Soraiya Kamaruzzaman: Mengapa Hukum Tidak Berpihak Pada Anak?

Soraiya Kamaruzzaman: Mengapa Hukum Tidak Berpihak Pada Anak?

BANDA ACEH- Soraiya Kamaruzzaman, presidium Balai Syura Ureung Inong Aceh mengaku sedih melihat kondisi Aceh sekarang ini yang begitu marak dengan kasus kekerasan terhadap anak perempuan di bawah umur.

Soraiya mengatakan, sebenarnya selain data yang diperoleh dari pemerintah, jaringan pemantau Aceh 231 selalu regular setiap tahun melakukan pemantauan dan memberikan laporan terkait kasus anak.

“Laporan kita terakhir tahun lalu untuk kasus incest saja di Aceh capai 36 kasus, jadi itu kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh orang-orang terdekat, seperti orangtua, paman, dan sebagainya terhadap anak dan ada yang sampai hamil dan melahirkan,” kata aktivis perempuan ini saat ditemui portalsatu.com usai aksi di Simpang Lima Banda Aceh siang tadi, Senin, 5 September 2015.

Tahun ini, kata dia, pihaknya masih sedang mendata karena akhir tahun mereka mengeluarkan data, tetapi bisa dilihat bahwa dalam dua minggu terakhir ini di media begitu marak berbagai kasus kekerasan terhadap anak, khususnya anak perempuan yang usianya dibawah 10 tahun.

“Saya pikir ini persoalan yang sangat serius, saya pikir ini bukan lagi kriminal tetapi ini sudah kejahatan kemanusiaan berat karena hak anak dirampas. Bukan hanya ada dua anak yang terbunuh tetapi ada tiga anak yang ketahuan diperkosa dan melahirkan serta satu anak yang mengalami pelecehan seksual. Ini dalam dua Minggu terkahir ini saja, belum lagi dengan kasus-kasus yang lain,” kata Soraiya yang juga dosen Teknik Kimia Unsyiah.

Menurutnya, saat ini yang bergerak hanya pemerhati anak dan aktivis perempuan yang peduli terhadap anak. Masyarakat, katanya,  juga harus bergerak, harus memantau, harus mengawal dan juga melakukan sanksi sosial.

“Misalnya hukum di Aceh hari ini bagaimana? Melihat contoh kasus dibuku yang pernah saya baca kalau tidak salah di Negara Afganistan. Kalau laki-laki pengintip dikucilkan oleh masyarakat, jika dia duduk di warung semua orang pindah, kemana dia pergi, orang disekitarnya pindah, sehingga lama-lama laki pengintip itu pergi dari kota itu. Ini salah satu contoh sanksi sosial yang sangat efektif, karena hukum sudah tidak membuat mereka jera dan hukum kita juga tidak berpihak pada anak. Maksimal 10 tahun, tetapi rata-rata dua dan tiga tahun sudah jalan-jalan lagi,” katanya.

Soraiya kilas balik pada kasus pembunuhan Diana dua tahun lalu, yang seharusnya pelaku dihukum 10 tahun, tetapi kenapa bisa empat tahun sudah jalan-jalan dan dua Minggu lepas dari penjara sudah memperkosa dan membunuh anak lainnya lagi.

“Nah ini seharusnya yang menjadi perhatian pemerintah dan saya sedih karena sampai hari ini tidak ada upaya yang serius. Memang badan pemberdayaan anak dan perempuan sudah mencoba tetapi tidak cukup dengan itu, banyak hal yang harus dilakukan, terutama penegakan hukum, ini tidak bisa dibiarkan, harus dicari dan diadili sekuat-kuatnya, setinggi-tingginya, sekeras-kerasnya sehingga efek jera itu ada,” ujar Soraiya.[] (MAL)

Leave a Reply