Puisi-puisi Risman Rahman

Peluru (I)

Pinjam pelurumu, bung
Ku oles dulu gincu warna pink
Dan ku ikat pita pink
Agar langsingnya mirip banci berdiri di pinggir jalan

Peluru (II)

Ada berapa lagi sisa pelurumu?
Masih banyak kah?
Sudah sedikitkah?
Boleh kupinjam satu?
Jangan tanya dulu untuk apa ya?
Kamu berdiri di depanku ya?
Aku arahkan senapan ini padamu ya?
Mengapa, kau takut ya?
Rupanya hatimu gelisah juga ya?

Peluru (III)

Malu hatiku padamu
Yang pulang karena ajal peluru
Itu mungkin takdirmu
Tapi ketika takdirmu dipinjam
Untuk sesuatu, aku malu

Malu hatiku padamu
Andai namaku ini mantra
Bisa jadi pelindungmu dari peluru
Maka cukup aku saja tempat tuju, bukan dirimu

"Rismanto rismanto rismanto"

Tembak saja pohon kayu bergambar wajah sasaranmu
Jangan tembak saudaraku
Untuk tujuanmu mewujudkan – mematahkan negosiasi kuasa  

Malu hatiku padamu
Tak bisa menghentikan peluru beracun kuasa murka karena ini bukan urusan mantra tapi kuasa

Peluru (IV)
Dimana kau, malem diwa?
Dimana kau, arjuna?

Rahwana sudah kembali murka
Asee Geureuda sudah kembali menggigit
Tahta hitam kembali bangkit
Bersenjata peluru, bukan buloh peurindu, rincong, keris dan panah cinta

Dimana kau, malem diwa
Dimana kau, arjuna?

Banda Aceh, 6 Januari 2012

*buloh peurindu – seruling cinta
*rincong – rencong

NKRI Harga Mati

NKRI harga mati
TNI penjaga negeri
Pengaman masyarakat ada polisi
KPK pencegah korupsi
Pengawal UU Mahkamah Konstitusi
Oh idialnya Indonesia ini

Tapi rakyat hidup sendiri
Mencari rezeki sejak pagi hingga malam hari
Kadang diterjang peluru polisi
Sering juga ditendang sepatu TNI
Gara-gara melawan pejabat tinggi
Yang memihak pencuri hasil bumi
Oh pilunya nasib rakyat negeri ini

Satu dua tiga orang mati
Di Aceh negeri serambi
Gara-gara bertengkar soal regulasi
Sebelumnya ada kasus Masuji
Orang mati banyak sekali
Begitu juga nasib TKI di luar negeri
Oh Tuhan bantulah hamba ini

Presiden asyik sendiri
Buat lagu tidak cukup sekali
Semakin asyik bernyanyi
Lupa melindungi anak negeri
Cukup mengerahkan para menteri
Ogah berkunjung kecuali aktivis yang dikasari
Oh begitu nian pemimpin kami

DPR ribut berkali-kali
Lebih peduli gedung dan WC sendiri
Soal Century cuma jadi alat lobi
Soal korupsi teriak asal jadi
Rakyat mati cukup dikomentari
Oh masuk televisi jadi selebriti

NKRI harga mati
Ya kami hampir mati
Tanah air tumpah darah kami
Tanah sewa air di beli
Darah tumpah lalu mati
Oh selamatkan Indonesia ini

Banda Aceh, 6 Januari 2012

  • Uncategorized

Leave a Reply