Soal Perempuan Tak Boleh Mengangkang Diboncengi Sepeda Motor, Ulama Dukung Wali Kota

LHOKSEUMAWE – Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Lhokseumawe Tgk H Asnawi Abdullah mendukung rencana Wali Kota Suaidi Yahya mengeluarkan peraturan tentang larangan bagi kaum perempuan duduk mengangkang saat diboncengi dengan sepeda motor.

“Kita dukung itu, tujuannya agar lebih sopan. Kita pernah memberi masukan kepada Pak Wali Kota agar menertibkan hal seperti itu, tapi kita tidak sebutkan secara teknis. Pokoknya mohon ditertibkan tata cara perempuan naik sepeda motor,” kata Tgk Asnawi Abdullah kepada ATJEHPOSTcom lewat telpon selular, Selasa, 1 Januari 2013.

Sebenarnya, kata Tgk Asnawi, MPU telah menyarankan agar diterapkan peraturan seperti itu sejak masa wali kota periode lalu. Termasuk melarang laki-laki dewasa memboncengi perempuan yang bukan muhrimnya dengan sepeda motor. “Yang sangat prihatin kita lihat adalah tukang RBT (ojek), ada yang dua perempuan sekaligus diboncengi dengan cara duk pheng (duduk mengangkang),” katanya.

“Tapi wali kota sebelumnya tidak berani mengeluarkan peraturan tentang larangan itu, mungkin takut terjadi gesekan dengan tukang RBT. Kita berharap wali kota yang sekarang serius menerapkan hal itu, mudah-mudahan wali kota punya kekuatan, tidak membatalkan rencana itu karena dipengaruhi pihak lain,” kata Tgk Asnawi.

Tgk Asnawi menambahkan, walaupun perempuan diboncengi suaminya dengan sepeda motor, tetap harus duduk menyamping agar lebih sopan. Sebab pasangan suami istri berkendaraan di muka umum. “Islam itu sangat indah, semuanya telah diatur dengan baik. Kalau mau lebih lengket dengan suaminya, silahkan di rumah atau dalam kamar, jangan di depan publik. Di depan anaknya sendiri tidak boleh melakukan hal-hal yang seperti itu,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, Pemerintah Lhokseumawe akan mengeluarkan peraturan yang melarang kaum perempuan duduk mengangkang ketika diboncengi laki-laki saat berpergian dengan sepeda motor. Sebelum menetapkan peratutan, wali kota terlebih dahulu mengeluarkan edaran mengenai hal itu.

“Kepada seluruh masyarakat Lhokseumawe, perlu kami sampaikan bahwa kita akan berlakukan peraturan, urueng inong watee ek honda hanjeut pheng (perempuan saat diboncengi dengan sepeda motor tidak boleh mengangkang),” kata Wali Kota Lhokseumawe Suaidi Yahya pada acara dakwah di Lapangan Hiraq Lhokseumawe menjelang pergantian tahun, Senin, 31 Desember 2012, malam. (selengkapnya klik: Wali Kota Lhokseumawe: Ureung Inong Ek Honda Hanjeut Pheng) []
 

  • Uncategorized

Leave a Reply