Surga dan Neraka di Tambang Emas

Sore mulai menjelang ketika sejumlah lelaki tua muda menuruni perbukitan dengan memanggul karung-karung batu. Ada pula yang membawanya dengan sepeda motor yang sekujur body-nya berlumur lumpur.

Itu karung bukan berisi padi atau beras. Isinya adalah bebatuan yang diperkirakan mengandung emas. Pemandangan itulah yang saban hari terlihat di Gunung Ujeuen, kawasan perbukitan di Aceh Jaya. Lokasinya diapit oleh Kecamatan Krueng Sabee, (Desa Panggong) dan Desa Batee Meutudong, Kecamatan Panga. Jaraknya sekitar 30 kilometer dari pusat Kecamatan Krueng Sabee.

Inilah salah satu lokasi pertambangan emas yang dikelola oleh masyarakat di Aceh Jaya. Sejak 2008, warga berbondong-bondong ke Gunung Ujeuen, mengeruk tanah, mencari bebatuan yang mengandung kadar emas.

Dari Jalan Calang-Meulaboh, butuh waktu sekitar satu jam perjalanan untuk sampai di desa terakhir. Tak mudah untuk tiba di lokasi pertambangan. Wartawan  The Atjeh Times yang menjajal lokasi ini Rabu, 17 Oktober 2012, menghadapi medan cukup menantang dengan kondisi jalan tak beraspal dan berlubang. Jalan ini dipastikan berdebu pada musim kemarau. Sebaliknya, jika musim hujan tiba, jalan pun menjadi licin.

Dari kaki bukit, lokasi penambangan berada pada ketinggian sekitar 500 meter dengan tanjakan terjal. Beberapa penambang nekat memaksa sepeda motornya untuk melewati jalanan kecil yang menanjak. Mereka memakai ban khusus antilumpur untuk memudahkan pendakian. Akibatnya, suara motor meraung-raung, bercampur suara monyet dan burung hutan.

Armia, warga Desa Paya Semantok, mengatakan, jalanan saat ini tergolong mudah untuk ditempuh, tidak seperti ketika awal-awal pertambangan rakyat itu dibuka pada 2008. Ketika itu, kata pria berusia 40 tahun ini, untuk menuju lokasi pertambangan bisa menghabiskan waktu enam jam perjalanan. Itu pun jika sedang musim kemarau. Jika musim hujan, dibutuhkan waktu hingga satu hari untuk sampai di gunung. Kondisi itu berlangsung hingga tahun 2010.

“Karena kondisi jalan bukan hanya berlubang, tapi menjadi kubangan yang sering sekali membuat ban sepeda motor maupun mobil tersangkut, bahkan ada juga yang terjungkal” ujarnya.

Kini, sebagian jalanan menuju ke lokasi pertambangan sudah diaspal. Hanya tinggal sekitar tujuh kilometer yang belum diaspal meski sudah dilakukan pengerasan jalan dari Desa Panggong menuju lokasi tambang.

Di Gunung Ujeuen, saat ini ada enam titik yang dijadikan lokasi berburu emas. Lokasi paling bawah dinamakan Lokasi Satu, sedangkan lokasi terjauh berada di puncak bukit.

Saat ini, ada sekitar 1.200 lahan perbukitan itu yang dijadikan lokasi pertambangan emas. Warga yang datang dari sejumlah daerah membuat lubang-lubang hingga kedalaman ratusan meter untuk mencari emas yang terkandung di dalam bebatuan. Kini sebagian besar masyarakat sekitar, seperti di Krueng Sabee dan Teunom, bekerja sebagai penambang tradisional di Gunong Ujeuen.

Ada dua jenis penambang di Gunong Ujeuen. Ada yang menggali untuk dijual sendiri, ada pula yang bekerja sebagai tenaga upahan untuk orang lain. Bagi yang kurang modal, mereka menggunakan peralatan tradisional, seperti pahat, linggis, atau sekrup untuk berburu batu yang mengandung emas. Umumnya, karena peralatan terbatas, lubang yang mereka gali tidak terlalu dalam, sedangkan yang punya modal besar bisa membuat lubang galian hingga kedalaman 200-300 meter. Untuk mencegah longsor, dinding-dinding lubang dengan lebar bervariasi itu diberi papan agar tidak ambruk.

“Yang kedalaman puluhan meter ada ribuan jumlahnya, sedangkan yang mencapai 300 meter sudah mencapai ratusan,” Kata Armia.

Untuk mengumpulkan satu karung bebatuan yang ada kadar emasnya, kata Armia, butuh waktu dua hingga tiga hari di lokasi tambang. Ini berbeda dengan aktivitas yang dilakukan oleh pemilik lubang besar, yang menghabiskan waktu enam bulan hingga setahun di lokasi penambangan.

Lubang-lubang dengan kedalaman mencapai 300 meter ini umumnya dimiliki pengusaha yang punya modal besar untuk menggaji pekerja. “Untuk lubang besar itu dibutuhkan modal ratusan juta. Selain untuk peralatan, juga menanggung biaya makan pekerja,” kata Armia.

Tidak semua bebatuan mengandung emas. Terkadang, para penambang harus kecewa kalau batu yang didapat tidak ada kadar emasnya. “Bebatuan yang diperkirakan mengandung kadar emas akan dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam karung untuk diolah atau dijual putus,” kata Armia.

Bagi penambang kecil, seperti Armia, satu karung isi 15 kilogram bebatuan, jika beruntung, bisa menghasilkan 5 gram emas. Jika dirupiahkan, harganya sekitar Rp400 ribu – Rp1 juta. Namun, jika sedang apes, terkadang hanya menghasilkan emas 1 miligram seharga Rp60 ribu. “Terkadang rugi juga kita, tidak menutupi biaya yang dikeluarkan,” ujarnya.

Untuk menghasilkan emas, batu-batu yang dikumpulkan itu digiling lagi hingga menjadi serbuk. Jika ada kadar emasnya, muncul butiran-butiran kuning serupa butir pasir. Untuk menggiling batu itu, Armia harus mengeluarkan uang Rp70 ribu per karung isi 15 kilogram. Untungnya, jika hasil yang diperoleh tidak mencapai 1 gram, pemilik penggilingan tidak meminta biaya.

Bagaimana dengan toke pemilik tambang besar? Simaklah cerita Hendri. Warga Padang Kleng, Teunom, ini mengatakan, bermain tambang emas tradisional, seperti yang sedang ditekuninya, ibarat berjudi. Jika sedang beruntung, ia bisa menghasilkan 5 ons emas per hari. Namun, jika sedang apes, ia malah merugi.

Hendri mulai masuk ke tambang emas tradisional sejak 2009. Ketika itu, ia bahkan mengalami kerugian besar hingga ratusan juta. Penyebabnya, lokasi galian tidak mengandung kadar emas. Padahal, ia harus menanggung makan pekerja dan peralatan.

Berkah datang setahun kemudian. Pada 2010, Hendri menghasilkan laba antara Rp100 – 200 juta per tahun. “Jumlah itu lebih besar daripada jadi kontraktor,” ujarnya.

Untuk pekerjanya, Hendri menerapkan sistem bagi hasil 50:50. Separuh untuk dia selaku pemodal, setengah lagi untuk pekerja.

Para penambang emas tradisional di Gunong Ujeuen, Kecamatan Krueng Sabee, Aceh Jaya, biasanya menjual emas ke toko-toko emas di sekitar lokasi pertambangan.

Salah satu penampung emas Gunung Ujeuen adalah Hamdan. Pemilik Toko Mas Fajar yang beralamat di Keudee Krueng Sabee ini mengatakan, setahun terakhir hasil yang diperoleh penambang mulai menciut. Jika pada 2008 hingga 2011 hasil yang ditampung oleh pedagang mencapai 3 kilogram per hari, kini paling banyak hanya 2 kilogram.

“Sekarang jika dikumpulkan semua emas dari penambang, paling hanya 2 kilogram per hari. Ini menurun drastis jika dibuat grafik,” ujar Hamdani yang rata-rata membeli antara 20 gram hingga 1 ons per hari.

Menurut Hamdan, tak semua penambang berasal dari Aceh Jaya. Ada pula yang datang dari kabupaten lain, seperti Pidie, dan Aceh Utara, hingga Aceh Selatan.

Untuk kualitas emas Gunong Ujeun, kata Ham, kadarnya rata-rata 85 – 86 persen. “Dilihat dari kadarnya, belum bisa masuk kategori emas murni,” ujarnya.

Dengan kadar emas seperti itu, kata Ham, para pemilik toko emas di sana membeli seharga Rp440 ribu untuk emas 86 persen, sedangkan emas 63 persen hanya dihargai Rp330 ribu rupiah per gram. Hamdan menjelaskan, emas yang dikumpulkan dari pedagang itu nantinya akan dilebur menjadi emas batangan dan perhiasan.

Bupati Aceh Jaya, Azhar Abdurrahman, saat ini memang sudah memberlakukan moratorium tambang di daerahnya. Ketika berkunjung ke kantor redaksi The Atjeh Times beberapa waktu lalu, Azhar mengatakan ia tidak lagi memberikan izin untuk perusahaan pertambangan.

"Nanti kalau ada pertambangan mineral lagi, kita tetapkan untuk pertambangan rakyat. Kita utamakan untuk Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR). Tidak ada lagi izin tambang untuk perusahaan di tempat kami. Biar masyarakat saja yang menikmatinya. Kita buat perkebunan untuk rakyat dan pertambangan juga untuk rakyat," kata Azhar.

Selain di Gunong Ujeuen, kata Azhar, lokasi pertambangan rakyat juga ada di Pucok Teunom, Pucok Lhok Kruet, Ligan, dan Kuala Unga. "Itu semua pertambangan emas. Moratorium tambang itu sudah dibuat sebelum saya habis masa jabatan pertama. Waktu itu, kalau saya kalah, dan aturan itu dicabut, berarti itulah yang menghancurkannya," kata Azhar yang sudah dua periode memimpin Aceh Jaya.

***

Ratusan kilometer dari Gunong Ujeuen, di Kecamatan Geumpang, Pidie, ratusan orang berbondong-bondong mendaki bukit. Seperti di Gunong Ujeuen, mereka punya tujuan sama: berburu batu yang mengandung emas.

Geumpang terletak di kawasan perbukitan Bukit Barisan, di pertengahan jalan lintas yang menghubungkan pantai timur dan barat Aceh. Dari Beureunuen, Pidie, jaraknya sekitar 90 kilometer, setelah melewati Tangse. Di beberapa lokasi, jalan aspal mulai rusak.

Ketika The Atjeh Times tiba di sana, Rabu pekan lalu, hujan lebat mengguyur kawasan itu. Di sebuah warung kopi, Syarifudin, Kepala Desa Gampong Bangkeh, bercerita tentang kegiatannya berburu emas.

Pria yang biasa disapa Geuchik Din itu mengatakan, saat ini ada sejumlah lokasi pertambangan emas rakyat di Geumpang, di antaranya Alue Rek, Alue Empeuk, dan Kilometer 14. Semua lokasi ini berada di Gampong Pulo Loih.

Untuk sampai di lokasi tambang, harus melalui medan yang sulit dan mendaki. Jarak tempuhnya sekitar 14 kilometer menggunakan kendaraan roda dua, atau mobil double gardan.

Dari semua lokasi itu, kata Geuchik Din, para penambang kini terkonsentrasi di Kilometer 14. “Di sana katanya lebih banyak kandungan emasnya,” kata Geuchik Din.

Saat ini, kata dia, lebih tiga ribuan orang bekerja sebagai penambang emas. Mereka telah menggali sekitar 500 lubang. “Masing-masing lubang pekerjanya 5 sampai 10 orang. Selain dari Geumpang, ada juga masyarakat yang datang dari luar, bahkan ada yang dari Medan, Riau, dan Jawa,” kata Geuchik Din.

