Survei: Prabowo Ungguli Jokowi di Bandung

Berdasarkan hasil survei menggunakan metode multistage sampling yang dilakukan oleh Indonesian Strategic (Instrat) pada sebulan terakhir di Kota Bandung, pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa unggul dalam elektabilitas ketimbang pasangan Jokowi-JK.

Dari 421 sampel warga Kota Bandung yang diambil, pasangan yang diusung Koalisi Merah Putih ini dipilih oleh 51 persen suara untuk menjadi presiden dan wakil presiden. Sementara itu, rival mereka, pasangan Jokowi-JK, hanya meraih 46 persen. Sebanyak 3 persen sisanya tidak memilih alias abstain.

"Berdasarkan riset kami, orang Bandung cenderung lebih rasional dengan tingkat pendidikan lebih tinggi, dan pasangan Prabowo-Hatta ternyata tingkat elektabilitasnya ternyata lebih tinggi dibanding Jokowi-JK," kata peneliti Instrat, Yuhka Sundaya, dalam konferensi pers Sikap Pemilih Kota Bandung terhadap Capres/Cawapres RI 2014-2019 di Food Opera Jalan Ir H Juanda, Kota Bandung, Kamis (12/6/2014).

Lebih lanjut, Yuhka menjelaskan, para pemilih di Kota Bandung yang cenderung rasional ternyata terlebih dahulu melihat visi dan misi kedua pasangan capres dan cawapres. Selain itu, para pemilih di Kota Bandung ternyata tidak mudah termakan isu-isu di media yang melemahkan kedua pasangan.

Kendati demikian, Yuhka mengatakan, komponen lain dalam survei tersebut ternyata menunjukkan adanya sikap pemilih di Kota Bandung yang cenderung lebih tidak percaya terhadap isu-isu miring yang dilontarkan kepada Prabowo, terutama soal pelanggaran HAM.

Sebaliknya, meski hanya berbeda tipis, masyarakat Kota Bandung cenderung lebih percaya dengan isu-isu miring di media yang dilontarkan kepada Jokowi. Khusus untuk isu yang melemahkan Prabowo perihal pelanggaran HAM, sebanyak 23,57 responden tidak percaya dengan masalah tersebut, sedangkan 61,43 persen abstain. Sisanya, hanya 15 persen responden yang percaya bahwa Prabowo melakukan pelanggaran HAM.

Dalam hasil survei terhadap Jokowi, dia mendapat sorotan publik, di mana 66,67 responden meyakini Jokowi berada di bawah kendali Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri. Tak hanya itu, 34,78 persen responden percaya mundurnya Jokowi dari posisi sebagai Gubernur DKI juga akan melemahkan posisinya.

"Pendukung Prabowo lebih banyak kurang percaya isu HAM. Sebaliknya, isu Jokowi yang tidak independen, capres boneka, dan belum menyelesaikan Jakarta lebih banyak yang percaya karena itu belum lama. Kalau isu HAM, itu kan sudah lama," ujarnya.

Di tempat yang sama, Direktur Bidang Psikologi dan Pengembangan Instrat, Agus Sofyandi Kahfi, menambahkan, sosok pasangan juga sangat berpengaruh terhadap hasil survei tersebut. Menurut dia, Prabowo tetap kuat saat dipasangkan dengan Hatta Rajasa karena saling melengkapi.

Sementara itu, Jokowi justru melorot elektabilitasnya lantaran beredarnya dokumentasi dalam bentuk video di mana JK pernah mengatakan Jokowi belum pantas memimpin Indonesia.

"JK memang sosok kuat, tetapi saat dipasangkan menjadi turun karena masyarakat Bandung itu melek media. Sebelumnya, adastreaming bahwa JK bilang Jokowi berbahaya kalau jadi presiden. Itu terekam oleh warga," ujarnya.

Meski demikian, hasil survei tersebut dapat saja berubah menjadi lebih baik atau bahkan lebih buruk dalam waktu 3 minggu ke depan sebelum pemilihan.

"Tapi, itu tergantung usaha masing-masing tim suksesnya," pungkasnya. | sumber: kompas.com

  • Uncategorized

Leave a Reply