Sejarah Bandar Khalifah

BEBERAPA kendaraan roda empat dan sepeda motor lalu lalang di Jalan Banda Aceh Medan, tepatnya di pusat Kota Peureulak, Sabtu pertengahan November 2013 lalu. Hari itu, matahari masih tepat berada di atas kepala. The Atjeh Times menyusuri jalan kota Bandar Khalifah tersebut dan menemukan setidaknya ada dua warung kopi yang menyediakan fasilitas wifi.

“Beginilah Peureulak, tidak kolot dan sudah ada (warung kopi) wifi seperti di Banda Aceh,” ujar Faisal Zakaria, salah satu pemuda Aceh Timur kepada The Atjeh Times.

Menurutnya, kondisi Peureulak sebagai salah satu kota di Aceh Timur kian bangkit meski pun perlahan. Kota tersebut tidak kalah dalam segi pembangunan dibandingkan Idi yang menjadi pusat pemerintahan Aceh Timur saat ini.

Peureulak merupakan salah satu kota tua di Aceh. Kawasan ini terkenal dengan sejarahnya yang gemilang di Dunia Islam Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Kota ini dikenal dengan sebutan Bandar Khalifah di era kejayaannya dengan pusat pemerintahan berada di Gampong Paya Meuligoe.

Merujuk pada catatan HM Zainuddin dalam bukunya Tarich Aceh dan Nusantara menyebutkan asal mula Peureulak berasal dari nama pohon Kayee Peureulak yang banyak terdapat di daerah tersebut. Jenis pohon ini kerap digunakan untuk pembuatan kapal atau perahu. Akibatnya, negeri ini kemudian dikenal dengan sebutan Negeri Peureulak. Banyak pengelana dari mancanegara singgah di pelabuhan daerah ini yang kemudian menyebutnya sebagai Bandar Peureulak.

Kedatangan para pengelana asing tersebut membuat daerah ini terkenal. Padahal, saat itu Peureulak masih memiliki sistem pemerintahan yang sangat sederhana dan diperintah secara turun temurun oleh raja bergelar Meurah.

Popularitas negeri Peureulak turut memikat seorang putera istana dari Dinasti Sasanid Persia bernama Pangeran Salman. Saat itu, Islam belum berkembang. Pangeran Salman yang merantau bersama pedagang dari negerinya singgah di Bandar Jeumpa (Bireuen sekarang). Dia urung kembali ke negerinya setelah terpikat dengan salah seorang dara dari Istana Jeumpa, Mayang Seludang. Dia merupakan anak Meurah (penguasa) Negeri Jeumpa.

Pangeran yang memiliki kulit kuning langsat dan tinggi semampai ini akhirnya menikah dengan Mayang Seludang beberapa bulan kemudian. Setelah beberapa saat tinggal di negeri Jeumpa, Pangeran Salman mendengar kemegahan kayu Peureulak di daerah yang tak jauh dari Jeumpa. Dia memutuskan untuk merantau ke negeri tersebut bersama Putri Mayang Seludang setelah mendapat izin dari mertuanya, Meurah Jeumpa. Pangeran Salman dan isterinya berangkat ke Negeri Pereulak dengan perahu milik kerajaan Jeumpa. Mereka turut dikawal oleh beberapa perahu lainnya milik Meurah Jeumpa.

Kedatangannya ke Peureulak mendapat sambutan hangat dari seluruh masyarakat setempat dan pembesar negeri. Apalagi setelah mengetahui bahwa Pangeran Salman merupakan keluarga istana dari Kerajaan Persia dan Mayang Seludang merupakan putri Meurah Jeumpa. Pasangan ini kemudian menetap di Peureulak setelah melihat lalu lintas perdagangan internasional di daerah tersebut. Keputusan ini mendapat sambutan hangat dari seluruh warga dan pembesar negeri Peureulak.

Saat Meurah Peureulak mangkat, rakyat setempat mengangkat Pangeran Salman sebagai raja baru karena pimpinan sebelumnya tidak memiliki keturunan. Kepercayaan masyarakat tersebut dibayar oleh Pangeran Salman dengan memajukan daerah Peureulak. Setelah Salman berkuasa, pedagang dari Parsia semakin sering mengunjungi Peureulak.

