Saat Banjir Menerjang Aceh

Banjir kembali melanda tiga kabupaten di Aceh. Hutan yang mulai gundul diduga salah satu penyebab.

________________________________________________

PRIA paruh baya berkulit sawo matang melintasi genangan air di Desa Beureunuet, Kecamatan Seulimuem, Aceh Besar, Kamis pekan lalu. Dia memakai baju kemeja kuning bergaris kotak hitam. Pria itu tampak sangat berhati-hati saat melintasi genangan air sebatas lutut pria dewasa. Di gendongannya, ada bocah telanjang yang didekapnya erat-erat.

Di belakangnya, seorang wanita berkaos dan kain sarung lusuh menyusul tergopoh-gopoh. Tangannya menjinjing sandal jepit kusam. Keluarga kecil ini melintasi banjir menuju posko pengungsi di poliklinik desa setempat.

Kejadian yang dialami keluarga ini juga menimpa ratusan keluarga lain pada hari yang sama. Kepala Desa Beureunuet, Junaidi mengatakan banjir menerjang desa mereka pada Rabu malam pekan lalu. Banjir itu yang terparah dalam beberapa tahun terakhir.

Akibat banjir ini, kata Junaidi, 95 keluarga mengungsi, 76 rumah terendam, sebuah rumah dan sebuah balai pengajian hancur, empat perahu rusak, sebuah jembatan dan 21 petak tambak rusak. Kerugian ini belum termasuk kehilangan harta benda berupa hewan ternak, seperti kambing, ayam, dan sapi yang hilang terseret arus banjir.

Bencana itu langsung mengundang simpati. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh Hasbi Abdullah didampingi Wakil Ketua Sulaiman Abda beserta rombongan mengunjungi lokasi banjir itu pada Jumat pekan lalu. Dalam perjalanan, rombongan Ketua DPRA disambut rintik hujan di kawasan Ujong Batee.

Sebelum mencapai lokasi dituju, rombongan terlebih dulu melaksanakan salat di Meunasah Mon, Krueng Raya, Aceh Besar. Usai salat, hujan berhenti sejenak, dan rombongan kembali bergerak menuju lokasi banjir bandang.

"Kami ikut prihatin dan ingin berbagi bantuan cepat untuk masyarakat Beureuneut. Lebih utama lagi, kami ingin melihat langsung agar bisa segera mengetahui kondisi riil di lapangan," ujar Hasbi Abdullah dalam perjalanan menuju lokasi.

***

Musibah banjir terjadi dalam waktu hampir bersamaan di beberapa kabupaten di Aceh pada Rabu pekan lalu. Selain di Aceh Besar, banjir juga menerjang di Pidie Jaya dan Bireuen.

Di Aceh besar, ada tiga kecamatan yang dilanda banjir terparah. Tiga kecamatan itu Mesjid Raya, yang meliputi Kompleks Perumahan Cinta Kasih di Desa Neuheun, Paya Kameng, Beurandeh, Meunasah Mon, Meunasah Kulam, dan Meunasah Keudee.

“Ada 28 rumah yang terendam banjir bandang di Dusun Dua. Sementara di Dusun Tiga Blok I dan D, belasan rumah diterjang air yang turun dari bukit. Ini terjadi karena bukit di belakang kompleks telah gundul akibat galian C,” kata Kepala Dusun Dua Kompleks Cinta Kasih, M. Din, Rabu malam pekan lalu.

Adapun di Kecamatan Seulimeum, banjir terjadi di Desa Bereunuet. Di Kecamatan Lembah Seulawah, banjir menimpa Desa Saree Aceh. Di desa ini, bocah usia sembilan tahun turut menjadi korban dalam musibah tersebut.

Bocah belakangan diketahui bernama Zahrul dan berstatus yatim piatu. Ia diperkirakan terseret arus pada Rabu pekan lalu sekitar pukul 18.00 WIB. Zahrul baru ditemukan sudah tak bernyawa lagi pada Jumat pekan lalu, pukul 17.20 WIB.

***

Di Pidie Jaya, banjir terjadi di tujuh kecamatan, meliputi Meuredue, Ulim, Bandar Dua, Trienggadeng, Meurah Dua, Jangka Buya dan Panteraja. Ada 68 desa di tujuh kecamatan itu diredam air lumpur.

Di Bireuen banjir menimpa 112 gampông di tujuh kecamatan. Adapun tujuh kecamatan ini Samalanga, Simpang Mamplam, Jeunieb, Pandrah, Plimbang, Peudada, Jeumpa, dan Juli.

Kepala Dinas Pengairan, Pertambangan dan Energi Bireuen, Ismunandar, Jumat pekan lalu, mengatakan banjir berskala besar itu disebabkan tidak tertampungnya air di sejumlah sungai, waduk, dan saluran.

Alur masuk air dari pegunungan ke saluran dan waduk, kata dia, tersendat sehingga meluap dan meluber ke pemukiman penduduk. Sebab yang sama juga terjadi di Kecamatan Plimbang, Jeunieb, dan Pandrah. “Waduk Paya Sikameh di Peudada malah jebol,” ujar Ismunandar.

Agar banjir tidak terus terulang dan menjadi langganan di sejumlah kecamatan, kata Ismunandar, perlu dilakukan penanganan terpadu. Caranya, dengan menormalisasi saluran, sungai, dan waduk yang dangkal.

“Supaya saat curah hujan tinggi, airnya dengan lancar masuk ke waduk, lalu mengalir ke saluran pembuangan dan sungai. Artinya, dari hilir hingga ke hulu air dapat mengalir dengan lancar,” ujar Ismunandar.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Aceh Jarwansyah mengatakan stafnya saat ini telah diturunkan ke semua lokasi banjir untuk membantu korban dan melakukan upaya-upaya penanggulangan. “Termasuk bersiaga jika terjadi banjir susulan,” kata Jarwansyah Kamis pekan lalu.[] MURDANI ABDULLAH | M.S. SULTAN (Bireuen)

  • Uncategorized

Leave a Reply