Hanya saja, kata dia, sejak 15 Oktober lalu, aktivitas penambangan emas dihentikan sementara. Ini lantaran mau dekat Idul Adha. Rencananya, penambangan baru dilanjutkan sepuluh hari setelah Lebaran Haji. “Ada pantangan untuk menggali emas saat Lebaran.”

Geuchik Din mengaku pernah terlibat langsung dan memiliki lubang tambang di Alue Empeuk. Namun, ia tak lama menggeluti bisnis itu. Penyebabnya, hasil yang diperoleh tak setara dengan biaya yang dikeluarkan. “Sekarang saya fokus sebagai geuchik saja,” ujarnya sambil tersenyum.

Menurutnya, ia pernah menghabiskan modal hingga Rp30 juta saat memulai menambang emas. Uang itu dipakai untuk membeli peralatan, seperti palu, pahat, linggis, bor listrik, blower (udara buatan untuk pernapasan), sepatu boat, tali, senter, dan sarung tangan. Selain itu, ia juga membeli genset  sebagai penyedia tenaga listrik dan mesin brondong (penggiling batu). “Tapi yang banyak menghabiskan biaya adalah kebutuhan pekerja sehari hari, seperti makan minum dan rokok,” ujarnya.

Hasil yang didapat lalu dibagi dengan persentase 60 persen untuk pemodal, 40 persen untuk pekerja. Jumlah itu setelah dipotong biaya operasional pekerja.

Untuk bisa memiliki lubang tambang, harus menyetor uang sejumlah Rp200 ribu kepada semacam panitia yang mengkoordinasi pertambangan rakyat di sana. Uang itu, kata Geuchik Din, dipakai untuk berjaga-jaga apabila ada penambang yang sakit. “Istilahnya uang untuk pertolongan pertama. Selebihnya uang tersebut akan dimasukkan ke kas gampong,” ujarnya.

Jika Geuchik Din mundur dari tambang emas lantaran merugi, lain ceritanya dengan Ridwan Ahmad. Pria yang memiliki lubang tambang di Kilometer 14 ini berubah nasibnya setelah berburu emas. Saat ini, ia punya 5 pekerja yang menggarap tambang tradisional miliknya.

Ridwan Ahmad (kiri)

Ridwan yang sebelumnya bekerja sebagai nelayan di Idi, Aceh Timur, kini mampu menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi. Selain itu, ia juga bersyukur dapat membuka peluang kerja bagi pemuda setempat.

“Sejak ada tambang emas ini, pemuda Geumpang saat ini sudah banyak memiliki kendaraan roda dua, seperti Vixion dan lain. Kendaraan yang dulu jarang kita lihat digunakan oleh pemuda Geumpang, sekarang sudah ada di sini,” kata pria yang akrab disapa Bang Wan ini.

Bagi Ridwan, menggeluti tambang emas berarti menguji kesabaran. Sebab, kata dia, terkadang ada yang sudah menggali hingga kedalaman 10 meter, tetapi belum mendapat hasil. Sebaliknya, ada yang baru menggali tiga meter, sudah mendapat bongkahan batu yang mengandung emas.

Ridwan mengibaratkan kegiatannya seperti orang menggali kubur. “Di dalam kubur sana ada yang mendapatkan surga dan ada yang mendapatkan neraka. Yang mendapat neraka adalah mereka yang sudah dalam menggali, tetapi belum mendapatkan apa-apa, sedangkan surga adalah bagi mereka yang baru memulai galian sudah mendapatkan bongkahan batu mengandung emas.”

Ridwan lantas bercerita soal proses mengolah batu-batu menjadi butiran emas. Kata dia, batu yang diduga mengandung emas, warnanya kuning keemasan. Lalu, batu-batu itu digiling menjadi serbuk menggunakan mesin penggiling yang disebut mesin brondong. Bentuknya seperti drum dengan panjang sekitar 60 cm dan lebar lebih kurang 35 cm. Brondong tersebut digerakkan oleh mesin dompleng merek Myanmar berkekuatan 10 pk.