KEJAYAAN Peureulak sebagai pusat perdagangan di Asia Tenggara turut dikisahkan oleh Abu Ishaq Makarani Pasee dalam risalah Idharul Haq fi Mamlaka Peureulak. Dia menuliskan, Peureulak telah menjadi pusat perdagangan yang sangat ramai pada tahun 173 Hijriah atau 800 Masehi, jauh sebelum kedatangan Marcopolo ke negeri tersebut. Karena itu, tulis Abu Ishaq, Peureulak disebut sebagai salah satu kota peradaban tertua di Aceh.

Abu Ishaq mengatajan pada tahun tersebut datang ke Peureulak rombongan pedagang yang dipimpin oleh nakhoda Khalifah. Mereka merupakan saudagar-saudagar Arab, Persia dan India muslim. Mereka datang ke bandar Peureulak untuk membeli lada, salasari, dan berbagai rempah-rempah lainnya.

Setelah tiga bulan mengumpul rempah-rempah, para pedagang ini kemudian kembali ke negerinya. Tak lama berselang, beberapa saudagar Arab lainnya mendatangi negeri Peureulak setelah mengetahui asal barang-barang yang dijual oleh nahkoda Khalifah dan rombongannya. Sejak itu, Peureulak semakin tersohor di jazirah Arab dan menjadi salah satu daerah yang dijadikan pusat penyebaran Islam.

Setelah pedagang Arab memperkenalkan Islam kepada penduduk Peureulak, pelabuhan yang semula disebut Bandar Peureulak diubah menjadi Bandar Khalifah.

Peureulak pertama kali dipimpin oleh Sayyed Maulana Abdul Aziz Syah pada 1 Muharam 225 Hijriyah atau bertepatan pada tahun 840 Masehi. Dia merupakan salah satu pendakwah keturunan Arab. Saat Peureulak dibangun, Kerajaan Mataram Hindu di Pulau Jawa masih berjaya.

Sultan Aliadin Sayyed Maulana Abdul Aziz Syah merupakan putera dari Sayyed Ali Al-Muktabar, turunan Arab dan Puteri Makhdum Tansyuri dari Peureulak. Dia berkuasa sekitar 24 tahun sebagai Sultan Peureulak. Pada masa pemerintahannya, Sayyed Maulana mengubah nama Bandar Peureulak menjadi Bandar Khalifah. Hal tersebut dilakukan guna menghilangkan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu yang masih berkuasa.

Perjalanan kerajaan Islam ini sempat mengalami ketegangan politik antara golongan Sunni dan Syiah pada tahun 956. Silang pendapat tersebut berakhir dengan perdamaian yang menyebabkan Peureulak terpecah menjadi dua kerajaan. Kerajaan Peureulak Pesisir yang dihuni oleh Islam Syiah dipimpin oleh Sayyed Maulana Abdul Aziz Syah dan Peureulak Pedalaman, dipimpin oleh Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat.

Perpecahan tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh Kerajaan Budha Sriwijaya pada 988 Masehi. Menurut catatan HM Zainuddin dalam Tarich Aceh dan Nusantara menyebutkan, kejayaan Peureulak yang disinggahi oleh pedagang internasional membuat Kerajaan Sriwijaya murka. Perkembangan Islam di negeri ini menjadi salah satu momok menakutkan bagi Sriwijaya. Mereka kemudian mengambil tindakan untuk menaklukkan Peureulak dan negeri sekitarnya.

Mulanya, Sriwijaya mengirimkan maklumat agar Peureulak tunduk di bawah kekuasaannya. Namun Sultan Peureulak menolak hal tersebut dan menambah murka penguasa Sriwijaya.

Kerajaan yang berpusat di Sumatera Selatan ini kemudian menyerang Peureulak. Namun serangan yang dilakukan oleh Sriwijaya ini membuat keduanya bersatu menghadapi invasi militer dari bangsa asing tersebut.

Peperangan antara Peureulak dengan Sriwijaya membuat Sultan Sayyed Maulana Abdul Aziz Syah mangkat tahun 1276. Kerajaan Peureulak kemudian dipimpin oleh Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat yang meneruskan peperangan melawan Sriwijaya.

Masih menurut HM Zainuddin, peperangan ini berlangsung hingga tiga tahun lamanya. Beberapa daerah pesisir jatuh ke tangan Sriwijaya. Peperangan baru berakhir setelah Sriwijaya diserang oleh Raja Kertanegara dari Pamahdaju pada tahun 1375. Selanjutnya Kerajaan Islam Peureulak kembali berjaya di bawah kepemimpinan Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat.

Perkembangan Islam di Peureulak diakui oleh salah satu penjelajah Venesia, Italia, Marcopolo yang datang ke negeri ini tahun 1292. Dia melukiskan Pulau Java Minor atau Sumatera terbagi dalam delapan kerajaan, yaitu Ferlech, Basa atau Baman, Samara atau Samalanga, Dragoian, Lambri, Fanfur atau Fansur.

“Ketahuilah, bahwa negara ini (Ferlech) banyak dikunjungi oleh pedagang-pedagang Muslim. Berkat kedatangan para pedagang Muslim itu, rakyat Ferlech memeluk agama Muhammad,” tulisnya saat singgah di Peureulak dalam pelayaran dari Kanton ke Teluk Persia. Tetapi, kata dia, komunitas Muslim hanya terbatas sampai kepada warga kota, “karena orang-orang di pegunungan masih hidup sebagai bangsa liar yang makan daging manusia dan daging lainnya baik bersih maupun kotor.”

+++

SEHARI setelah berkenalan dengan Peureulak, The Atjeh Times mengunjungi Pusat Pelabuhan Idi. Jaraknya berkisar 30 menit perjalanan dari Peureulak menggunakan kendaraan roda empat. Langit hari itu mendung saat kami melintasi jalan nasional lantas menjajal jalan berbatu menuju Kuala Idi. Sebuah gapura menyambut di pintu gerbang pelabuhan yang baru saja diresmikan oleh Wakil Gubernur Aceh, Muzakir Manaf beberapa bulan lalu.

Di sebelah kanan jalan PPI Idi terlihat satu bangunan. “Itu mushala PPI Idi,” ujar Muhajir, salah satu pemuda Aceh Timur yang menyertai perjalanan The Atjeh Times. Mushala ini letaknya sekitar 400 meter dari pusat pelabuhan Idi. Sementara di sebelah kanan arah jalan masuk terdapat beberapa bangunan tiga pintu selebar satu lapangan tenis. “Itu gudang tempat menyimpan ikan.”

Sejurus pandangan ke depan terdapat dua unit bangunan bongkar pasang. Sekilas bangunan tersebut mirip lapangan futsal. Di lokasi ini terlihat beberapa nelayan yang sedang memperbaiki jaring. Ada pula beberapa wanita yang menjajakan dagangannya seperti kopi dan makanan ringan. Selain itu, puluhan perahu bersandar di kuala.

Merunut sejarah, Idi berasal dari ucapan ie dit (air sedikit). Namun ada pula yang menafsirkan dari kata ie dhiet (air bagus). Terlepas dari perbedaan muasal bahasa, Idi dulunya dikenal sebagai daerah pelabuhan umum. Pelabuhan Kuala Idi menjadi dermaga ekspor impor hasil perkebunan. Pelabuhan ini tercatat sebagai yang terbesar di Aceh kala itu. Canggihnya pelabuhan ini memiliki jaringan kabel telepon bawah laut yang terhubung ke Pulau Penang.

Disebutkan banyak sumber, Kota Idi pertama sekali dibuka oleh Panglima Nyak Sim, Teuku Ben Guci dan beberapa ulee balang lain. Letak yang strategis ditambah kecanggihan kota ini, membuat perdagangan laut berjalan lancar. Idi masa itu telah memiliki transportasi laut yang lancar untuk berhubungan dengan Malaysia dan Singapura. Hal ini yang membuat beberapa negara asing tertarik masuk Idi.

