Psikolog: Aceh Bek Le Karu-karu

PSIKOLOG Azwar Djafar, S.Psi, menilai secara karakter psikologi masyarakat Aceh cukup tegas dan memiliki jiwa patriotisme, heroik atau kepahlawanan.

“Itu aspek positifnya,” kata Azwar saat bercakap-cakap dengan ATJEHPOST.com melalui telpon seluler, Rabu, 2 April 2014.

Sementara aspek negatifnya, kata Azwar Djafar, masyarakat Aceh gampang merasa puas. Ketika sudah mendapatkan yang dicita-citakan tidak melanjutkan terobosan.

“Misalnya, duduk di warung kopi dari pagi sampai sore, tidak ada terobosan lanjutan, tapi bukan berarti malas,” ujar anggota Tim Psikologi Lembaga Tandaseru (!) yang berkantor di Lhokseumawe dan bergerak bidang terapan dan training ini.

Dalam kaitan dengan situasi politik di Aceh, menurut Azwar Djafar, hal itu tergantung bagaimana menyikapinya. Apabila saling menyalahkan, kata dia, maka tidak akan ada titik temu dan solusi terbaik.

Ditanya apakah kekerasan yang terjadi selama ini menimbulkan trauma bagi masyarakat Aceh, Azwar mengatakan, “itu pasti. Karena Aceh pernah mengalami konflik yang panjang. Malah sekarang dampak dari kekerasan itu lebih besar, trauma, stres dan depresi semakin parah.”

Itu sebabnya, Azwar Djafar berharap ke depan jangan lagi terjadi kekerasan di Aceh. Adanya perbedaan pendapat, pandangan dan pemahaman merupakan hal yang biasa dalam kehidupan. Tetapi, kata dia, ketika salah paham berbuntut keributan, itu yang membuat masyarakat galau kalau dalam bahasa anak muda zaman sekarang.

Harapan masyarakat yang peunteng dame, bek le karu Aceh nyoe, bek le ro darah, bek le saling hasut menghasut, bek sabe keudroe-droe teuh ta meulho. Nye tapike secara logika, kupeu tanyoe karu sabe-sabe Aceh, hana faedah,” ujar Azwar.

Apabila masyarakat Aceh terus bertengkar dan berkelahi, kata Azwar, maka akan ditertawakan oleh orang-orang di luar daerah. “Yang dibutuhkan saat ini sama-sama membangun Aceh,” kata alumni Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur ini.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply