Polresta Banda Aceh Bongkar Sindikat Pemalsu Ijazah Unsyiah

Polresta Banda Aceh Bongkar Sindikat Pemalsu Ijazah Unsyiah

BANDA ACEH – Tim Polsek Syiah Kuala, Banda Aceh membongkar sindikat pemalsuan ijazah S1 dan program pascasarjana (S2) berkop dan stempel Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Banda Aceh. Kejahatan terorganisir itu diperkirakan sudah berlangsung sejak 2007 dan telah menerbitkan ijazah palsu sebanyak 57 lembar.

Untuk mengungkap kejahatan tersebut, personel opsnal unit intel dan Reskrim Polsek Syiah Kuala telah bekerja ekstra sejak dua minggu lalu, sebelum akhirnya dua warga Kota Banda Aceh yaitu Az (52), penduduk Lamteumen Timur, Kecamatan Jaya Baru, dan SB (35), penduduk Kuta Alam, diringkus, Rabu 3 Juni 2015.

Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Zulkifli SStMk SH melalui Kapolsek Syiah Kuala, AKP Yusuf Hariadi SH mengatakan, pengungkapan sindikat pemalsuan ijazah S1 dan S2 menggunakan stempel dan kop Unsyiah itu berawal dari ditemukan nomor seri ijazah yang dikeluarkan untuk seorang wanita, berinisial MI alumni Program Studi (Prodi) Manajemen Fakultas Ekonomi (FE) Unsyiah. Padahal MI sendiri diketahui tidak pernah mengantongi ijazah di Prodi Manajemen FE Unsyiah.

“Begitu ditelusuri nomor ijazah S1 yang dikeluarkan untuk MI, yang seolah-olah pernah kuliah di sana dan telah mendapatkan ijazah, ternyata nomor seri ijazah tersebut milik mahasiswa lain yang memang resmi kuliah di Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi dan telah diwisuda,” kata AKP Yusuf, kepada wartawan, Jumat (5/6). Menurut penelusuran polisi, ijazah palsu tersebut dijual antara Rp 10 juta sampai Rp 13 juta.

Menurut informasi, pada hari Rabu 3 Juni 2015, sekitar pukul 18.30 WIB, polisi meringkus Az, di rumahnya di Lamteumen Timur, setelah polisi mengumpulkan keterangan saksi serta bukti-bukti kuat lainnya.

Awalnya, kata AKP Yusuf, pelaku berdalih tidak tahu apa-apa. Tapi, setelah diperlihatkan semua bukti tentang penerbitan nomor seri ijazah palsu tersebut, Az pun tak bisa mengelak.

Berikutnya, kata Yusuf, dari penangkapan Az, pada hari itu juga polisi mengantongi sejumlah nama lainnya yang terlibat, yakni SB (desainer dan pencetak ijazah) serta dua inisial yang berperan sebagai perantara (orang yang mencari pemesan ijazah palsu). Kedua inisial perantara itu, yakni Di dan An.

“Namun, yang baru ditangkap, yaitu Az dan SB. SB diciduk di tempat usahanya di Jalan Study Fond Kuta Alam, pada hari yang sama. Sementara Di dan An, masih dalam pencarian. Kasus ini juga tidak tertutup kemungkinan ada keterlibatan pihak lainnya. Ijazah palsu yang diterbitkan terakhir tercatat Januari 2015,” ujar Kapolsek Syiah Kuala.

Kapolsek Syiah Kuala itu mengatakan, saat Az diringkus di rumahnya, ia sempat memerintahkan SB segera membuang flash disc yang berisi semua data-data tentang ijazah palsu yang telah mereka terbitkan. Namun, setelah SB tertangkap, flash disc tersebut berhasil diambil kembali dalam genangan air. “Alhamdulillah semua data-data tentang pemalsuan ijazah palsu masih bisa terbaca, meski sempat timbul kekhawatiran semua data telah hilang,” sebutnya.

Yusuf menjelaskan, sebanyak 57 lembar ijazah palsu yang dikeluarkan itu, Az dan SB hanya menerbitkan ijazah dari Fakultas Ekonomi dan Fakultas Hukum Unsyiah.

Lalu, sindikasi lainnya, nama rektor beserta tanda tangan yang dicantumkan, tertulis tiga nama, masing-masing almarhum Prof Dr H Dayan Dawood, MA. Tapi, keganjilan terlihat pada tahun penerbitan ijazah, yakni 2005. Sementara Dayan Dawood meninggal dunia akibat ditembak pada 7 September 2001.

Kemudian versi ijazah palsu kedua, ditandatangani Prof Dr Abdi A Wahab MSc, dan Prof Dr Darni M Daud MA. “Kami masih mendalaminya, karena kuat dugaan para pemesan ijazah palsu ini juga bisa dibidik terlibat dalam kasus ini, lantaran dengan sadar meminta agar dibuat ijazah palsu dengan rela mengeluarkan uang belasan juta rupiah,” lanjut Yusuf.

Dari tersangka SB diperoleh kepengakuan, dirinya hanya berperan mencetak dan mendesain. Untuk semua data mentah tentang nama pemesan serta transkrip nilai dan hal lainnya diberikan oleh Az. “Setiap pembuatan ijazah, saya hanya dikasih Rp 500.000 sampai Rp 750.000. Selebihnya dia (Az-red) pakai sendiri. Saya tidak tahu siapa-siapa lagi yang terlibat,” pungkas SB.[] sumber: tribunnews.com

Foto ilustrasi

Leave a Reply