Setelah Fahmi dan Rizki jadi Duta Wisata Aceh 2013

DI ATAS panggung wajah Fahmi Risnaldi terlihat sumringah. Bagaimana tidak, ia baru saja dinobatkan sebagai Agam Duta Wisata Aceh 2013 Sabtu malam kemarin, 29 Juni 2013. Mengalahkan 22 finalis Agam lainnya dari 22 kabupaten kota di Aceh. Sedangkan yang menjadi Inong Duta Wisata Aceh 2013 adalah finalis Inong Kota Lhokseumawe, Rizki Safria Nanda.

Sebelum dinobatkan sebagai juara oleh dewan juri, Fahmi bersama 45 finalis lainnya harus mengikuti proses karantina selama beberapa hari. Terhitung sejak Rabu, 26 Juni 2013 lalu para finalis diinapkan di sebuah wisma di Banda Aceh.

Di wisma itulah setiap harinya para finalis “digembleng”, diajarkan banyak hal mulai dari kepribadian hingga koreografi. Ini memang penting karena mereka adalah “orang-orang pilihan” dari perwakilan daerah masing-masing. Karena itu menjadi seorang duta bukan hanya label, tapi juga mumpuni.

Pada malam penobatan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Adami Umar, juga mengatakan bahwa duta wisata Aceh berbeda dengan duta wisata daerah lain-lain. Selama karantina berlangsung, para peserta dititikberatkan pada pemahaman agama dan diuji kemampuan membaca Al Quran. Bukan itu saja, para finalis juga dites urin. “Dan mereka dinyatakan bebas dari narkoba,” kata Adami malam itu.

Setelah menjadi Duta Wisata Aceh, tugas besar menanti Fahmi dan Rizki Safria Nanda. Dengan segala kemampuan dan kecakapannya, mereka harus bisa mempromosikan wisata Aceh. Sehingga berbagai potensi Aceh di sektor wisata bukan hanya sekedar terekspos. Tetapi benar-benar menjadi suguhan yang bisa dinikmati para wisatawan. Dengan begitu, seperti kata Fahmi saat berbincang-bincang dengan ATJEHPOSTcom 23 Juni lalu, semoga saja kejayaan Aceh bisa bangkit dengan berkembangnya pariwisata.

“Dengan mengembangkan pariwisata, kita bisa meningkatkan ekonomi rakyat,” kata Fahmi hari itu.  Tentu saja untuk mewujudkan itu semua Fahmi dan Rizki Safria Nanda tidak bisa sendiri. Mereka membutuhkan peran aktiv semua kalangan masyarakat Aceh. Bukan hanya aktiv tetapi juga harus “melek” wisata yang tercermin melalui sikap dan perilaku masyarakatnya sesuai selogan kita selama ini yaitu peumulia jamee. Bayangkan jika ke 46 Agam Inong Wisata seluruh Aceh saling bersinergi dan maksimal dalam menjalankan tugas-tugas mereka.

Fahmi dan Rizki bukan satu-satunya duta wisata di Aceh, ada banyak sebutan lainnya yang tujuannya juga untuk mempromosikan budaya dan wisata Aceh. Katakanlah misalnya Puteri Wisata, Putroe Bungong, Putroe Ranup, Puteri Citra, Puteri Indonesia Aceh, Miss Coffee dan sekarang juga sudah ada Duta PLTD Apung. Selain itu juga ada Duta Mahasiswa dan Duta Lingkungan, walaupun secara spesifik tugas mereka bukan mengurus wisata, tetapi tetap saja jika ada kesempatan mereka turut mempromosikan budaya daerahnya.

Bahkan ada juga yang setelah tak lagi menjabat sebagai duta terus gencar mempromosikan daerahnya melalu jejaring sosial, turun ke sekolah-sekolah, membuat program kepemudaan, pertukaran pelajar, atas inisiatif sendiri.

Ya, dunia pariwisata memang dunia kreatifitas tanpa batas. Itu pula yang membuat beberapa di antara mereka “ngotot” mengikuti berbagai event di luar daerah mewakili daerahnya, meski ada yang harus merogoh kantong sendiri, mencari sponsor sendiri. “Memang biaya transport biasanya ditanggung, tapi itu untuk dutanya saja. Sementara kita kan harus mengajak pendamping, dan mereka juga butuh biaya,” ujar salah seorang duta kepada ATJEHPOSTcom.

Ada juga yang untuk berangkat ke luar daerah pinjam sana pinjam sini, dengan jaminan ada biaya rembes. Tapi siapa yang berani menagih dua sampai tiga kali? Apapun namanya, mestinya kita paham untuk promosi butuh biaya besar. Bukan sekedar seremonial belaka.[] (Ihn)

  • Uncategorized

Leave a Reply