Dalam sejarahnya, bukan hanya Cina yang memiliki kemauan besar mendarat di Idi tetapi juga Belanda. Namun, kedatangan Belanda di Idi menjadi sejarah baru bagi Aceh. Belanda bukan hendak menjalin hubungan perdagangan seperti surat yang pernah mereka sampaikan melalui utusan. Negeri Kincir Angin itu malah hendak menjajah Aceh untuk meraup hasil bumi di Tanah Serambi. Bahkan Belanda turut mencampuri sengketa politik antara kerajaan-kerajaan kecil tanpa sepengetahuan Kerajaan Aceh Darussalam.

Merujuk catatan Harry Kawilarang dalam buku Aceh dari Sultan Iskandar Muda ke Helsinki, menyebutkan Pemerintah Belanda di Batavia kerap mencampuri urusan Idi dengan Simpang Ulim. Keterlibatan Belanda dalam sengketa tersebut berawal pada Agustus 1871. Saat itu konsulat negeri Kincir Angin ini mendengar aksi blokade yang dilakukan oleh armada laut Simpang Ulim di bawah restu Kerajaan Aceh Darussalam. Puluhan kapal yang masuk diperiksa termasuk kapal niaga dari Belanda. Hal ini membuat Raad van Indie—julukan Belanda—di Batavia memutuskan aksi militer tanpa harus mempertimbangkan hukum internasional kepada Kesultanan Aceh.

Mereka mengirimkan Kapal Perang Marnix yang bergabung dengan Kapal Perang Djambi ke perairan Idi. Kedua kapal ini bermaksud menembus aksi blokade yang dilakukan armada laut Simpang Ulim. Padahal di perairan tersebut sama sekali tidak terdapat kapal perang Belanda, namun kedua kapal perang ini mengusir kapal-kapal Simpang Ulim. Selanjutnya kedua kapal perang ini kerap berpatroli di perairan Aceh untuk melakukan perang urat saraf dengan kerajaan.

Belanda lantas menduduki Idi tidak lama setelah maklumat Perang Aceh 1873 dikumandangkan. Kala itu Belanda berhasil mengibarkan Prinsenvlag atau Bendera Sang Pangeran serta mendirikan benteng kokoh di Idi Rayek. Belanda juga memasang meriam di atas bukit (sekarang kawasan Peudawa). Meriam-meriam itu kemudian ditembakkan ke Pelabuhan Kuala Idi.

“Di sinilah kapal-kapal nelayan Idi yang terkenal itu merapat,” ujar Zulfadli, 34, salah satu nelayan kepada The Atjeh Times.

Prilaku Belanda tersebut sangat berbeda dengan Kerajaan Cina. Pedagang-pedagang dari Cina malah mengupayakan hubungan baik di bidang perdagangan dengan Idi. Karenanya komunitas Tionghoa lebih diterima masyarakat setempat. Cina kemudian mencoba membangun peradaban mereka di sana. Beberapa bangunan penting yang didirikan komunitas Tionghoa menjadi pertalian peradaban Cina dengan Idi.

Meski pelabuhan ini sudah ada sejak jaman kerajaan Aceh Darussalam, ada beberapa hal yang membuat nelayan setempat masih harus diperbaiki oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Timur. “Nelayan baru bisa merapat ke Kuala Idi saat air pasang. Sementara kalau (air) surut, pelabuhan ini dangkal,” kata Zulfadhli. Padahal, kata dia, Idi memiliki perahu penangkap ikan terbanyak di Aceh. Karenanya, Zulfadhli berharap agar Pemerintah Aceh Timur di bawah kepemimpinan Hasballah bin M Thaib dan Syahrul Syamaun mau mengeruk Kuala Idi agar tak dangkal lagi. “Ini perlu.”

Hujan deras disertai angin kencang kemudian melanda kawasan PPI Idi. Puluhan boat nelayan terombang-ambing di Kuala Idi mengikuti gelombang. Sementara angin menikam pembuluh darah yang menutup pembicaraan The Atjeh Times dengan para nelayan setempat.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply