Rohingya dan Ramadan

Rohingya dan Ramadan

ANGGOTA Komisi VI Bidang Kesehatan dan Kesejahteraan DPR Aceh kemarin meninjau lokasi penampungan imigran Rohingya dan Bangladesh. Mereka turun bersama tim dari Dinas Kesehatan, Dinas Sosial dan juga Ikatan Dokter Indonesia. Mereka menilai secara umum lokasi pengungsian di bawah standar kesehatan.

Selain itu dewan juga memberikan beberapa rekomendasi yang perlu ditindaklanjuti Pemerintah Aceh selaku pemegang kebijakan tertinggi di Aceh. Salah satunya adalah menyangkut keberadaan warga Bangladesh. Mereka meninggalkan negaranya murni karena faktor ekonomi dengan harapan mencari kehidupan baru. Mereka yang selama ini berada di penampungan patut dipulangkan.

Dalam konteks ini, kita bukanlah hendak mengusir mereka. Tapi Aceh juga memiliki sejumlah persoalan ekonomi yang membelit. Lagi pula negara mereka juga tidak akan membiarkan warganya terkatung-katung seperti sekarang. Jadi diperlukan solusi segera untuk menyelesaikan hal ini.

Mengacu pada kondisi di negara mereka, warga Bangladesh tidak memenuhi syarat sebagai pengungsi atau pencari suaka politik. Mereka lebih cocok disebut perantau. Membiarkan mereka terlalu lama di barak pengungsian dengan segala fasilitas yang disediakan sepertinya memang perlu dipertimbangkan kembali.

Hal ini berbeda dengan kondisi etnis Rohingya yang memang dianggap ‘anak haram’ oleh negaranya Myanmar. Tekanan politik dan kekerasan yang ditujukan pada mereka membuat orang-orang Rohingya harus lari. Mereka lari untuk menyelamatkan diri dari segala ancaman, baik psikis maupun fisik.

Rohingya dinilai memenuhi syarat sebagai pengungsi. Dalam hal kemanusiaan, mereka pantas diberi perlindungan sementara. Setidaknya, sampai ada kejelasan bagaimana nasib mereka ke depan. Dari sisi kemanusian kedua kelompok ini sudah kita selamatkan. Namun merujuk pada status mereka, pemerintah harus mengambil langkah-langkah berdasarkan kriteria di atas.

Khusus untuk pengungsi Rohingya, jika memang mereka akan berada di Aceh selama setahun, maka usulan dewan harus segera ditindaklanjuti. Artinya, mereka memang harus memiliki hunian sementara yang layak. Dan selama setahun itu apa yang akan mereka lakukan?

Yang terdekat adalah bagaimana menangani mereka selama bulan puasa nanti? Tentunya ada perbedaan siklus yang harus disesuaikan dengan adat dan kebiasaan masyarakat Aceh. Di samping itu, sebagai muslim mereka juga perlu beribadah dengan nyaman. Jangan sampai semuanya menjadi kacau karena belum adanya perencanaan teknis yang matang.[]

foto @viva

Leave a Reply