[Wawancara] Tarmizi Karim: Bertemu Mualem, Bukan Berarti Bang Yan Meninggalkan Saya!

PEJABAT Gubernur Kalimantan Selatan, Tarmizi A. Karim berada di Aceh, Kamis, 8 Oktober 2015. Ia juga menemani Mendagri Tjahjo Kumolo saat ngopi di Warkop 3 In 1, Kota Banda Aceh.

Di sela-sela kegiatannya, Tarmizi Karim bersedia menerima wartawan portalsatu.com, Murdani Abdullah, untuk wawancara seputar rencananya maju sebagai calon Gubernur Aceh di Pilkada 2017.

Berikut petikan wawancara tersebut:

Sofyan Dawood kabarnya mendukung Anda di Pilkada 2017. Apa tanggapan Anda?

Begini, sebagai orang yang memahami perjalanan masa lalu di Aceh kan, baik PA, dia (Sofyan Dawood-red) mengikutilah semua perkembangan.

Dia masuk dalam perjalanan itu kan, sebagai tim sukses dan pembantu Irwandi (saat Pilkada 2012-red). Artinya dia melihat, merasakan, dan berkesimpulan.

Dalam perjalanan itu, (dulu) dia pernah mengungkapkan kepada saya. Kata Bang Yan (Sofyan Dawood-red), “Saya sudah menjalani semua perjalanan, saya katakan kepada abang (Tarmizi Karim-red), bahwa abang ada-lah porsi tersendiri dalam mengabdi pada pembangunan. Biarlah orang-orang ini yang masuk dalam pemerintahan di Aceh”. Kemudian saya kan,Oke.”

Tapi kemudian Bang Yan datang lagi sekarang. Dia kembali mengatakan, “Bang sudah bang. Abang sudah cukuplah mengabdi di luar, sekarang abang kembalilah ke Aceh. Kenapa? Banyak tokoh-tokoh Aceh seperti abang, beberapa orang.”

Dia sebutkan Pak Irwandi, Pak Muzakir, beberapa orang lah, tokoh nasional. Jadi Bang Yan berkata lagi, “Abang harus memperkuat kesebelasan-kesebelasan itu untuk membangun Aceh ke depan.”

Oleh karena itu, saya lihat pemikiran bagus, saya akomodir. