayakan hari kemerdekaannya tanpa paksaan. Mengibarkan bendera raksasa serta mencintai negeri ini sepenuhnya.

Aceh pernah memberikan cinta yang begitu besar kepada NKRI. Warga Aceh menyumbang dana agar Presiden Soekarno bisa membeli pesawat. Tokoh Aceh  juga pernah menyumbang emas yang kemudian diabadikan dalam Monumen Nasional. Aceh pernah menjadi pusat pemerintahan Indonesia saat agresi militer Belanda ke dua. Melalui Radio Rimba Raya di Aceh pula Indonesia dinyatakan belum takluk sepenuhnya terhadap Belanda pada saat-saat kemerdekaan tempo dulu.

Namun kemudian mengapa daerah istimewa ini kemudian malah diberikan luka?

Sejatinya sebuah negara merdeka adalah negara yang dicintai oleh rakyatnya dengan rasa nasionalisme bukan paksaan. Ini belum terjadi seutuhnya di Aceh. Hari ini, melalui momentum kemerdekaan Indonesia, seharusnya Pemerintah Pusat menunjukkan cintanya kepada Aceh. Ini penting, agar rakyat di daerah ini kembali bisa merasakan kemerdekaan dan mencintai Indonesia seutuhnya. Amin. []

Elemen Sipil Laksanakan Upacara di Puncak Bur Ni Telong

Elemen Sipil Laksanakan Upacara di Puncak Bur Ni Telong

BENER MERIAH – Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Komunitas Penjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (KPNKRI) melaksanakan upacara bendera memperingati kemerdekaan Indonesia ke 70 di puncak gunung Bur Ni Telong, Bener Meriah, Senin, 17 Agustus 2015.

“Kegiatan tersebut bertujuan untuk memelihara serta meningkatkan jiwa bela bangsa dan negara di tubuh pemuda pemudi selaku anak bangsa Indonesia,” ujar koordinator kegiatan, Warto atau sering disapa Rengkop kepada portalsatu.com.

Dia mengatakan lokasi yang masuk dalam wilayah administratif Gampong Rambuni, Kecamatan Timang Gajah, Bener Meriah tersebut sengaja dipilih untuk menumbukan cinta para generasi muda kepada alam.

“Rangkaian kegiatan dalam rangka HUT RI ke 70 tersebut telah dilaksanakan sejak dini hari tadi, yakni pada pukul 00.00 wib,” katanya.

Menurutnya seluruh peserta juga melaksanakan malam renungan suci di puncak Bur Ni Telong yang berada di ketinggian 2624 MDPL tersebut. Kegiatan ini diikuti oleh 250 orang dari berbagai organisasi dan lembaga pencinta alam.

“Walaupun dengan suhu sekitar 20 derajat celcius, namun seluruh peserta tetap antusias,” ujarnya.[](bna)

Secercah Harapan dari Guru Daerah Terpencil di Hari Kemerdekaan

Secercah Harapan dari Guru Daerah Terpencil di Hari Kemerdekaan

BANDA ACEH – Ainul Mardhiah, salah satu guru program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) asal Aceh yang ditempatkan di pedalaman Kalimantan Barat berharap pemerintah dapat menyentuh dan memperhatikan sektor pendidikan di daerah pedalaman. Hal ini disampaikan oleh Ayi, sapaan akrab Ainul Mardhiah, menyikapi hari kemerdekaan Indonesia ke 70, Senin, 17 Agustus 2015.

“Harapan saya, sektor fasilitas pendidikan bisa menjangkau daerah pedalaman seperti Kabupaten Landak ini. Pemerintah seharusnya melihat bahwa banyak anak-anak SD, SMP, SMA yang berjalan kaki berjam-jam ke sekolah dengan tanpa alas kaki karena akses jalan tidak ada,” kata Ainul Mardiah kepada portalsatu.com.

Ayi mengatakan struktur tanah di Kabupaten Landak tersebut didominasi oleh tanah merah. Akibatnya daerah tersebut kerap becek jika hujan. Selain itu bangunan sekolah di daerah tersebut juga sudah tidak layak huni.

“Jumlah guru juga harus ditambah karena masalah guru ini sangat penting,” ujarnya.

Ainul mengatakan sebenarnya banyak tenaga guru di ibukota provinsi yang bisa dipergunakan jasanya untuk mengajar di daerah pedalaman. Namun banyak yang tidak bertahan mengajar di pedalaman lantaran honor yang diberikan sebesar Rp300 ribu per bulan tidak mencukupi lantaran biaya hidup yang sangat mahal.

“Ditambah lagi tidak adanya listrik dan sinyal sangat menyulitkan untuk tinggal di pedalaman, sehingga media pembelajaran elektronik sulit dikembangkan,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Muzakkir, salah satu peserta program SM-3T asal Aceh lainnya. Dia berharap Indonesia bisa lebih maju dan peduli terhadap pendidikan terutama untuk daerah pedalaman di hari kemerdekaan ini.

“Semoga program yang saya ikuti ini SM-3T terus berlanjut, karena program kementerian pendidikan ini sangat membantu sekolah-sekolah di pedalaman, sambil menunggu guru-guru yang bisa di PNS-kan ke daerah pedalaman,” katanya.

“Bayangkan saja, 70 tahun Indonesia merdeka, desa tempat saya mengabdi di Desa Meranti, Dusun Moro Behe 1, Landak, Kalimantan Barat belum ada listrik, sinyal HP Masih di awan-awan. Semoga ke depannya Indonesia bisa berubah,” katanya.[](bna)

Peringati Proklamasi, Warga Diminta Hening Cipta di Bekas Hotel Aceh

Peringati Proklamasi, Warga Diminta Hening Cipta di Bekas Hotel Aceh

BANDA ACEH – Koordinator Pusat Mahasiswa dan Pemuda Peduli Perdamaian Aceh (MaPPA), Azwar AG, menilai pengibaran bendera raksasa merah putih di Gunong Halimon, Pidie, terlalu berlebihan.

“Menurut saya itu terlalu lebay alias berlebihan. Kalau hanya sekedar peringatan hari kemerdekaan Indonesia, maka Gunong Halimon adalah tempat yang salah untuk dikibarkan,” kata Azwar kepada portalsatu.com, Banda Aceh, Senin, 17 Agustus 2015.

Dia menilai pengibaran bendera Merah Putih sejatinya bisa dilakukan di tempat-tempat yang memiliki latar belakang sejarah lebih besar untuk kepentingan Indonesia.

“Tempat dimana Presiden Soekarno meneteskan air mata saat meminta bantuan Aceh untuk membawa Indonesia ke pentas dunia, untuk memberitakan kemerdekaan, walaupun kemudian tidak ada terima kasih untuk bangsa yang pernah membantunya,” ujarnya.

bekas hotel aceh-kompasiana
Lokasi bekas Hotel Aceh kini hanya terdapat beberapa tiang yang dicat dengan ragam warna oleh pemerintah. @kompasiana

Tempat yang dimaksud oleh Azwar adalah lokasi bekas Hotel Aceh yang berada di samping Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh atau di sisi kiri Barata Departemen Store. Di tempat inilah Azwar mengharapkan seluruh masyarakat Aceh berkumpul untuk melakukan hening cipta dalam rangka memperingati 17 Agustus setiap tahunnya.

“Tempat itu adalah tempat dimana babak baru sejarah Aceh dimulai atau lebih dikenal sebagai air mata dan tipu muslihat,” ujarnya lagi.

Selain itu Azwar juga berharap adanya pengibaran bendera raksasa Merah Putih di bekas Radio Rimba Raya, Aceh Tengah. Pasalnya radio ini adalah satu-satunya radio yang memberitakan masih adanya Indonesia saat agresi militer Belanda ke dua dilakukan.

