Surat Terbuka untuk Wali Kota Lhokseumawe

Surat Terbuka untuk Wali Kota Lhokseumawe

Oleh : Nasruddin bin Razak

Assalamualaikum wr, wb.

Pak Wali Kota yang kami cintai, apa kabar Bapak, semoga sehat selalu di sana. Semoga Bapak selalu dalam lindungn Allah. Tanpa kesehatan kami yakin semua program pembangunan yang jauh hari direncanakan akan terbengkalai. Sruktural Bapak, jika tanpa ketegasan Bapak sendiri akan rumit mereka selesaikan. Maka begitu penting untuk kita syukuri nikmat Allah ini.

Pak Wali Kota yang kami cintai. Saya salah seorang pedagang los dari sekian banyak yang kecewa terhadap proyek pembangunan drainase dan yang sekian lama terbengkalai. Bukan kami tidak setuju dengan pembangunan drainase tersebut, kami sangat setuju Pak. Namun proyek tersebut sudah lama dibiarkankan terbengkalai begitu saja. Pembongkaran dimulai terhitung dari tanggal 9 Agustus lalu, tapi sampai saat ini hanya setengah yang baru diselesaikan. Sebab ukuran proyek tidak sesuai dengan pekerja.

Apakah tidak ada ketegasan batas waktu yang Bapak buat, agar proyek itu diselesaikan secepat mungkin, sesuai dengan tanggal yang Bapak tentukan. Sehingga, mampu meminimalisir kerugian usaha kami. Jika prosesnya pekerjaan itu menghabiskan waktu untuk satu minggu atau dua minggu, kami maklumi pak, selebihnya kami sudah merasa terbebani. Sebab kami hanya pengusaha kecil-kecilan, yang mencari hari ini untuk besok, besok untuk lusa, lusa untuk lusanya lagi, begitu seterusnya.

Pak, kami punya keluarga, sama seperti halnya Bapak. Punya anak istri yang kami hidupi. Mereka perlu makan, juga pendidikan. Dan itu kita dapatkan tidak mudah. Semua perlu uang, perlu biaya untuk mendapatkan kedua kebutuhan itu. Saat ini tentu Bapak tau, bahwa harga pangan, sembako sedang naik. Tentu untuk membiayai semua itu membutuhkan biaya lebih besar dari sebelumnya. Jika kondisi dagangan kami terus menerus menurun. Bagaimana kami mampu menghidupi mereka di tengah kondisi ekonomi yang karut marut seperti ini. Bagaimana kami mampu membiayai pendidikan mereka, jika usaha kami harus terpaksa “gulung tikar” akibat pembangunan yang tak selesai dalam waktu dekat. Kondisi seperti ini yang selama ini kami keluhkan Pak?

Bapak Wali Kota yang kami cintai. Tidak satupun anak manusia yang menolak adanya pembangunan. Jikapun ada, saya yakin dia adalah keturunan penjajah yang tidak  pernah sekalipun ingin negeri ini maju. Saya berani mengklaim seperti itu. Tapi pembangunan yang seperti apa, tentu pembangunan yang menyentuh kepentingn rakyat banyak bukan? Saya yakin Bapak menjawabnya iya. Tapi Pak, pembangunan jalur dua ini justru menggilas kepentingan banyak orang. Menggilas ekonomi mereka, selama pembangunan jalur dua itu Pak, sudah setengah tubuh kami dililit utang.

Pak Wali Kota yang kami cintai. Sebuah pembangunan harus didasari pengkajian yang detail agar kita tahu apa feedback di balik pembangunan itu sendiri. Apakah memberikan nilai positif atau justru negatif. Tentu harus ada pertimbangan mendalam dan pengkajian yang lama dalam hal ini. Jika setelah pengkajian pembangunan itu justru lebih berorientasi ke arah negatif atau dapat merusak ekonomi masyarakat. maka proyek itu harus dihentikan. Begitu, sedikitnya bunyi PP 34 Tahun 2006 tentang Jalan Umum. Saya rasa Bapak Wali Kota lebih memahaminya.

Bapak Wali Kota yang saya cintai. Tolong, perintahkan pada dinas terkait untuk segera menuntaskn proyek ini. Sebelum semuanya musnah, sebelum nasi menjadi bubur, sebelum kami pedagang gulung tikar. Buktikan komitmenBapak dalam konteks menyejahterakan rakyat. Bahwa suara-suara manis saat kampanye dulu bukan hanya angin surga belaka, tapi itu murni suara yang keluar dalam lubuk hati dan keinginan jiwa Bapak.

Bapak Wali Kota yang saya cintai. Duduk di kursi empuk memang terkadang lupa bagaimana rasanya mereka yang masih duduk dan tidur di atas tilam. Kursi itu  sering mengubah kebaikan menjadi kejahatan. Bapak harus sering waspada terhadap kursi itu. Saat duduk bersila kaki di sana, ingatlah kami, yang sampai saat ini masih menjerit melawan badai kehidupan yang masih begitu perih.

Pak Wali Kota yang kami cintai. Kami tidak ingin benih kebencian tumbuh akibat taman yang tidak jelas ini. Kami tidak ingin memaki hanya gara-gara persoalan sederhana itu. Tuntaskan segera Pak sebelum semuanya memaki, tuntaskan segera sebelum kami harus gulung tikar. Kami ingin hidup damai, dan dapat mencari rejeki yang aman. Hanya itu yang kami minta Pak. Tolong dengarkan aspirasi kami, sebagaimana kami mendengar lagu – lagu indah dendangan kampanye  Bapak tiga tahun silam.

Terimakasih

Salam saya.

Penulis adalah salah satu pedagang dilos

foto: Wali Kota Lhokseumawe Suaidi Yahya dan Wakil Wali Kota Lhokseumawe

Leave a Reply