Supryani, penyuluh teladan di pelosok Aceh Barat

UMURNYA hampir kepala lima. Namun siapa sangka ibu tiga anak ini salah satu penyuluh pertanian teladan yang dimiliki Aceh. Namanya Supryani. Khusus di Pantai Barat-Selatan Aceh, ia sudah hafal betul kondisi wilayah pertaniannya. Ia acap wira-wiri dan bertemu petani untuk memberikan penyuluhan kepada mereka cara bercocok tanam yang baik.

Salah satu yang kerap ia sarankan kepada petani adalah soal berhemat. Menurut Supryani ini sangat penting. “Jangan hanya mengambil yang instan, perlu pupuk tinggal beli itu kan sudah tidak hemat,” ujarnya ketika ditemui di Kantor Bupati Aceh Barat, Rabu pekan lalu.

***

SUPRYANI lahir dari keluarga yang lumayan besar. Yani anak kelima dari sembilan bersaudara. Ayahnya pensiunan TNI yang beralih menjadi petani, menjadi inspirasi Yani untuk menggeluti bidang pertanian. Ia memilih masuk Sekolah Kejuruan Pertanian Negeri Medan dan lulus pada 1983. “Mau melanjutkan kuliah, anak ayah saya itu banyak, jadi semua dalam pendidikan. Akhirnya saya mengalah dan mencoba bekerja sebagai honorer,” ujar Yani.

Menjadi honorer sebagai penyuluh pertanian di tanah kelahiran sendiri, persaingannya berat. Yani lalu diajak temannya “hijrah” ke Aceh. “Di Aceh itu masih minim penyuluh, kita ke Aceh saja untuk menjadi penyuluh,” ujar Yani mengenang ucapan temannya kala itu.

Awal 1985, Yani menginjakkan kakinya di Aceh. Bahasa dan kultur berbeda tak menjadi kendala. Ilmu Sosial Pedesaan yang pernah dipelajarinya menjadi modal beradaptasi. “Belajar bahasa Aceh itu adalah modal utama saya ke Aceh, apalagi adaptasi seorang penyuluh itu kuat.”

Setelah enam bulan menjadi honorer Petugas Penyuluh Lapangan di Dinas Perkebunan Aceh Barat, barulah ia diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil Binmas Penyuluh untuk Indonesia.

Dalam melakukan penyuluhan Supryani tidak pernah memilih kelompok tertentu. Ke kelompok mana saja ia masuk. Penyuluhan yang diberikan tentang peternakan, perkebunan, perikanan, dan tanaman pangan. Ia tekun mempelajari semua bidang itu.

Seperti tak puas dengan ilmu yang sudah didapat, pada 2000 Supryani melanjutkan kuliah di Universitas Abulyatama Aceh cabang Meulaboh. Ia lalu pindah ke Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Tengku Dirundeng Meulaboh (kini Universitas Teuku Umar) Jurusan Agronomi dan lulus pada 2005. “Walaupun sudah tua, ilmu tetap kita cari,” ujarnya sambil tersenyum.

***

DALAM bertugas, ibu tiga anak ini bersedia ditempatkan di mana saja. “Sudah tujuh kecamatan saya ditempatkan. Semuanya itu daerah yang belum disentuh oleh penyuluh lain. Karena bagi saya penyuluh itu memberi solusi dan motivasi,” ujar Yani yang kini menjabat sebagai Kepala Balai Penyuluh Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kecamatan Kaway XVI, Aceh Barat. Sebelumnya, ia pernah bertugas di Kecamatan Samatiga, Woyla, Bubon, dan Arongan Lambalek.

Saat memberikan penyuluhan di lapangan pun ia tidak mau tergantung pada fasilitas kerja. “Di kantor saya saja yang tidak ada komputer, tetapi administrasi juga jalan. Saya bekerja dengan wilayah yang jauh, tetapi fasilitasi kurang namun semua target itu tercapai,” ujarnya.

Kuncinya, kata Yani, terletak pada PKS: Pengetahuan, Keterampilan, dan Sikap. Tiga hal ini menurutnya harus dimiliki penyuluh. Pengetahuan berguna supaya penyuluh mempelajari hal-hal baru di sekitarnya sehingga dapat menciptakan keterampilan dan memiliki sikap. Di lapangan, kata Yani, penyuluh harus dapat memanfaatkan sumber daya yang ada. “Masyarakat menjual air tebu namun sepahnya itu dibuang, itu kan sumber daya. Kita manfaatkan sumber daya itu untuk membuat pupuk kompos,” ujar Yani.

Penyuluhan Yani tak hanya ke petani. Sejak 2005, ia sudah mengajak para santri di kecamatan wilayah kerjanya membuat pupuk kompos organik. Supryani tertarik mengembangkan sistem organik karena dapat mengembangkan sumber daya di desa dan membuat petani mandiri.

Yani mengakui tak mudah awalnya memberikan penyuluhan, apalagi sebagian masyarakat tak mau bertemu dengannya. Namun setelah ia memberikan pengertian dan kerja nyata, akhirnya masyarakat menerima. Bagi Yani, hidup harus bermanfaat. “Hidup ini adalah solusi, bukan masalah.”

Atas gebrakan yang dilakukannya itu, Supryani dua kali mendapat penghargaan sebagai penyuluh teladan tingkat Aceh Barat dan provinsi. Pada 17 Agustus 2011, ia langsung menerima penghargaan itu dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Jakarta.

Penghargaan itu menjadi motivasi Yani untuk terus berkarya. Ia kini sedang mengembangkan penanaman padi beras merah di Kaway XVI. Padi ini usia tanam sekitar 110 hari dan harganya tinggi. Bila beras biasa harganya Rp7 ribu per kilogram, beras merah bisa dua kali lipat.

“Saya sudah menjadi orang Aceh, suami saya Aceh dan anak saya juga Aceh. Maka saya berkewajiban membanggakan Aceh, apalagi wilayah Pantai Barat-Selatan Aceh.”[]

+++

Supryani

Lahir: 1964, Kampung Jawa, Siantar, Sumatera Utara.

Suami: Budiman

Anak: Anton, Tanti Jernita, Fajar Rahmanda

Karier:

– Petugas Penyuluh Lapangan di Dinas Perkebunan Aceh Barat

– Binmas Penyuluh untuk Indonesia

– Kepala Balai Penyuluh Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kecamatan Kaway XVI Kabupaten Aceh Barat.

Prestasi:

– Juara I Penyuluh Teladan Aceh Barat (2009 dan 2011)

– Juara I Penyuluh Teladan Aceh (2009 dan 2011)

– Juara I Expo Hasil Pertanian Tingkat Aceh Barat (2009)

– Juara I Lomba Cipta Menu Tingkat Aceh Barat (2009, 2010, dan 2011)

Seminar:

– Narasumber lokakarya internasional 17 negara di Bogor tentang merehab kembali daerah bekas tsunami.

  • Uncategorized

Leave a Reply