Setelah menjadi seperti serbuk, lalu direndam menggunakan air raksa untuk memisahkan antara yang mengandung emas dan yang tidak. Butiran emas itulah yang dijual sebulan sekali.

“Rata-rata per bulan, kami mendapat 50 hingga 90 gram emas. Kadar emasnya pun berbeda, ada yang kadar 55 persen, 70, dan kadar 90 persen,” kata Ridwan.

Menurut Geuchik Din, ada juga warganya yang menyerahkan zakat hasil tambang emas. Beberapa warga lain juga menyumbang untuk pembangunan masjid.

Menurut Ridwan, areal tambang yang sedang digali oleh masyarakat itu sebenarnya berada dalam wilayah izin survei oleh PT Woyla Mineral. Ia berharap, izin survei itu tidak menghalangi pertambangan rakyat.

Selain PT Woyla Mineral, perusahaan lain yang beroperasi di Geumpang adalah East Asia Mineral, perusahaan asal Kanada yang melakukan survei di Gunung Miwah. Pertengahan 2011, perusahaan itu mengumumkan di bursa saham Toronto bahwa kualitas emas Gunung Miwah sebagai salah satu yang terbaik di dunia. (baca: The Atjeh Times edisi 19)

“Semua orang di sini tahu East Asia adalah perusahaan bule. Perusahaan tersebut sudah lama di sini dengan berbagai macam nama. Bulan Puasa lalu mereka menempati gedung baru, yaitu kilang padi milik Haji Abas di Gampong Bangkeh,” kata Geuchik Din yang dibenarkan Ridwan. Sebelumnya, kata mereka, perusahaan itu menempati sebuah rumah di pinggir jalan Geumpang-Meulaboh.

Amatan The Atjeh Times, bangunan yang disebut sebagai kantor baru East Asia Mineral itu adalah sebuah kilang padi. Terletak di pinggir Jalan Gampong Bangkeh, posisinya sekitar 500 meter dari Keudee Geumpang.

Di halaman kilang padi tersebut tampak berjejeran drum bekas minyak. Tidak ada papan nama apa pun yang dipasang di bangunan tersebut. Tak terlihat juga aktivitas apa pun.

Yahdi, salah satu warga Pulo Loih, pernah bekerja di perusahaan tambang asing yang melakukan survei di Gunung Peut Sagoe dan Gunung Miwah pada 1993.

“Kantornya dulu dekat kantor camat sekarang. Saat itu perusahaan mempekerjakan sekitar dua ratusan orang untuk melakukan penggalian semacam sungai kecil. Kami menyebutnya bekerja di trail,” kata Yahdi.

Kata Yahdi, batu-batu yang ditemukan itu lalu diangkut dari Gunung Miwah menggunakan helikopter untuk dibawa ke kantornya. Dari sana, lalu dibawa keluar Aceh untuk diteliti.

Yahdi mengaku hanya sekitar empat bulan bekerja di sana sebab setelah itu perusahaan menghentikan pekerjaan. Saat itu, ia mendapat gaji Rp80 ribu per bulan.

Bagi warga Geumpang, seperti Yahdi, Geuchik Din, ataupun Ridwan, masuknya perusahaan asing ke tambang emas bertahun-tahun membuat kecurigaan bersemayam di benak mereka.

“Masak bertahun-tahun survei tidak menghasilkan apa pun. Jangan-jangan mereka telah mencuri emas dari Gunung Geumpang ini tanpa sepengetahuan kita. Kita saja yang pakai peralatan tradisional sudah berapa banyak yang dapat, apalagi mereka memakai peralatan canggih,” kata Geuchik Din.

Ketika sore menjelang, hujan mulai reda. Di kejauhan, puncak Gunung Miwah terlihat berselimut kabut. | YUSWARDI A. SUUD | DARMANSYAH MUDA (Aceh Jaya) | MUHAMMAD ISA (Geumpang)

Berita terkait:
November 2012, Perusahaan Kanada Targetkan Mulai Mengeruk Emas Geumpang
 

  • Uncategorized

Leave a Reply