Tag: 100 tahun museum aceh

Emping, Cara Lain Merasakan Muling

Emping, Cara Lain Merasakan Muling

BANDA ACEH – Kerupuk Muling atau sering disebut Emping merupakan kerupuk khas Aceh yang terbuat dari buah melinjau (muling). Emping kerap ditemui di Aceh, khususnya Pidie, yang menjadi sentra produksi kerupuk tersebut.

Mengolah kerupuk berbahan dasar muling ini tidak begitu sulit. Hanya saja butuh keahlian dalam membuatnya.

Yusmaini, 33 tahun, salah satu pedagang muling asal Pidie, yang ikut serta dalam stand kuliner pada peringatan 100 Tahun Museum Aceh mempraktekkan cara mengolah kerupuk ini di depan para pengunjung. Dia kerap menyodorkan palu untuk membuat kerupuk ini kepada ibu-ibu yang mengunjungi standnya.

“Mau coba peh muling ibu? Silahkan, ini merupakan proses pembuatan muling mulai dari saat digonseng hingga pembentukan menjadi kerupuk,” ujarnya sembari tersenyum kepada portalsatu.com, Sabtu, 1 Agustus 2015.

Awalnya, kata Yusmaini, melinjau terlebih dahulu dikupas lalu digonseng menggunakan pasir. Aneh memang di saat melihat sejumlah pasir terdapat dalam wajan memasak. Namun itu gunanya agar melinjau yang digonseng tidak hangus dan matang secara merata dan hanya menggunakan sumbu api yang kecil.

“Dulu orang membuat kerupuk muling menggunakan dapur tradisional yang terbuat dari tanah, cuma sekarang sudah menggunakan kompor gas serta digonsengnya memang harus menggunakan pasir, kalau tidak ada pasir tidak bisa,” katanya.

Setelah digonseng, biji muling yang masih memiliki kulit keras itu dihancurkan dengan batu. Kemudian biji muling dipipih menggunakan palu di atas talenan khusus dari kayu.

“Bisa juga digandingkan (ditimpa) 3 hingga 5 biji muling untuk ukuran yang lebih besar namun ada juga hanya satu atau dua biji muling saja, bisa diolah sesuai selera,” ujarnya.

Yusmaini mengatakan usai digonseng jangan berlama-lama untuk memimpihkan biji melinjau. Pasalnya jika sudah dingin muling tidak bisa lagi mengembang dan hasil kerupuk nantinya akan keras. “Beu bagah-bagah bek sampe leupi (harus cepat-cepat jangan sampai dingin),” katanya.

Usai menjadi kerupuk semuanya dimasukkan ke dalam jeu ee (tampi) dan dibiarkan mengering. Lalu olahan dikemas dalam plastik sesuai ukuran dan permintaan pelanggan. Harganya dibanderol Rp 60 ribu per kilogram.

“Kebetulan yang ada disini ukuran setengah kilogram. Kami membuat sesuai dengan pesanan, ada juga namanya Lose. Lose harganya lebih mahal yaitu 70 ribu perkilogram,” ujar Yusmaini.[](bna)

Foto: Begini Suasana Pameran Seabad Museum Aceh Hari Ini

Foto: Begini Suasana Pameran Seabad Museum Aceh Hari Ini

BANDA ACEH – Pameran 100 Tahun Meseum Aceh dipadati oleh siswa dari berbagai sekolah di Banda Aceh, Sabtu, 1 Agustus 2015. Para siswa yang datang tersebut beragam, dari SD hingga SMA.

Amatan portalsatu.com usai siang tadi terlihat siswa dengan seragam SMA Negeri 1 Montasik, Aceh Besar, SMA Negeri 3 , SMP 7, MTsN Model, SD Methodis dan SD 6 Banda Aceh hilir mudik mengamati pameran di Museum Aceh yang mengoleksi 6.358 benda ini.[] (Baca: Ratusan Siswa Padati Pameran Seabad Museum Aceh)

pameran5
Siswa mengamati beberapa produk lokal seperti emping melinjo Aceh di pameran Museum Aceh, Sabtu, 1 Agustus 2015. @Zahratil Ainiah/portalsatu.com
pameran2
Pembuatan salah satu makanan khas Aceh, apam, di pamerkan di Museum Aceh, Sabtu, 1 Agustus 2015. @Zahratil Ainiah/portalsatu.com
pameran4
Salah satu benda budaya yang menjadi identitas Aceh seperti rencong turut meramaikan pameran Museum Aceh, Sabtu, 1 Agustus 2015. @Zahratil Ainiah/portalsatu.com
pameran1
Rujak khas Aceh juga hadir di pameran Museum Aceh, Sabtu, 1 Agustus 2015. @Zahratil Ainiah/portalsatu.com

Ratusan Siswa Padati Pameran Seabad Museum Aceh

Ratusan Siswa Padati Pameran Seabad Museum Aceh

BANDA ACEH – Pameran 100 Tahun Meseum Aceh dipadati oleh siswa dari berbagai sekolah di Banda Aceh, Sabtu, 1 Agustus 2015. Para siswa yang datang tersebut beragam, dari SD hingga SMA.

