Reaksi IWAPI: Aceh Kaya Produk Tapi Minim Promosi

BERDAMPINGAN dengan bangunan tempat perajin souvenir bekerja, ada rumah toko (ruko) yang di terasnya terpampang papan nama “Bungong Rauza Souvenir”. Sebelah kanan dan kiri bagian muka ruko itu tampak lemari kaca berisi aneka jenis souvenir motif Aceh.

Ada pula lemari kaca di sisi kanan dinding yang sesak dengan tas dan dompet. Di dinding kiri terpajang lebih 25 tas beragam jenis. Selain itu, dompet, sarung bantal kursi sofa, dan sajadah. Semuanya bermotif bordir. 

Ketika saya masuk ke ruko itu, tiga perempuan paruh baya tengah berbincang akrab. Salah satunya, Nurbaiti, 40 tahun, istri Saifuddin A. Jalil, pemilik usaha souvenir tersebut. Dua lainnya kemudian saya ketahui adalah Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Aceh Utara, Hj. Nurjannah, dan temannya.

Nurjannah berkunjung ke tempat itu untuk menjajaki rencana kerja sama. Menurut Nurjannah, pihaknya ingin memperkenalkan aneka souvenir Aceh produk Ulee Madon kepada IWAPI di 33 provinsi lainnya di nusantara melalui tukar menukar cenderamata.

Itulah sebabnya, Nurjannah ingin memastikan persediaan souvenir hasil kerajinan  tangan di lokasi usaha tersebut. Sebelum ke “Bungong Rauza Souvenir”, kata dia, tadinya mereka sudah mendatangi dua unit usaha lainnya di Ulee Madon.

“Kami juga ingin promosikan produk Ulee Madon ini ke Malaysia, karena kami lihat selama ini kalau hanya berharap pada pemerintah sepertinya stagnan, tidak difasilitasi untuk mencari pasar yang lebih luas, dan minim promosi. Padahal upaya ke arah itu sangat penting. Untuk pasar lokal saja belum maksimal,” ujar Nurjannah.

Nurbaiti menjamin pihaknya mampu menyediakan aneka souvenir Aceh sesuai permintaan pasar, baik lokal, nasional hingga internasional. Pascatsunami, kata dia, “Bungong Rauza Souvenir” telah memenuhi pesanan PT. Pekerti Nusantara, Jakarta, untuk ekspor tas motif Aceh ke Amerika dan Kanada.

“Ini masih berlanjut sampai sekarang, Pekerti Nusantara beli souvenir pada kami, mereka yang ekspor,” kata Nurbaiti sambil memperlihatkan selembar kertas bukti pesanan perusahaan yang memiliki berbagai macam koleksi perdagangan produk kerajinan Indonesia dari bahan yang berbeda dan latar belakang budaya itu.

“Pekerti Nusantara selama ini hanya pesan tas koin (berukuran paling kecil), dan koper (tas paling besar). Biasanya mereka kirim kode (barang) dan kita langsung tahu jenis pesanannya. Ada yang di pesan sebulan sekali, dan tiga hingga lima bulan sekali,” ujar Nurbaiti lagi.

Data dilansir situs resmi PT. Pekerti Nusantara menyebutkan, perusahaan ini didirikan pada tahun 1979 silam. “ our products have been sold in Europe, America, Canada, Asia, the Pacific and Australia”, demikian keterangan dilansir laman perusahaan itu saat saya akses, Ahad siang.(produk kami telah dijual di Eropa, Amerika, Kanada, Asia, Pasifik dan Australia).

Akan tetapi, di laman perusahaan tersebut tidak dipajang produk souvenir Aceh. “Ke depan perlu langkah yang lebih maju, produk souvenir Ulee Madon mestinya bisa diekspor langsung oleh pengusaha Aceh, sehingga lebih menguntungkan secara bisnis. Apalagi kita punya Pelabuhan Krueng Geukueh (Aceh Utara) yang sudah bisa ekspor impor,” kata Nurjannah.

Penting pula, kata Nurjannah, “Bungong Rauza Souvenir” dan unit usaha lainnya di Ulee Madon membuka website sendiri sebagai salah satu upaya promosi kepada dunia luar melalui fasilitas teknologi informasi.

“Berbagai media dan jalur yang ada, semua kekuatan harus dikerahkan kalau ingin produk Aceh lebih berkembang dan maju,” ujarnya. “Persoalan selama berpuluh-puluh tahun di kita kan, potensi cukup besar, Aceh kaya produk, tapi pasarnya tidak ada yang buka lebih lebar. Berharap pada pemerintah? Mungkin setelah selesai acara seremoni peresmian, habis perkara. Bagaimana mau maju?”

Nurjannah dan temannya pamit pada Nurbaiti seusai membeli satu tas ransel motif Aceh senilai Rp110 ribu. Ia berjanji akan kembali ke Ulee Madon. Akan tetapi bukan untuk acara seremoni dan retorika yang “meninabobokkan” pelaku usaha souvenir.[]

Bagian III: Krang Kring Telepon Pelanggan

  • Uncategorized

Leave a Reply