Setelah sembuh dari Kusta, makan apa?

PENYAKIT kusta memiliki masalah sangat komplek. Masalah tesebut tidak hanya medis (kesehatan) tetapi juga sosial, ekonomi, budaya, dan keamanan nasional. Suatu kenyataan bahwa sebagian besar penderita kusta merupakan kelompok ekonomi lemah.

Penyakit Kusta  (budok) disebabkan oleh Mycobacterium Leprae.  Kuman ini  menyerang saraf tepi, kulit, dan jaringan tubuh lain. Penyakit kusta ditularkan melalui kontak langsung dengan penderita yang belum berobat.

Program penanggulangan kusta yang selama ini dijalankan mencakup pencegahan (preventive), pengobatan (curative), dan rehabilitatif. Saat ini pemerintah lebih menitikberatkan penanggulangan kusta dalam bidang kesehatan, sedangkan sektor ekonomi masih belum mendapatkan perhatian yang lebih serius. Masyarakat biasa saja keadaan ekonomi sudah apoh apah (morat marit), apalagi saat menderita kusta.

Masalah kusta salah satunya cacat. Kecacatan penderita kusta, seringkali tampak menyeramkan bagi sebagian orang, sehingga muncul perasaan takut berlebihan terhadap kusta atau leprofobia. Walaupun terkadang penderita cacat karena kusta atau Orang Yang Pernah Menderita Kusta (OYPMK) dalam tubuhnya tidak terdapat lagi kuman kusta karena sudah diobati (sembuh).

Leprophbia akan menyebabkan masyarakat bahkan kita juga berusaha menjauh dan menghindari penderita kusta. Hal ini menyebabkan mereka sulit dalam mengembangkan dan memberdayakan ekonominya. Dapat dibayangkan bagaimana penderita dan mantan penderita yang cacat dengan luka yang terbuka berjualan makanan seperti nasi, pisang goreng dan lainnya siapa yang akan membeli. Hal ini menyebabkan terbatasnya peluang mantan penderita dalam membuka peluang usaha serta mencari rezeki.

Salah satu sektor yang dapat dimanfaatkan oleh mantan penderita memproduksi kerajinan (industri rumah tangga), berdagang, atau beternak. Kegiatan inipun sulit dilakukan karena terbatasnya modal, disamping juga terbatasnya keterampilan dan keahlian yang mereka miliki.  

Walaupun modal dan keterampilan terbatas, namun mantan penderita tetap harus berusaha mendapatkan uang demi kelangsungan hidup bukan hanya dirinya namun juga keluarganya. Untuk  itu kita sering melihat mantan penderita yang menempuh jalur-jalur pintas seperti menjadi peminta-minta (pengemis) yang sering mangkal di simpang-simpang lampu merah, pinggir jalan bahkan keluar masuk perkantoran.

Pemberdayaan ekonomi mantan penderita bukanlah wilayahnya kesehatan. Namun, pentingnya pemberdayaan ekonomi mantan penderita salah satunya tercermin dalam memperingati hari kusta sedunia Tahun 2013 yang mengusung tema ”Hapus Stigma dan Diskriminasi terhadap Kusta” dengan sub-tema "Kusta Tidak Menjadi Halangan untuk Berkarya”. Melihat tema tersebut, pemerintah sebenarnya menyadari bahwa mantan penderita menghadapi masalah yang lebih komplek dibandingkan dengan mantan penderita penyakit-penyakit lain, sehingga sangat diperlukan perhatian khusus. Namun kenyataan dilapangan belumlah seperti yang diharapkan.

Memang ada beberapa mantan penderita kusta yang mendapat perhatian. Di Aceh Barat, mantan penderita kusta mendapatkan bantuan peningkatan usaha yang berasal dari kementerian sosial dan tenaga kerja (Serambi Indonesia, 5 Juli 2012). Pemerintah Aceh Utara telah memberikan perhatian khusus terhadap pemberdayaan mantan penderita, dengan bantuan dana setiap tahunnya. Namun jumlah anggaran yang diberikan selain masih rendah, jumlahnya pun dari tahun ke tahun terus menurun dan juga belum semua mendapatkannya.

Pemerintah sangat perlu memberikan perhatian yang lebih serius terhadap mantan penderita, sehingga mereka tidak termarjinalkan, merasa dihargai serta dapat hidup layak dan setara dengan orang lain pada umumnya, demi tercapainya amanat sila kelima Pancasila yaitu “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Perhatian yang sangat diperlukan seperti pelatihan keterampilan, disamping modal yang memadai untuk membuka usaha.

Beberapa mantan penderita di Kecamatan Samudra dan Tanah Pasir Aceh Utara,  mengungkapkan bahwa mereka sangat membutuhkan modal dalam rangka memproduksi tikar pandan (manyeum tika). Dana tersebut dibutuhkan untuk membeli bahan dasar tikar dan zat pewarna. Membuat tikar pandan merupakan salah satu keahlian ibu-ibu di Tanah Pasir yang telah dikuasai secara turun temurun.   

Selain itu sebagian mantan penderita juga memiliki keahlian memelihara hewan ternak seperti sapi, kambing, dan ayam. Ada juga yang memiliki keahlian membeli (mengumpulkan) hasil laut dari para nelayan. Namun kegiatan tersebut juga masih sulit dilaksanakan dan dikembangkan karena terkendala masalah modal.  

Kegiatan menganyam tikar pandan, beternak, dan mengumpulkan tangkapan hasil laut dari para nelayan, sangat memungkinkan dilakukan karena tetap berada di daerah pemukiman mereka sendiri. Mereka tidak berhadapan langsung dengan para pembeli (konsumen). Hasil tersebut dapat dijual luar daerah pemukiman mereka bahkan keluar daerah. Karena di lingkungan sekitar masyarakat masih anti dan kurang dapat menerima.   

Orang yang pernah (mantan) penderita Tbc, setelah sembuh tidak ada bekas yang terlihat, mantan penderita malaria kita juga (mungkin) tidak tahu kalau dia pernah menderita malaria. Namun mantan penderita kusta, sepanjang hidupnya mereka akan tetap “dicap” sebagai penderita kusta yang “ditakuti” dan (harus) “dijauhi”. Keadaan ini dapat mempengaruhi kehidupan sosial dan ekonomi, baik penderita, mantan penderita maupun keluarganya.

Oleh karena itu pemerintah hendaknya perlu memberikan perhatian khusus terutama dalam rangka membantu pemberdayaan ekonomi baik modal maupun keahlian (skill). Dengan adanya perbaikan ekonomi diharapkan penderita kusta tidak hanya dapat obat (sembuh) tetapi juga tidak lapar (dapat makan) untuk dirinya dan keluarga yang akhirnya dapat memperbaiki status sosial. Semoga terwujud, Amin.

Shabburin Syakur, Pegawai Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Utara dan siswa Sekolah Demokrasi Aceh Utara.

  • Uncategorized

Leave a Reply