Sistem Pemantauan Gunung Berapi di Indonesia akan Dimordernisasi

JAKARTA – Sistem pemantauan gunung berapi di Indonesia seluruhnya akan dimodernisasi mulai tahun 2014. Tujuannya untuk mengurangi bantuan asing, dan memanfaatkan para tenaga ahli asli dari Indonesia.

Demikian yang disampaikan oleh Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana, Surono, dalam diskusi mengenai bencana gunung berapi, di Pusat Kebudayaan Amerika, Jakarta, Rabu kemarin, 5 September 2012.

Turut hadir dalam diskusi tersebut Kepala Program Bantuan Bencana Gunung Berapi dari U.S Geological Survey (USGS), Dr. John Pallister, yang menjadi mitra Surono selama ini.

“Keinginan (saya) agar Indonesia mandiri, membuat alat-alat pemantauan gunung berapi yang dibuat sendiri oleh Indonesia. Saya bilang, “Teknologi Anda akan saya akan curi, John. Saya akan mandiri dengan mencuri teknologi kamu. Bagamana caranya, ya dengan mengajari teknisi-teknisi saya. Saya enggak mau dikasih alat 1000 (jenis) tetapi masih selalu bergantung pada John setiap saat. Saya minta mereka (teknisi Indonesia) bisa membuat sendiri. John tanya, “Kalau alatnya tidak ada bagaimana, Surono? Saya jawab, ya belikan dulu dong,” ungkap Surono disambut tawa peserta diskusi. 

John Pallister menjelaskan, bahwa USGS dan USAID akan melanjutkan bantuan teknis kepada Indonesia, melanjutkan program yang sudah berjalan. Riset yang dilakukan oleh Badan Survey Geologi AS (USGS) paling banyak dilakukan pada 2004-2012. Pada 2012-2017, kata Pallister, kerjasama yang lebih intensif akan dilakukan. Sejumlah gunung berapi aktif di Jawa dan Sulawesi akan menjadi pusat perhatian USGS.

“Kami akan memberikan bantuan teknis untuk Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana di delapan gunung berapi di pulau Jawa; Tangkubanperahu, Salak, Gede, Ciremay, Slamet, Dieng, Raung, dan Ijen. Kemudian enam gunung berapi di Sulawesi yaitu Lokon, Mahawu, Tangkoko, Klabat, Soputan, dan Ambang; serta tiga lainnya di Kepulauan Sangihe Talaud, yaitu Karangetan, Awu, dan Ruang,” kata Pallister.

Pallister lalu mengatakan ada 3,3 juta orang Indonesia yang tinggal di kawasan rawan gunung berapi, serta sekitar 80 ribu lokasi yang dilewati jalur penerbangan domestik setiap hari –belum termasuk maskapai asing. Hal ini yang  mengkuatirkan pihak Amerika Serikat. Bantuan kerjasama teknis dari USGS dan USAID sudah berjalan sejak 1970-an.

Kerugian akibat letusan gunung berapi memang tidak main-main. Tahun 2010, ribuan orang meninggal dunia akibat letusan Gunung Merapi.  Kunjungan Presiden Obama ke Indonesia dipersingkat karena debu letusan Merapi mengaburkan jarak pandang pesawat terbang.

“Pada saat Gunung Galunggung meletus tahun 1982, empat mesin pesawat British Airways dengan rute Kuala Lumpur-New Zealand tidak berfungsi. Syukurlah berhasil melakukan pendaratan darurat. Saya pernah baca di media, salah satu penumpang yang selamat kini mendirikan perkumpulan paralayang dengan nama “Galunggung”, untuk mengingat peristiwa itu,” ungkap Surono.

Alat-alat pada stasiun vulkanologi di Indonesia terakhir diproduksi tahun 1982. Surono berharap modernisasi peralatan paling tidak bisa setaraf dengan yang dimiliki USGS.

“Teknologi itu enggak bisa ngomong, tapi saya yang harus ngomong kepada masyarakat mengenai ancaman gunung berapi. Riset memang penting tapi lebih penting lagi bagaimana menyelamatkan lebih banyak nyawa manusia. Bencana tidak boleh sekedar beras dan mie instan,” ujar Surono.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply