Seperti Apa Awan Cumulonimbus di Aceh?

TINGGI dasar awan cumulonimbus (CB) di Aceh berkisar mulai dari 1.800-2.100 kaki. Awan CB setinggi ini tetap berbahaya bagi penerbangan udara. Oleh karenanya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Banda Aceh selalu mengirimkan informasi terkait cuaca untuk penerbangan, dalam berbagai kondisi.

“Segitu tingginya saja awan CB pilot harus waspada, apalagi lebih rendah lagi, maka harus berhati-hati. Sebab itu, ketika ada CB memang sangat penting untuk segera dilaporkan. Itu prioritas utama kita laporkan ke pihak pengatur lalu lintas udara, ada atau tidak awan CB itu. Misalnya, ada sedikit CB dengan tinggi 1.800 kaki dan lima sampai enam jumlah awan di posisi 2.000 kaki,” jelas Prakirawan BMKG Banda Aceh, Nasrol Adil kepada Serambi, Senin (5/1).

Selain awan CB, hal lainnya yang dilaporkan juga terkait dengan kecepatan angin, tekanan udara, dan lainnya. “Apabila ada angin yang membahayakan di atas 25 knot itu langsung dilaporkan saat itu juga kepada pengatur lalu lintas udara,” kata Nasrol.

Ia sebutkan, dengan ketinggian awan CB di langit Aceh, maka ketika akan mendarat pesawat dapat berada di bawah awan CB. Ketika akan terbang dapat berada di atas awan CB tersebut. “Kita kasih tahu posisi awan itu dimana ketika akan mendarat, dengan demikian pilot akan mencari celah yang aman nantinya ketika akan mendarat ataupun terbang,” terang Nasrol.

Selain itu, kata Nasrol, di hidung pesawat juga sudah dilengkapi dengan radar cuaca untuk menangkap sinyal awan CB. Jika skalanya hijau, itu artinya boleh dilalui, kuning berupa peringatan, dan merah tanda bahaya.

Menurutnya, di dalam awan CB ada aktivitas petir dari awan ke awan dan ketika awan CB ini tumbuh di atas dan di bawah kemungkinan aktivitas petir di situ sangat tinggi. Ini dapat mengganggu navigasi pesawat dan mengacaukan turbelansi pesawat apabila melewatinya.

“Kita memberi tahu pilot apabila ada awan CB berbahaya yang berlangsung satu jam atau setengah jam, itu baru boleh take off atau landing. Jadi, pesawat keliling dulu atau mutar beberapa kali sebelum landing. Kalau dari meteorologi bilang sudah OK, maka pesawat boleh mendarat,” kata Nasrol sembari menyebutkan bahwa pihak penerbangan juga menggunakan data dari pihaknya terkait cuaca di udara.

 Apa cumulunimbus?
Nasrol Adil mengatakan, cumulunimbus (CB) adalah awan hasil konvektivitas dari anomali (ketidakmenentuan) cuaca, berupa belokan angin, konvergensi, dan konveksi.

Ada tiga fase pada awan CB ini, yaitu pertumbuhan, matang, dan punah.

Pada fase tumbuh, CB tidak membahayakan penerbangan. Tapi pada fase matang dan punah, CB harus diwaspadai dan dihindari oleh pilot. CB memiliki ciri berupa awan hitam bergumpal, berwarna abu-abu kehitaman, dan di dalamnya terjadi fenomena atmosfer.

Selain itu, di dalam CB terjadi aktivitas petir dengan tiga jenis, yakni petir di dalam awan, dari awan ke awan, dan dari awan ke tanah. “Semua jenis petir ini berbahaya bagi penerbangan. Maka petugas selalu meng-up date informasi ini tiap satu jam sekali memberi informasi cuaca. Apabila sedang hujan dan petir, maka up date-nya tiap setengah jam sekali. Hal ini sudah ada SOP-nya,” demikian Nasrol. | sumber: serambinews.com

  • Uncategorized

Leave a Reply