Sejarah singkat Warkop Cut Zein Beurawe

WARUNG kopi (Warkop) Cut Zein, Gampong Beurawe, Banda Aceh berdiri sejak tahun 1947. Letak pertama warkop tersebut menurut cerita pemiliknya, Muhammad Zein Sulaiman, persis di tepian Krueng Aceh, yang sekarang digunakan oleh para penjahit sepatu di kawasan Beurawe.

Kata dia, pra kemerdekaan Republik Indonesia, di Jalan T Iskandar tepatnya dipinggiran Krueng Aceh terdapat beberapa toko yang dikuasai oleh kaum non pribumi. Namun setelah Indonesia merdeka tahun 1945, mereka angkat kaki dan tak kembali. Sehingga beberapa unit toko yang ada dimanfaatkan oleh pemuda setempat untuk mencari rezeki.

"Dua tahun setelah kemerdekaan lalu saya lanjutkan berjualan di situ. Bukan hanya kopi yang saya sajikan, tapi termasuk berbagai jenis kebutuhan alat rumah tangga. Sama seperti toko kelontong kalau sekarang," kata Cut Zein saaat ditemui ATJEHPOSTcom di rumahnya di Gampong Beurawe, Minggu, 2 Juni 2013.

Sekitar empat tahun berjualan di tepian kali itu, kata Cut Zein, ia kemudian pindah ke Pasar Pagi yang terletak di Kuta Alam, Banda Aceh. Alasannya karena saat itu Krueng Aceh dalam proses pembuatan.

"Dibuat Krueng Aceh kemudian pindah ke Pasar Pagi Kuta Alam. Hampir setahun disana baru kembali lagi ke Beurawe," ujarnya Cut Zein yang saat ini berusia 90 tahun.

Kata Cut Zein, pemindahan warung kopi dilakukan setelah bangunan yang dibelinya selesai dilakukan.

"Itulah tempatnya sekarang. Selesai dibangun, kembali lagi ke Beurawe dan sampai sekarang. Sejak dibsitu saya juga hanya menjual kopi, tidak sama seperti sebelumnya" ujarnya.

Menurut Cut Zein, jumlah pengunjung warung kopi zaman dulu dengan zaman sekarang sedikit mengalami perbedaan. Dimana, saat itu peminum kopi masih sedikit dan lebih cenderung dilakukan oleh bapak-bapak.

"Meski jam buka warung kopi sama dengan sekarang, yang datang itu beda sekali dengan sekarang. Kalau dulukan belum ramai orangnya. Sekarang sudah cukup banyak," kata pria kelahiran 23 Maret 1923 itu.

Sedangkan untuk terus menjaga citarasa kopi yang sesungguhnya, kata Cut Zein, sejak dulu di warkop miliknya, kopi dimasak menggunakan kayu bakar. Alasan ia memilih kayu, selain kopi lebih wangi, rasa kopi dan tingkat kematangannya juga jauh berbeda ketimpang menggunakan kompor atau lainnya.

"Lebih masak dan citarasanya lebih terjaga. Aroma dan kenikmatan kopi yang disajikan jadi lebih enak ketika diminum atau ketika kita cium baunya," katanya.

Untuk jenis kopi, sejak dulu warkop milik Cut Zein memilih biji kopi Robusta. Kata dia, biji alami yang dibelinya di pasar, kemudian diolah menjadi bubuk kopi siap pakai. Biji kopi diolah dikawasan di Ulee Kareng.

"Dibuat khusus di sana, baru setelah itu dibawa ke warkop," katanya.

Untuk sekarang kata Cut Zein, di warkopnya juga menyediakan kopi bubuk sebagai oleh-oleh. Ada kopi Robusta yang dijual dengan harga Rp60 ribu per kilogram, Arabika Natural dengan harga Rp300 ribu per kilogram.

"Kopi Luwak liar (alami) juga sekarang sudah ada. Harga per gelas nya dua puluh ribu rupiah," ujarnya.[](ma)

  • Uncategorized

Leave a Reply