Sosiolog Unimal: Kualitas Partisipasi Rakyat Aceh dalam Pemilu Masih Bermasalah

LHOKSEUMAWE – Sosiolog Universitas Malikussaleh, DR Nizarlin Armia MSi menilai kualitas partisipasi rakyat Aceh dalam pemilu masih bermasalah lantaran lebih didorong emosionalitas daripada rasionalitas. Impactnya, kata Nizarlin, tidak ada pilihan-pilihan politik yang didasarkan pada kualitas kontestan.

“Lebih kepada figuran sektoral ke figuran emosionalitas daripada ketokohan rasional dan kualitas kontestan,” kata Nizarlin kepada The Atjeh Post seusai menjadi narasumber pada workshop tentang “Pendidikan Pemilih untuk Mendorong Partisipasi Masyarakat dalam rangka Meningkatkan Kualitas dan Kepercayaan Rakyat terhadap Pemilu”, yang digelar KIP Lhokseumawe, di Harun Square Hotel Lhokseumawe, Rabu, 10 Oktober 2012.

Menurut Nizarlin, pemilu yang baik adalah pemilu dimana masyarakat memilih berdasarkan meritokrasi. Artinya, masyarakat memilih seorang kontestan dalam politik didasarkan pada kualitas dan gagasanya sehingga ketika terpilih mampu mewujudkan visi misi dan program yang telah dicanangkan.

“Selama ini kita lihat, karena hanya didasarkan kepada figuran, artinya hanya untuk memenuhi demokrasi prosedural, itu impactnya pemimpin yang terpilih mengalami diskrefansi, mengalami jarak dengan program yang dia buat sendiri atau yang dibuat tim suksesnya sehingga dia tidak bisa mengimplementasikannya di lapangan,” kata Doktor Sosiologi lulusan Universitas Gadjah Mada Yogjakarta ini.

“Dampak turunan lanjutan adalah kita melihat Aceh tidak bergerak secara signifikan dalam hal peningkatan kesejahteraan masyarakat, pembangunan dan sebagainya,” kata Nizarlin.

Padahal, kata Nizarlin, jika dilihat dari sisi anggaran yang dimiliki Aceh luar biasa. Untuk provinsi, misalnya, mencapai Rp24 triliun atau Aceh Utara Rp1,3 triliun per tahun. “Kalau dana sebesar itu dioperasionalisasikan oleh pemimpin yang terpilih berdasarkan kualitas dan gagasan, tentu menjadi modal yang luar biasa untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat,” katanya.

Lantas apa solusi untuk meningkatkan kualitas partisipasi masyarakat dalam pemilu ke depan? “Sosialisasi tentang politik harus ditingkatkan, diefektifkan dengan menggunakan berbagai media. Terutama kita harus fokus sekarang sosialisasi itu menggunakan media tradisi kultural yang ada di Aceh,” kata Nizarlin.

“Misalnya, melalui hadihmaja, seudati, rapai geleng, yang diselipkan pesan-pesan politik, di sana disosialisasikan, diarahkan masyarakat tidak hanya menjalankan politik demokrasi, tapi juga memilih secara demokratis. Artinya masyarakat melek, sadar politiknya, dia harus memilih pemimpin didasarkan pada meritokrasi,” katanya.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply