Renungan Ramadan Sulaiman Abda: Bulan Fitri (3)

PUASA belum berakhir. Tapi, nuansa lebaran sudah terasa. Toko-toko dipenuhi pembeli dan rumah-rumah disibukkan dengan ragam pembenahan. Semua untuk menyambut idul fitri. Ada satu lagi, ucapan minal 'aaidiin wal faaiziin sudah mulai ditebarkan.

Kalimat "minal 'aidiin wal faaiziin" adalah doa. Doa menyambut orang-orang yang kembali:
(semoga engkau) bagian dari orang-orang yang kembali dan bagian dari orang-orang yang menang. Apa makna kembali dalam ucapan doa penyambutan ini?

Ada yang menyebut kembali (suci). Ini kaitannya dengan ibadah puasa yang di dalamnya mengandung kesempatan mendapatkan ampunan Allah. Jika Allah sudah mengampuni maka orang-orang yang berpuasa adalah orang-orang yang suci, seperti bayi yang baru terlahir dari rahim ibu. Bulan ramadan ibarat rahim ibu yang selama satu bulan mengandung kita dan begitu syawal tiba maka orang-orang berpuasa terlahir suci.

Ada juga yang menyebut kembali (fitrah). Puasa adalah ibadah hati. Hanya diri dan Allah yang tahu apakah seseorang berpuasa atau tidak. Dan, puasa yang paling tinggi kualitasnya juga manakala mampu menjaga hati dari sesuatu yang merusak kualitas hati. Melalui puasa yang begitu rahasia, hanya antara diri dengan Tuhan mengingatkan diri pada perjanjian dengan Allah ketika berada di alam ruh. Dengan puasa, Allah mengingatkan kembali perjanjian yang sudah dibuat karena yang namanya manusia kerap lupa diri dan juga lupa janji. Jika kita berhasil menjalani puasa semata karena Allah maka kita akan melanjutkan karya hidup kita ke depan sesuai dengan perjanjian yang ada, yaitu beribadah kepada Allah.

Ada juga yang menyebut kembali (kompak). Makna ini terkait dengan seluruh rangkaian puasa. Mulai dari kebersamaan di saat menyambut ramadan, kebersamaan di dalam menjalankan tradisi ramadan seperti berbuka bersama, tarawih bersama, i'tiqaf bersama, dan idul fitri bersama maka bulan ramadan adalah bulan latihan membangun kekompakan kembali sesama muslim. Melalui puasa, Allah membimbing secara rahasia hati mereka yang iklas dan secara kasat mata ramadan mendorong terbangungannya solidaritas, relasi, dan kebersamaan.

Ketiga makna atau pemahaman itu bisa di satukan dalam satu kehendak atau harapan. Secara pribadi kita tentu merasa menjadi orang yang menang manakala selalu menjadi manusia suci, atau yang senantiasa mensucikan diri dari dosa, salah, dan khilaf. Kita juga pasti menjadi orang yang menang manakala kita bisa menjadi orang-orang yang menepati janji dengan Allah, senantiasa beribadah kepada Allah, atau senantiasa condong kepada kebenaran. Tentu, untuk melengkapi kemenangan itu diperlukan kemenangan yang bersifat sosial, lebih luas dari sekedar kemenangan pribadi.

Menjadi manusia langitan itu hebat. Menjadi manusia bumi juga hebat. Menjadi keduanya tentu lebih hebat lagi. Orang-orang suci atau ahli ibadah yang tidak memiliki kepedulian sosial tentu tidak sempurna. Sebaliknya, pejuang yang tidak beribadah kepada Allah dan menyakiti sesama juga tidak bernilai di mata Allah.

Aceh tentu membutuhkan manusia suci, juga manusia fitrah yang tidak ingkar janji, sekaligus menusia kompak. Tanpa ketiganya maka Aceh akan terus berada di lingkaran konflik. Dan begitu konflik masih menjadi alasan peruntuh, perontok, penjatuh, penjegal, dan lainnya maka nasib perdamaian Aceh akan terus sebagai perdamaian negatif. Artinya, Aceh masih akan damai manakala dijaga dengan alat-alat kekerasan. Manakala alat-alat kekerasan itu ditemukan kelemahannya maka konflikpun akan kembali terjadi.

Semoga, ramadan dan idul fitri kali ini menjadi momentum bagi membangun kesadaran kebersamaan. Taqabbalallahu minnaa wa min kum (semoga Allah menerima [amalan puasa] dari kami dan [amalan puasa] dari kalian). Allahu a'lam bish-showwab.

  • Uncategorized

Leave a Reply