Sachara, Bides Teladan Aceh 2014

SACHARA, Amd. Keb., Bidan Desa (Bides) yang bertugas di Desa Buket Linteung, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, menerima penghargaan sebagai tenaga keperawatan teladan peringkat I Puskesmas se-Aceh tahun 2014 dari Gubernur Aceh.

Penghargaan diserahkan Sekda Aceh Darmawan mewakili Gubernur Zaini Abdullah seusai upacara memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-50 atau HKN emas di halaman Kantor Gubernur Aceh, Rabu, 12 November 2014.

Sachara akrab disapa Sara sebagai tenaga kesehatan dari Puskesmas Langkahan, Aceh Utara, meraih peringkat I katagori tenaga keperawatan dengan nilai akhir 84,7. Sedangkan Hayatirna Amd. Keb., dari Puskesmas Jelobok, Bener Meriah (nilai akhir 82,6) peringkat II, dan Cut Lianovita Amd. Keb., Puskesmas Klut Selatan (nilai akhir 81,4) peringkat III.

Alhamdulillah, saya kembali mendapat penghargaan sebagai bides teladan untuk katagori tenaga keperawatan, kali ini (penghargaan) tingkat Provinsi Aceh. Mudahan-mudahan ini semakin memotivasi saya lebih maksimal melayani masyarakat. Tanpa penghargaan pun saya harus maksimal, karena itu kewajiban saya,” ujar Sara kepada ATJEHPOST.co lewat telpon seluler, Rabu sore tadi.

Sebelumnya, Sara menerima penghargaan sebagai bides teladan se-Aceh Utara tahun 2014, dan tingkat nasional. Ia satu-satunya bides dari Aceh yang diundang ke Istana Negara pada peringatan HUT RI 17 Agustus 2014.

Ketika itu, tiga tenaga kesehatan lainnya dari Aceh diundang ke Istana Negara adalah drg. Muhammad Iqbal Tanzil dari Puskesmas Keude Geurubak, Aceh Timur (hari ini menerima penghargaan peringkat I katagori tenaga medis teladan Puskesmas se-Aceh 2014), Oyadilla Hartri, SKM., Puskesmas Bandar, Bener Meriah (peringkat I katagori tenaga kesmas/sanitarian), dan Kusmayadi, AMG., Puskesmas Simeulue Tengah, Simeulue (peringkat I katagori tenaga nutrisionis/gizi).

Dua tahun lalu, 2012, Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di Desa Buket Linteung yang digerakkan Sara terpilih sebagai posyandu terbaik seKecamatan Langkahan, Aceh Utara.

Lahir di Langsa, 26 Juni 1986, Sara merupakan putri dari pasangan M. Dahlan dan Nafizah, warga Lhok Nibong, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur. Ia anak pertama dari lima bersaudara.

Setelah lulus Akademi Kebidanan (Akbid, kini Akademi Kesehatan/Akkes) Bustanul Ulum Langsa, Sara mulanya bertugas sebagai Bidan Desa Pegawai Tidak Tetap (Bides PTT) di Desa Matang Teungoh, Kecamatan Langkahan pada 2008.

Setahun kemudian, 2009, ia ditugaskan ke Desa Buket Linteung, Kecamatan Langkahan hingga sekarang. Dua desa tersebut termasuk katagori sangat terpencil, awalnya berada di bawah Puskesmas Simpang Tiga, Kecamatan Langkahan, sebelum ada Puskesmas Langkahan.

“Saat saya pertama bertugas di sana (Buket Linteung), 97 persen (kaum perempuan) melahirkan dengan (bantuan) dukun, karena tidak ada bidan. Kemudian saya membuat pedekatan dengan masyarakat melalui penyuluhan, sehingga lambat laun mereka beralih melahirkan dengan tenaga kesehatan. Alhamdulillah, sekarang meskipun belum 100 persen, tapi sudah 95 persen melahirkan dengan tenaga kesehatan,” ujar Sara.

Ia menyebut strateginya itu sebagai program unggulan “merubah pola pikir masyarakat dari melahirkan dengan dukun beralih ke tenaga kesehatan”. Tentu saja banyak kendala yang ia hadapi untuk mengubah pola pikir kaum perempuan di desa pedalaman tersebut.

“Awalnya pasti pro kontra, tapi berkat usaha dan doa, Alhamdulillah, berhasil. Kita membuat pendekatan dari hati ke hati, kunjungan ibu hamil, selain kegiatan posyandu. Selama saya bertugas di sana, mudah-mudahan tidak ada ibu melahirkan yang meninggal,” ujar istri dari Irham, seorang pengelola kebun sekaligus pedagang pengumpul komoditi kakao dan pinang di Langkahan itu.

Sara yang menetap di Buket Linteung sejak menjadi Bides PTT bertekad untuk terus berjuang agar ke depan semua kaum perempuan di desa itu beralih melahirkan dengan bantuan tenaga kesehatan.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply