Renungan Ramadan Sulaiman Abda: bulan kedermawanan

MUSIBAH dan bencana adalah bagian dari ujian kepada semua manusia. Bukan hanya musibah dan bencana semata sebagai ujian, harta dan diri pun adalah ujian. Hanya ada dua jawaban, apakah kita menjadi hamba yang bersabar atau malah menjadi diri yang lemah lalu lari dari ujian Allah dan bersekutu dengan tuhan hawa nafsu. Apakah kita akan bersyukur atau malah lupa diri dan men-tuhankan materi.

Sungguh, ujian merupakan ketetapan Allah atas setiap muslim. "Kamu benar-benar akan diuji pada hartamu dan dirimu." Demikian Allah menegaskan ketetapan ujian di dalam al-quran (Ali Imran: 186).

Bukan hanya musibah dan bencana. Ujian atau cobaan bisa juga dalam wujud ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Juga harta, jiwa, anak dan keluarga. Atas semua ujian Allah menyampaikan berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan 'Inna lillâhi wa innâ ilaihi râji'ûn.

Di bulan ramadan ini, orang-orang beriman diajak untuk menjadi diri-diri yang merasakan lapar, dahaga dan menahan syahwat. Tentu disamping sebagai wujud penghambaan kita kepada Allah, menahan diri juga bagian dari pembentukan perasaan kasih sayang kita kepada sesama, khususnya terhadap mereka yang sedang menempuh ujian ketakutan, kehilangan, kehancuran oleh berbagai sebab.

Kepada mereka yang berpunya tentu juga menjadi ujian harta. Apakah harta yang kita miliki bersedia kita berikan kepada mereka yang membutuhkan. Apakah pikiran cerdas kita mau kita sumbangkan agar mereka yang sedang mengalami musibah dan kekurangan dapat kembali meraih impian masa depannya?

Sungguh, Nabi Muhammad sudah menjadi suri tauladan tentang kedermawanan khususnya di bulan ramadhan, dan sungguh Rasulullah lebih dermawan terhadap perbuatan baik dari angin yang berhembus (sangat ringan dan cepat berbuat baik tanpa merasa keberatan).

Di bulan ramadan semua amal baik tidak ada yang sia-sia. Allah sebagai pemilik langsung puasa bahkan akan membalas semua kebaikkan dengan balasan sepuluh kebaikkan yang sama.

Itulah sebabnya ramadhan juga dikenal sebagai syahru muwasah (bulan bersimpati dan menolong) lewat shadaqah. "Shadaqah yang paling utama adalah shadaqah pada bulan Ramadhan." (HR. al-Tirmidzi dari Anas).

Bukan hanya manusia yang dianjurkan memperbanyak shadaqah di bulan ramadhan. Allah juga, pada bulan ramadhan melimpahkan kebaikan kepada para hamba-Nya dengan mecurahkan rahmat, maghfirah, dan pembebasan dari neraka, terlebih di Lailatul Qadar. Allah Ta'ala akan menyayangi para hamba-Nya yang senang mengasihi yang lain. Nabi bersabda:  "Sesungguhnya Allah akan merahmati para hamba-Nya yang ruhama' (suka mengasihi yang lainnya)." (HR. Al-Buhkari)

Banyak ulama menegaskan kepada kita semua "siapa yang berderma kepada hamba Allah, maka Allah akan berderma kepadanya dengan pemberian dan karunia. Karena balasan itu sesuai dengan jenis amal."

Puasa dan shadaqah juga menjadi jalan bagi hamba untuk menjadi penghuni surga. Dari Ali Radhiyallahu 'Anhu, Nabi bersabda, "Sesungguhnya di surga terdapat ruangan yang dalamnya bisa dilihat dari luarnya dan luarnya bisa dilihat dari dalamnya." Lalu para sahabat bertanya: "Untuk siapa itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Bagi siapa yang baik tutur katanya, memberi makan, melaksanakan shiyam, dan shalat malam karena Allah di saat manusia tertidur." (HR. Al-Tirmidzi)

Sebagian ulama telah menguraikan hikmah berpuasa: "Supaya orang kaya merasakan rasanya lapar sehingga tidak lupa terhadap orang-orang yang hidupnya lagi diuji Tuhan dengan cobaan kelaparan.." Adakah kita menjadi diri yang mengikuti tarbiyahnya ulama yang merupakan anjuran Allah dan tauladan nabi? Mari melatih diri menjadi dermawan di bulan ramadhan agar di semua bulan kita sudah terbiasa menjadi pengikut orang-orang saleh. Selamat jelang buka puasa.[]

Sulaiman Abda adalah Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh

  • Uncategorized

Leave a Reply