Sekitar 50 Persen Korban Human Trafficking Adalah Anak-Anak

BANDA ACEH – Ada sekitar 3 juta kasus praktik perdagangan manusia (human trafficking) di Indonesia. Sekitar  50 persen adalah anak-anak di bawah umur.

Hal ini disampaikan oleh Suraiya Kamaruzzaman, Presidium Balai Syura Ureung Inong Aceh (BSUIA), mengutip perkataan David Wyatt,  Rabu 12 Desember 2012, bertepatan dengan Peringatan Hari Anti Traficking Sedunia.

"Merebaknya traficking ini, karena modus-modus dari para pelaku yang sering mengumbar material. Sehingga muncullah korban-korban dari kalangan kelas bawah," ujar  Suraiya Kamaruzzaman.

Suraiya juga mengatakan penegakan hukum untuk traficking  harus mampu membuat pelaku jera  agar perdagangan manusia ini dapat diminimalisir. Sebab Indonesia telah meratifikasi Protokol Palermo yang membahas tentang perdagangan manusia. Hasil ratifikasi tersebut ada pada UU Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO).

"Sampai hari ini keseriusan pemerintah dalam menangani kasus traficking belum terlihat, terutama di Aceh," ujar Suraiya.

Upaya dari pemerintah sendiri harusnya di follow up secara baik pasca peratifikasian protokol mengenai perdagangan manusia. Setelah itu harus ada publikasi yang baik, agar masyarakat tidak mudah tertipu oleh modus-modus dalam human traficking.

"Pemerintah harus proaktif dalam menangani kasus-kasus trafficking. Sosialisasi harus sering dilakukan agar masyarakat tidak lagi tertipu akan modus traficking yang selama ini terjadi," ujarnya.

Saat ini sudah ada Gugus Tugas Anti Traficking di Aceh. Namun, kata Suraiya, belum berjalan maksimal, terutama karena anggaran yang sangat minim dalam melakukan kegiatan-kegiatan terkait sosialisasi trafficking.[](mrd)

  • Uncategorized

Leave a Reply