“Seharusnya ini yang harus dikampanyekan agar semua penduduk Indonesia tahu sejarah perjuangan Aceh untuk membantu kemerdekaan Negara Indonesia, yang selama ini banyak yang tidak tahu bagaimana sejarahnya,” ujarnya lagi.[](bna)

Foto atas: Hotel Aceh tempat Presiden RI Soekarno menangis saat meminta bantuan para tokoh Aceh agar mau menyumbangkan dana dan membantu kemerdekaan Indonesia. @Kaskus

“Uroe Nyoe Tanyoe Siap Ta Meuprang”

“Uroe Nyoe Tanyoe Siap Ta Meuprang”

IDI RAYEUK – “Tanyoe hana pue yoe keu kaphe-kaphe penjajah nyan. Uroe nyoe tanyoe siap ta meuprang (kita tidak perlu takut dengan para penjajah itu. Hari ini kita siap berperang),” ujar seorang wanita berjilbab hitam seraya mengacung-acungkan sebilah rencong di Lapangan Desa Seuneubok Aceh, Kecamatan Nurul Aman, Kabupaten Aceh Timur, Senin, 17 Agustus 2015.

Usai kata-kata tersebut beberapa orang sipil lantas menyerang sekelompok pria berpakaian militer. Mereka mengayun-ayunkan kelewang dan rencong. Banyak di antara prajurit yang tewas dalam serangan tersebut.

Demikian salah satu adegan drama yang diperagakan oleh 30 siswa SMA N 1 Darul Aman, Aceh Timur, saat memperingati hari kemerdekaan. Kisah ini mengambil cerita Cut Nyak Dhien, salah satu pejuang wanita asal Aceh yang gigih melawan Belanda usai suaminya Teuku Umar meninggal dunia.

Ada beberapa adegan yang dimainkan dalam kegiatan tersebut. Termasuk di antaranya saat Cut Nyak Dhien ditangkap oleh Belanda akibat pengkhianatan Pang Raoh. Drama tersebut dimainkan pada pukul 08.30 WIB dan berlangsung selama 30 menit sebelum upacara 17 Agustus dimulai.

pemeran drama cut nyakTokoh Cut Nyak diperankan oleh Khairun sementara Teuku Umar dilakoni oleh Fajar Bahri. Keduanya mengaku bangga bisa berperan sebagai pahlawan Aceh yang gigih melawan Belanda.

“Drama yang kita angkat ini bertujuan untuk mengenang jasa perjuangan pahlawan Aceh, yang hampir luput dari sejarahnya,” ujar Nurmalis, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 1 Darul Aman.

Menurutnya Cut Nyak Dhien merupakan salah satu tokoh Aceh yang patut dibanggakan.

“Apalagi kita di Aceh, dalam memperingati 70 tahun kemerdekaan Indonesia merasa sangat layak drama Cut Nyak Dhien ini kita angkat,” katanya.[](bna)

Foto: Begini Kondisi Peserta Upacara di Kluet Tengah Usai Banjir

Foto: Begini Kondisi Peserta Upacara di Kluet Tengah Usai Banjir

TAPAK TUAN – Upacara pengibaran bendera Merah Putih memperingati Hari Ulang Tahun ke-70 Republik Indonesia di Kluet Tengah, Aceh Selatan, berlangsung di lapangan terendam lumpur banjir, Senin, 17 Agustus 2015. Para peserta upacara terpaksa melepas sepatu alias “kaki ayam”. Sekitar 15 siswa tumbang diduga lantaran kondisi fisiknya lemah.

Informasi diperoleh portalsatu.com, upacara dilaksanakan di Lapangan Menggamat, Kecamatan Kluet Tengah, Aceh Selatan. Kondisi lapangan yang tidak mendukung pascabanjir melanda kecamatan tersebut membuat jadwal upacara molor. (Baca selengkapnya: Peserta Upacara di Kluet Tengah “Kaki Ayam” Pascabanjir).[]

upacara di kluet tengah2
@Ist
upacara di kluet tengah1-ist
@Ist
upacara di kluet tengah-ist
@Ist
AC Milan Ucapkan Selamat Hari Kemerdekaan untuk Indonesia

AC Milan Ucapkan Selamat Hari Kemerdekaan untuk Indonesia

JAKARTA – Lewat akun Twitter resminya, AC Milan mengucapkan Selamat Hari Kemerdekaan bagi para Milanisti atau fans mereka di Indonesia. Ucapan selamat Hari Kemerdekaan kepada Indonesia tersebut telah diposting oleh akun Twitter resmi AC Milan, Senin, 17 Agustus 2015 siang, tepat dengan Hari Kemerdekaan Indonesia.

Ucapan tersebut juga diposting dengan dua tagar, yaitu Milanisti Indonesia dan We are AC Milan. “Happy Independence day to all our fans from Indonesia! #MilanistiIndonesia #weareacmilan.”

Tidak lama setelah ucapan Selamat Hari Kemerdekaan tersebut diposting, jutaan Milanisti, sebutan untuk fans klub AC Milan di Indonesia, telah menyahut dan juga menjadikan ucapan tersebut sebagai tweet favorit.

Setidaknya, 3,8 juta follower sudah menyahut kembali ucapan tersebut ke dalam akun pribadi mereka dengan 802 pengikut yang menjadikannya sebagai favorit.

Milan sendiri memang salah satu klub sepak bola dari Italia, yang sudah meraih sangat banyak trofi sejak didirikan sejak tahun 1899. AC Milan juga merupakan salah satu klub terbaik di dunia, yang juga melahirkan sangat banyak pemain sepak bola legendaris, salah satunya Paolo Maldini.[] sumber: republika.co.id

Tahun Depan, Remisi Napi Diberikan Secara Online

Tahun Depan, Remisi Napi Diberikan Secara Online

TAKENGON – Kementerian Hukum dan HAM RI tahun depan akan memberlakukan pemberian remisi kepada narapidana melalui sistem online. Kebijakan itu ditempuh untuk mencegah adanya penyalahgunaan wewenang di setiap kepala lapas dan rutan.

“Ini kita berlakukan agar tidak terjadi permainan di tingkat kepala lapas atau rutan dalam memberi remisi kepada narapidana,” kata Yasonna Laoly seperti amanat putusannya yang dibacakan oleh Bupati Aceh Tengah, Ir. H. Nasaruddin dalam pidato upacara peringatan Hut RI ke-70 di rutan kelas IIB Takengon, Senin, 17 Agustus 2015.

Dalam putusan itu Yosanna juga mengakui meluapnya angka penghuni lapas dan rutan di seluruh Indonesia. Di samping itu dia juga mengaku banyak rutan atau lapas yang jauh dari standar nasional, sehingga keamanan tidak sepenuhnya terjamin.

“Ini butuh kerja keras petugas yang berjaga. Di sisi lain masalah medis dan makanan juga masih menjadi kendala kita,” katanya.

Dia mengatakan sebanyak 60 persen penghuni lapas dan rutan saat ini tersandung kasus narkotika. Untuk menekan angka penyalahgunaan narkoba pihaknya juga telah berkomitmen untuk merehab secara bertahap.

“Yang sudah kita rehab sebanyak 2.266 orang pecandu. Jumlah itu terdiri dari 66 lapas yang ada di seluruh Indonesia” ujarnya.[](bna)

Pemerintah Aceh Fokus Bangun Bagian Tengah dan Barat Selatan

Pemerintah Aceh Fokus Bangun Bagian Tengah dan Barat Selatan

BANDA ACEH – Gubernur Aceh Zaini Abdullah mengatakan akan terus menigkatkan pembangunan infrastruktur, khususnya di Aceh bagian tengah, barat, dan selatan. Hal itu disampaikan usai memperingati kemerdekaan Indonesia yang ke 70 di lapangan Blang Padang Banda Aceh, Senin, 17 Agustus 2015.

“Kita akan fokus melengkapkan pembangunan infrastukrur yang telah kita mulai di bagian tengah, barat, dan selatan,” kata Gubernur Aceh Zaini Abdullah kepada wartawan.

Ia juga mengatakan dalam kepemimpinannya dua tahun ke depan, Pemerintah Aceh akan terus menyejahterakan rakyat dan menekan angka kemiskinan. Gubernur berharap semua program yang telah dicetuskan dalam visi dan misi dapat terealisasi dengan baik.

“Saya berharap semua program dapat berjalan dengan baik, dan secara mayoritas sudah banyak program yang terealisasikan,” ujar Gubernur Zaini Abdullah tanpa merincikan program yang sudah direalisasikan oleh Pemerintah Aceh tersebut.[] (bna)

Laporan: M. Fajarli Iqbal

Foto: Gubernur Aceh Zaini Abdullah saat memperingati Kemerdekaan RI ke 70 di Blang Padang, Banda Aceh. @Ady Gondrong