Syeh Lah Geunta dan Wajah Kita

Syeh Lah Geunta dan Wajah Kita

DUNIA budaya Aceh kembali kehilangan sang maestro. Seorang seniman seudati Syeh Lah Geunta meninggal dunia. Beliau generasi terakhir selebritis tradisional Aceh. Bila Anda pernah hidup di Aceh era 90 an ke bawah, maka pasti mengenal atau mendengar kisah beliau. Seudati amatlah populer, selain seni tutur PMTOH dan Sandiwara Sinar jeumpa dengan tokoh legendanya Ma Reuhoi. Kini semua kesenian itu hampir punah.

Dimasa jayanya, Syeh Lah Geunta,Syeh Bangguna,Syeh Rih Krueng Raya,dan Syeh Rasyid dan lain- lain merajai panggung hiburan di Aceh. Seudati bahkan pernah mendunia di tangan Syeh Lah Geunta. Tarian penuh ritme dan heroik memukau siapa saja. Sekarang bila kita tonton tarian itu penuh ritme heroik.

Kesenian ini timbul tenggelam seiring konflik Aceh. Pernah mencapai puncaknya di masa gubernur Ibrahim Hasan. Beliau amat peduli dengan kesenian khas Aceh. Dimasa itu maestro kesenian tradisional hidup makmur. Mereka mendapat berbagai”proyek” dari pemerintah. Proyek yang tidak terpisahkan dengan keahlian mereka. Arena kesenian menjadi ruang sosialisasi berbagai program pemerintah. Artinya terjadinya simbiosis mutualisme antara pelestarian seni dengan pemerintah. Dua duanya saling diuntungkan. Namun kemudian seiring lengsernya Ibrahim Hasan dan konflik yang makin meluas semuanya redup. Kesenian itu mati suri. Bilapun ada hanya sekedar mengisi seremonial. Tanpa pelakonnya tidak melakukan dengan jiwa seudati itu sendiri. Ironinya kita amat bangga dengan ke Aceh-an kita. Tapi kita benar benar tidak punya identitas lagi. Sejak perdamaian penggerusan identitas Aceh makin menajam. Sementara penguatan “ego” sebagai orang Aceh menguat. Kontradiksi memang. Bahkan penutur bahasa ibu kita mulai jauh berkurang. Bukan hanya kalangan menengah terpelajar. Kalangan mantan pejuang kemerdekaan Aceh hal ini mewabah. Banyak di antara mereka tidak lagi menggunakan bahasa ibu dengan anak anaknya.

Orang orang kelas atas dan kelas menengah malu berbahasa INDONESIA dengan dialeg Aceh yang medok. Kita bangga terhadap nama “Aceh”. Tapi alpa menjaga identitas kita. Baru sebentar berinteraksi dengan dunia luar hampir semua identitas kita hilang tak berbekas.

Dalam kasus ini kita perlu belajar kepada suku bangsa lain. Orang Tionghoa yang sudah turun temurun di Aceh tidak pernah kehilangan identitas mereka. Masih memelihara bahasa mereka. Masih melakukan berbagai ritual dan menjaga adat adat mereka. Begitu juga orang jawa. Bahkan kekayaan budaya mereka manfaatkan sebagai daya tarik dan komoditas yang menguntungkan. Kita Aceh mengaku “bangsa teuleubeh” tapi identitas budaya kita campakan. Kini Seudati,PMTOH dan budaya lain menjadi barang langka.

Ini agak berbeda dengan saudara kita di Gayo. Mereka masih rajin merawat budaya. Berbagai event diadakan. Identitas budaya seperti pakaian mereka kembangkan. Dan mereka amat bangga bertutur sesame mereka dengan bahasa ibu mereka. Pemerintah Aceh apa lagi. Terkesan tidak perduli terhadap kesenian tradisional. Bila pun ada hanya ajang PKA itupun empat tahun sekali. Tidak ada upaya yang berkesinambung membina para seniman. Tidak program rutin yang bisa menjadi event besar.

Pembinaan yang tidak fokus. Bahkan kita pernah dicemooh. Ketika penyerahan sertifikat Saman oleh WHO dianjungan Aceh di TMII. Semua hadirin dari pemerintah pusat, dari Gayo dan dari Unesco memakai batik karawang Gayo. Tapi Gubernur Aceh dan beberapa pejabat teras Aceh memakai baju batik Jawa.

Ironis bukan? Inilah potret wajah kita. Amat narsis dalam pengakuan diri sebagai orang Aceh. Tapi lupa menjaga identitas dan budaya kita. Kedepan kita mimpi lahirnya syeh seudati sekaliber Syeh Lah Geunta. Yang pernah manggung hampir sebulan di Newyork dan Belanda. Dan mendapat aplaus tiap kali tampil sampai layarpun mesti dibuka kembali. Ritme seudati yang penuh heroik adalah gambaran kita sebagai bangsa pejuang. Dan menunjuk budaya Aceh yang islamis.

Tidak ada tarian erotis dalam khasanah budaya Aceh. Karenanya tugas kita dan pemerintah lah untuk kembali menghidupkan identitas heroism kita. Budaya dan identitas kita. Agar sah kita mengaku sebagai bangsa teuleubeh. []

Leave a Reply