Soal Nasiran, Dinsos Aceh: Kami Siap Tanggung (Biaya) Hidup Mereka

Soal Nasiran, Dinsos Aceh: Kami Siap Tanggung (Biaya) Hidup Mereka

BANDA ACEH – Kehidupan Asiah dan anaknya Nasiran (14) sangat memprihatinkan. Pemerintah Aceh pun berjanji menanggung semua biaya hidup ibu dan anak asal Aceh Barat Daya ini, yang sekarang kesulitan mendapatkan keluarganya lagi.

“Memang sudah tugas pemerintah peduli dengan orang-orang seperti ini, jadi kami memang siap menanggung (biaya) hidup mereka itu,” kata Kepala Dinas Sosial Provinsi Aceh, Alhudri di sela menjenguk Nasiran dan ibunya di ruang isolasi RSUD Zainoel Abidin, Banda Aceh, Selasa, 12 Mei 2015.

Saat menjenguk keduanya, Alhudri ikut menyerahkan bantuan dari Komunitas Peduli Anak Kanker berupa pakaian, sarung, popok, daster, jilbab, dan perlengkapan mandi kepada Nasiran dan ibunya.

Selain itu juga menyerahkan sumbangan uang tunai yang nominalnya tak disebutkan dari Gubernur Aceh Zaini Abdullah. Bantuan dan sumbangan itu secara simbolis diterima dr. Nurnikmah, Wakil Direktur RSU Zainoel Abidin.

Alhudri mengatakan, Gubernur Zaini Abdullah sudah menyatakan komitmennya membantu ibu dan anak tersebut. Dinas Sosial diperintahkan menangani kehidupan keduanya selepas keluar dari rumah sakit.

“Sekarang kami fokus ke kesehatan Nasiran dulu. Saya sudah hubungi Dinas Kesehatan meminta untuk memperbaiki kesehatan bocah ini sama ibunya dulu. Rumah sakit juga sudah kami minta,” ujarnya.

Jika kondisinya sudah membaik dan tak perlu rawat inap lagi, kata Alhudri, keduanya akan dititipkan di panti-panti sosial milik pemerintah kalau memang tak ada keluarga yang menampung. “Di sana nanti semua ditanggung (pemerintah),” akunya.

Dalam waktu dekat ini, kata dia, pihaknya juga akan duduk berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kabupaten Aceh Barat Daya, membahas penanganannya terhadap Nasiran dan ibunya agar tidak tumpang tindih antara kabupaten dan provinsi.

Sementara itu Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Bardan Sahidi meminta, dinas-dinas di pemerintahan serta rumah sakit harus bersinergi menangani kasus-kasus seperti ini. “Kita berharap ini kasus terakhir, jangan ada Nasiran-Nasiran lain lagi,” ujarnya.

Seperti diketahui, keduanya semula disebut sebagai manusia aneh. Pasalnya sang ibu lebih banyak diam, sementara putranya terlihat begitu aktif dan juga tidak bisa berbicara. Sempat beredar informasi kalau keduanya ditemukan di tengah hutan oleh penambang batu giok.

Namun Pemkab Aceh Barat Daya membantah kabar tersebut. Ibu dan anak itu tercatat sebagai warga Gampong Ie Mirah, Kecamatan Babahrot, Kabupaten Aceh Barat Daya. Asiah yang tuna rungu sejak lahir, dan anaknya Nasiran selama ini tinggal di sebuah gubuk yang berbatasan dengan belantara.

Asiah diduga tak diterima keluarganya setelah melahirkan Nasiran. Selama tinggal digubuk Nasiran diduga tak memiliki asupan gizi yang cukup. Bahkan sekira empat bulan lalu, ia mengalami diare berat.[] sumber: okezone.com

Leave a Reply