Amatan portalsatu.com usai siang tadi terlihat siswa dengan seragam SMA Negeri 1 Montasik, Aceh Besar, SMA Negeri 3 , SMP 7, MTsN Model, SD Methodis dan SD 6 Banda Aceh hilir mudik mengamati pameran di Museum Aceh yang mengoleksi 6.358 benda ini.

Salah satu pengunjung, Rara, siswi kelas dua SMP Negeri 7 Banda Aceh mengatakan pameran ini sangat bagus dan bermanfaat bagi generasi penerus bangsa. Menurutnya, selama ini yang diketahui hanya sebagian besar benda-benda umum saja seperti rencong dan lambang pintu Aceh.

“Bagi kami khususnya generasi baru, pameran ini sangat bermanfaat karena hal yang tidak tahu sebelumnya menjadi tahu akan peninggalan sejarah dan benda-benda yang terdapat di Aceh pada masa lampau, dan benda yang dipamerkan unik yang tidak terdapat di daerah lain,” kata Rara.

Hal senada disampaikan oleh beberapa siswa SD yang meramaikan Rumah Aceh di kompleks museum tersebut. Tak jarang sebagian dari mereka juga mencatat di bukunya beberapa penjelasan dari benda yang dipamerkan.

“Banyak hal yang kami lihat dan pelajari di sini, dari barang dan benda yang tidak kami tahu. Saya sangat suka sama dapur Aceh dan tempat duduk zaman dahulu. Soalnya di rumah sekarang tidak ada barang-barang seperti ini. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya,” kata Ahmad Khatimil, siswa kelas 6 SD 20 Banda Aceh.

“Saya suka Rumah Aceh zaman dahulu seperti ini, cara membuka pintu saat masuk ke rumah Aceh dibukanya ke atas, unik dan bagus dan saya juga suka foto (lukisan) Sultan Iskandar Muda,” kata Muhammad Firdaus, siswa kelas 6 dari sekolah yang sama.

Selain para siswa, Museum Aceh juga kedatangan beberapa pengunjung dewasa. Salah satunya adalah Jakfar, 48 tahun, warga Sigli. Dia mengatakan sangat berkesan saat mengunjungi museum tersebut.

“Saya baru ke Banda Aceh. Saya pikir apa ramai-ramai, saya masuk. Berkesan sekali peringatan 100 Tahun Museum Aceh ini, peninggalan zaman dahulu ada semua koleksinya di sini dan ini merupakan salah satu wadah bagaiamana memperkenalkan sejarah kepada anak-anak generasi penerus. Bahkan orang dewasa juga banyak yang tidak tahu peninggalan Aceh zaman dahulu,” ujarnya.

Jakfar mengaku terharu ketika barang-barang yang sudah 100 tahun lalu ini kembali dimunculkan dan dipublikasikan kepada masayarakat Aceh.

Adapun koleksi yang dipajang di museum tersebut berupa foto tokoh-tokoh zaman dahulu, pelaminan asli yang belum direnovasi, juree (kamar pengantin), panyot, meriam, genuku (kukur kelapa), peuratah dan ayon.

Selain itu juga ada ambong, empang, jengki, gadeng raksasa, tikar barom, kaligrafi, guci, manuskrip kuno dan berbagai benda lainnya. Di panggung utama juga terdapat penampilan tarian-tarian khas Aceh yang dibawakan oleh siswi SMA 3 Banda Aceh.[](bna)

Banyak Situs Sejarah Ditemukan, Kadisbudpar Aceh: Belum Semuanya Ditetapkan Sebagai…

Banyak Situs Sejarah Ditemukan, Kadisbudpar Aceh: Belum Semuanya Ditetapkan Sebagai…

BANDA ACEH – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Vahlevi, mengatakan Aceh memiliki 400-an situs bersejarah yang kondisinya berbeda-beda. Situs-situs tersebut bisa dimanfaatkan dengan baik menjadi destinasi wisata sejarah baru atau mesin ATM untuk dunia pariwisata Aceh.

“Ada yang baik, ada yang memang masih butuh peningkatan, dan sebagainya. Ada yang membutuhkan pembersihan dan sebagainya. Semua itu kita legalkan dulu, harus punya dasar hukum, yang sebelumnya dikaji oleh kajian,” katanya di sela-sela pameran 100 Tahun Museum Aceh di Banda Aceh saat ditanyakan oleh portalsatu.com, Kamis, 30 Juli 2015 kemarin.

Dia mengatakan banyak nisan-nisan atau situs bernilai sejarah yang ditemukan oleh komunitas-komunitas peduli sejarah Aceh. Sebagian situs ada yang telah dikaji sendiri oleh komunitas tersebut.

“Setelah (mendapat hasil kajian) itu nanti ditetapkan sebagai situs kalau dia memang mengandung nilai sejarah. Itu setelah ditetapkan, yang bisa mendapatkan dukungan pemeliharaan, penjagaan. Dari sekian banyak, ya belum mampu kita lakukan secara cepat dan ada tahapannya. Ini juga nantinya melibatkan kabupaten kota di Aceh,” katanya.[]

Kadisbudpar Aceh: Ada Kekhawatiran Terhadap Kesalahpahaman Budaya dan Sejarah

Kadisbudpar Aceh: Ada Kekhawatiran Terhadap Kesalahpahaman Budaya dan Sejarah

BANDA ACEH – Kegiatan 100 Tahun Museum Aceh merupakan salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengembalikan kesadaran sejarah dan budaya. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Aceh, Reza Vahlevi, usai pembukaan kegiatan seremonial 100 Tahun Museum Aceh, di Banda Aceh, Kamis, 30 Juli 2015.

“Kondisi yang ada sekarang, tidak hanya di Aceh, tapi seluruh Indonesia itu ada kekhawatiran banyak orang terhadap kesalahpahaman tentang kebudayaan dan tentang sejarah, tentang warisan atau tradisi yang ditinggalkan,” katanya.

Menurutnya salah satu upaya bagaimana kebudayaan dan nilai-nilai sejarah terpelihara adalah dengan mengupayakan pelestarian dan perlindungan. Peran tersebut di antaranya dilakukan oleh museum.

“Jadi, kita menginginkan, mengharapkan di usia yang ke 100 ini, Museum Aceh dapat lebih baik memperbaiki dirinya, bagaimana juga di usia yang ke 100 ini juga, lebih meningkatkan partisipasi untuk mengajak dan mendorong masyarakat untuk lebih mencintai museum sesuai tagline kita yaitu museum itu di hatiku,” ujarnya lagi.

Dia mengatakan hal ini dilakukan tidak terlepas dari kepentingan ilmu pengetahuan supaya generasi muda Aceh mengetahui nilai maupun sejarah daerahnya sendiri.

Di sisi lain, kata Reza, pemerintah turut mengembangkan museum-museum lain seperti halnya Museum Tsunami dan museum alam seperti halnya situs-situs cagar budaya yang banyak terdapat di Aceh.

“Tentu kondisi hari ini memerlukan perhatian kita semua, baik itu perhatian pemerintah pusat sehingga museum itu lebih menarik. Kalau mungkin selama ini museum bagi kita belum begitu menarik, terutama di kalangan anak muda, berarti ini yang harus kita lakukan. Inilah tantangan kita,” katanya.[]

Kadisbudpar Aceh: Kita Akan Merintis Pemulangan Benda Sejarah, Tapi…

Kadisbudpar Aceh: Kita Akan Merintis Pemulangan Benda Sejarah, Tapi…

BANDA ACEH – Pemerintah Aceh akan merintis pemulangan dokumen dan benda-benda cagar budaya yang saat ini ada di luar negeri. Namun yang dilakukan nantinya bukan hanya pemulangan atau pengembalian saja, melainkan juga harus menjaga benda-benda tersebut.

“Jadi bukan cuma pemulangan saja, tapi juga bagaimana menjaganya dengan baik. Kita punya informasi yang jelas dan lengkap, dokumen yang lebih baik, tercatat dengan baik, tersimpan dengan baik, yang bisa juga diakses dari sini,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Reza Vahlevi, kepada wartawan di Museum Aceh, Banda Aceh, Kamis, 30 Juli 2015.

“Artinya, dengan melakukan kerjasama dan membuat replika,” katanya lagi.

Dia mengatakan sebenarnya pihaknya sudah memulai program revitalisasi secara bertahap dalam tahun ini. “Tadi yang kita lihat itu, benar-benar hal yang baru. Secara kolektif sebenarnya bukan hal yang baru, tapi pola penyajiannya yang baru. Ini juga akan kita lanjutkan ke depan untuk beberapa areal yang lain,” katanya.

Reza mengatakan banyak benda cagar budaya Aceh yang tersebar di luar daerah termasuk di museum nasional. Namun revitalisasi dan pemeliharaan benda-benda cagar budaya di luar daerah ini memiliki tantangan, termasuk sumber daya manusia dan sarana prasarana.

“Ini membutuhkan penelitian yang khusus dan program lainnya. Tentunya kami berharap program ini tidak hanya melalui APBA juga dari pemerintah pusat. Insya Allah tahun depan bisa kita mulai,” katanya.

Di sisi lain, Reza Vahlevi tidak bisa merincikan jumlah dana yang dibutuhkan untuk program pemeliharaan cagar budaya tersebut. “Kalau angka mungkin harus kita lebih detilkan lagi tergantung tahapan apa yang ingin dicapai,” ujarnya.

Menurut Reza hal tersebut terus berkembang dan bukan sekadar mengumpulkan benda-benda bersejarah saja. Namun ada angkanya. “Nanti kalau sudah kita kumpulkan harus kita kaji lagi, kita digitalisasi seperti manuskrip, jadi ada tahapan-tahapan yang harus diperhitungkan secara lebih detil. Kita baru memperhitungkan untuk pengembangan beberapa dokumen saja. Memaksimalkan yang sekarang. Dan tidak berhenti di koleksi yang sudah ada,” katanya.[]

"Pegawai Museum Bukan Orang Buangan"

"Pegawai Museum Bukan Orang Buangan"

BANDA ACEH – Asisten III Pemerintah Aceh, Muzakar A Gani, mengatakan pegawai yang ditempatkan di museum bukanlah orang-orang buangan. Menurutnya, sumber daya manusia pegawai tersebut masih akan terus dipantau untuk ditempatkan ke posisi yang lebih baik jika memang berprestasi.

“Bapak Ketua AMI (Asosiasi Museum Indonesia) jangan khawatir. Jadi tadi semacam ada kekhawatiran bahwa penempatan pegawai di Museum Aceh seolah buangan. Tidak seperti itu, bahkan saat menjadi kepala museum akan mendapat promosi yang lebih baik lagi,” ujar Muzakar A Gani dalam pembukaan 100 Tahun Museum Aceh di Museum Aceh, Banda Aceh, Kamis, 30 Juli 2015.

Dia kemudian mencontohkan seperti Kepala Museum Aceh saat ini. Menurutnya sosok yang disebutkan tidak hanya menjabat sebagai Kepala Museum Aceh tapi juga menjabat sebagai Sekretaris Dinas Pendidikan Aceh.

“Setelah kita museumkan, kita tarik kembali dan kita tempatkan di tempat lebih baik lagi ke depan. Jadi jangan khawatir. Begitu juga yang lainnya, bekerjalah dengan sebaik-baiknya di museum ini, kami yang ada disana akan memantau dan melihat. Kalau memang prestasinya bagus akan kita tingkatkan lebih baik lagi.”[]

Asisten III: Semua Warisan Aceh Wajib Dilestarikan

Asisten III: Semua Warisan Aceh Wajib Dilestarikan

BANDA ACEH – Museum Aceh diharapkan dapat terus berbenah menjadi universal agar menjadi tempat menyimpan dan melestarikan budaya serta wahana pembelajaran generasi muda Aceh. Hal ini disampaikan oleh Asisten III Pemerintah Aceh, Muzakar A Gani, mewakili Gubernur Aceh Zaini Abdullah saat membuka 100 Tahun Museum Aceh, Kamis, 30 Juli 2015.

“Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan diharapkan dapat memberikan pelatihan guna pengembangan Museum Aceh ini ke depan,” ujarnya.

Dia juga mengatakan Aceh memiliki sejarah panjang peradaban yang dimulai sejak masa pra Islam hingga abad modern. Berbagai hal terjadi dalam perjalanan sejarahnya termasuk budaya yang telah terakulturasi dalam budaya Aceh. Keberagaman tersebut melahirkan berbagai keragaman yang terangkul dalam peradaban Islam. Inilah yang kemudian menjadikan Aceh sebagai daerah istimewa.

“Keberagaman itu meninggalkan jejak budaya, yang menarik wisata. Keberagaman budaya ini terlahir dalam berbagai bentuk, baik benda maupun non benda seperti aturan hukum, sastra, seni budaya dan lain sebagainya. Semua ini adalah warisan Aceh yang wajib kita jaga dan dilestarikan,” katanya.

