Pro kontra penutupan lokasi wisata Krueng Sawang Aceh Utara

LOKASI Pemandian Krueng Sawang Kecamatan Sawang Aceh Utara sudah lama ditutup untuk umum dengan dalih mencegah terjadinya maksiat. Penutupan lokasi wisata itu ternyata menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat Sawang.

“Krueng Sawang ditutup untuk tempat wisata atas keinginan masyarakat dan ulama dayah, termasuk MPU Sawang. Saya pribadi juga setuju, lebih baik ditutup daripada terjadi maksiat,” kata Mizan, 31 tahun, warga Keude Sawang kepada ATJEHPOSTcom, Minggu siang, 10 Maret 2013.

Menurut Mizan, lokasi Pemandian Krueng Sawang pernah dibuka untuk umum belasan tahun silam. Ketika itu, kata dia, banyak warga dari  Lhokseumawe, Lhoksukon, Bireuen dan Aceh Timur yang bertamasya. “Tapi banyak yang menyalahgunakan tempat itu sehingga ulama dan masyarakat marah, akhirnya melarang kunjungan  wisata,” katanya.

Dia menilai sejauh ini tidak ada solusi untuk mencegah terjadinya maksiat di lokasi wisata. “Ulama dan masyarakat Sawang tetap tidak setuju Krueng Sawang dibuka untuk umum. Sawang ini beda dengan daerah lain, kalau tempat lain ok-ok saja dibuka, di sini tidak bisa,” kata Mizan.

Pandangan berbeda disampaikan Mawardi, mantan Mukim Sawang Selatan. Ia menyayangkan sikap sebagian masyarakat dan ulama di Sawang yang melarang kunjungan wisata di kecamatan ini. Kata dia, mereka yang tidak setuju Krueng Sawang dibuka untuk umum karena selalu melihat dari sisi negatif, padahal maksiat itu bisa dicegah.

“Saya sering berdiskusi dengan sejumlah warga Sawang, saya sarankan sekali-kali datanglah ke Lhokseumawe, baca buku-buku, belajar pada orang intelek agar pikiran terbuka dan wawasan lebih luas. Tapi tidak mempan, mereka tetap bilang yang namanya wisata itu tempat maksiat,” kata Mawardi saat dihubungi terpisah, siang tadi.

Belum lama ini, kata Mawardi, ada satu keluarga dari Idi Aceh Timur datang ke Sawang. Ketika mereka ingin melihat Krueng Sawang, kata dia, langsung dilarang oleh sejumlah pemuda setempat. “Ini jelas tidak sehat, membuat orang luar jadi takut. Padahal Sawang punya potensi wisata alam yang sangat indah, lebih indah dari Batee Iliek (Bireuen),” katanya.

Apabila lokasi wisata itu dibuka untuk umum, kata Mawardi, dengan sendirinya masyarakat bisa berjualan di sepanjang Krueng Sawang. Sayangnya, kata dia, potensi yang positif terkalahkan oleh pola pikir negatif. Kalau sudah begini, kata dia, sulit bagi Sawang untuk berkembang seperti daerah lainnya.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply