Home Headline Safwadi; “Kaisar” Pendidikan dari Mila

Safwadi; “Kaisar” Pendidikan dari Mila

89
0

SIGLI – Umurnya tak lagi muda. Ia lahir di Ulee Glee pada 1953 lalu, tapi di semua data dirinya tertulis kelahiran 1955.

Geupeumuda jameun le ureng chik,” kata sosok bernama Safwadi ini. Pada November nanti, dia akan mengakhiri tugasnya sebagai PNS.

Safwadi saat ini masih menjabat sebagai Kepala Sekolah SMP 1 Mila, kabupaten Pidie. Ia sudah menjadi kepala sekolah di sana sejak 2000 lalu. Bila dibanyak sekolah lain, kepala sekolah berganti-ganti, maka di sini Safwadi bak “kaisar”.

Arti dia selalu menjadi penguasa tunggal yang tidak tergantikan. “Sejak diangkat jadi guru saya hanya sempat pindah 2 tahun dari sini,” ujarnya.

Artinya dia sudah menghabiskan hampir 40 tahun pengabdiannya di Mila. “Saya sudah tinggal di sini sejak berkeluarga, setiap kali saya mau dipindahkan ke sekolah lain, masyarakat selalu mempertahankan,” kata Pria beranak lima ini.

Safwadi memang pantas dipertahankan di Mila. Walaupun sudah bak “kaisar”, semangatnya mengelola pendidikan amatlah luarbiasa. Lingkungan sekolah teratur dan bersih. Sekolah dengan junlah siswa 278 siswa ini terlihat amat tertib. Safwadi bahkan datang rata-rata pukul 7 ke sekolah dan pukul 7.30 sekolah ini sudah dalam aktifitas senam.

“Senam 15 menit, 15 menit lagi bersih bersih lingkungan dan persiapan pembelajaran tepat pada jam 8.00,” kata Safwadi.

Sekedar informasi, kecamatan Mila merupakan tanah kelahiran pendiri Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Ismail Hasan Meutareum (almarhum). Sehingga disini terasa sekali kehidupan yang serba Islami.

“Sejak era 80an disini siswa berpakaian Islami, berjilbab dan menggunkan celana panjang bagi siswa pria,” katanya. Dan yang paling mengejutkan ternyata sejak 2006 sekolah ini sudah memisahkan antara siswa pria dengan wanita tanpa gembar gembor.

“Iya kami menerapkan syariat atas dukungan masyrakat Mila. Jadi bukan atas perintah siapa siapa, murni hasil kesepakatan masuarakat dengan sekolah,” katanya. Artinya di tempat lain baru di buat qanun dan belum implementasi, tapi Safwadi dan masyarakat Mila sudah melakukan sejak 9 tahun lalu.

“Merujuk pada pengalaman saya, pola pemisahan ini membuat tingkat kenakalan anak anak menurun,” ulasnya.

Di sekolah ini setiap Jumat juga mengundang mubalig dari luar kecamatan. “Bentuknya bukan ceramah satu arah, tapi juga tanya jawab, sehingga banyak hal yang salah dalam ibadah dapat kami perbaiki. Pengajian juga wajib di ikuti semua guru dan pegawai sekolah,” kata Safwadi.

November ini Safwadi akan mengakhiri pengabdiannya di sekolah ini. Tapi ia masih menggebu gebu ketika bicara pendidikan.

“Dunia pendidikan adalah jiwa saya, walaupun saya akan pensiun saya tidak akan meninggalkan dunia pendidikan,” katanya.

Ia mengaku akan mengabdikan diri selama masih mampu. “Dulu di musim susah kami juga tetap membangun pendidikan, kini SMP 1 Mila membludak murid,” katanya.

Pada awalnya, Safwadi bersama temannya secara mandiri mendirikan SMP Swasta. Sebelum dinegerikan sekolah itu di biayainya bersama teman-teman guru lain.

“Untuk menggaji guru sebelum dinegerikan kami meuripee-ripee dengan gaji kami untuk guru disana,” katanya sambil mengenang.

Kini sekolah itu telah di negerikan menjadi SMP 2 Mila. “Bila saya diperkenankan maka saya menginginkan agar dalam mencari pengganti saya sebagai kepala sekolah ini, saya di ajak memberi saran, saya ingin semua kebaikan disini tetap berlanjut bahkan harus lebih baik,” katanya.

Di akhir pembicaraan dia melihat terjadi perubahan paradigma di masyarakat dalam melihat pendidikan. “Dulu untuk sekolah siswa kita bujuk bujuk, tapi masyarakat antusias membantu sekolah, sekarang terbalik semua antusias sekolah, tapi masyarakat tidak antusias membantu pendidikan ( sekolah),” katanya mengakhiri pembicaraan. [] (mal)