Dia mengatakan museum sebagai pengawal sejarah harus mendapat dukungan dari semua pihak untuk menjaga warisan ini agar identitas bangsa tetap terjaga.

Menurutnya di era globalisasi ini, banyak kebudayaan luar atau peradaban lintas negara yang masuk dan berkembang di Aceh. Budaya-budaya luar ini ditakutkan akan menggantikan secara perlahan budaya-budaya indatu yang telah ada. Hal ini bisa dilihat dengan hilangnya batas-batas kebudayaan asli Aceh.

“Kita menakutkan anak cucu kita sudah tidak paham lagi dengan sejarah-sejarah kejayaan Iskandar Muda, tidak paham peninggalan benda sejarah, tidak peduli dengan seni-seni daerah dan lupa pada kerja keras pahlawan bangsa. Kalau saja hal ini terjadi maka pondasi moral yang telah ditegakkan para ulama, perlahan-lahan akan runtuh akibat kerapuhannya. Tidak ada lagi peninggalan budaya, sejarah. Yang ada hanyalah gemerlap musik hip hop, musik pop, dan gedung-gedung mewah serta seni ekspresi kebebasan yang tidak terkendali. Sementara identitas ke-Acehan kita hanya dianggap masa lalu yang tidak penting dilestarikan lagi,” katanya.

Menghindari hal ini, lembaga-lembaga berbasis kebudayaan akan ditingkatkan termasuk salah satunya adalah museum. Dia mengatakan ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam peningkatan peran Museum Aceh sebagai penjaga warisan budaya.

“Pertama mendorong kembali kecintaan masyarakat kepada museum dengan mengampanyekan, kedua melakukan revitalisasi Museum Aceh demi terwujudnya museum yang dinamis dan berdayaguna.

Ketiga, benda sejarah yang ada di Museum Aceh juga akan diperkaya, baik dalam koleksi, konservasi, dan reparasi benda budaya dan sejarah. “Selain itu, sumber daya manusia di Museum Aceh juga perlu diperkuat agar lebih variatif dan edukatif sesuai dengan tuntutan zaman,” katanya.[]

Museum Aceh Pamerkan 6.358 Koleksi Benda

Museum Aceh Pamerkan 6.358 Koleksi Benda

BANDA ACEH – Museum Aceh memamerkan 6.358 koleksi dalam pameran 100 Tahun Museum Aceh, Banda Aceh, Kamis, 30 Juli 2015. Benda-benda tersebut berasal dari zaman Kesultanan Aceh Darussalam hingga era kemerdekaan Republik Indonesia.

Beberapa benda budaya yang dipamerkan tersebut seperti meriam, cap sikureung, nisan tinggalan Samudera Pasai, senjata khas Aceh seperti rencong, klewang dan pedang. Selain itu, Museum Aceh juga memamerkan manuskrip-manuskrip kuno yang salah satunya adalah lembaran Bab 7 Bustanussalatin.

pengunjung pameran “Jadi ada 6.358 benda koleksi Museum Aceh yang dipamerkan. Benda-benda tersebut terbagi dalam 10 jenis koleksi, yaitu geologi, biologi, etnografi, arkeologi, historical, numsmatical, filological, keramik, seni rupa, dan teknologi,” ujar Kasi Koleksi dan Bimbingan Edukasi Museum Aceh, Edeh Wardiningsih, saat dijumpai di sela-sela pembukaan pameran 100 Tahun Museum Aceh, Banda Aceh, Kamis, 30 Juli 2015.

Menurut Edeh, benda yang paling banyak dikoleksi Museum Aceh adalah jenis etnografi dan filological. “Khusus filological, itu sekitar 1.600-an, termasuk Bustanussalatin. Tapi dari benda-benda koleksi ini ada juga yang rusak,” katanya.

Selain Museum Aceh, pameran 100 Tahun Museum Aceh ini juga disertai oleh Pusat Dokumentasi Informasi Aceh (PDIA). Lembaga ini merupakan bentukan Pemerintah Aceh bersama Universitas Syiah Kuala yang mengoleksi dokumen dan arsip sejarah Aceh sejak era kesultanan hingga masa kemerdekaan.

Salah satu arsip yang dipamerkan PDIA adalah manuskrip kuno seperti “Rahasia Pengungkapan Gempa, Hukum Islam, Tuntunan Membaca Alquran”. Selain itu, PDIA juga memamerkan beberapa foto koleksi era kolonial dan arsip surat kabar.[]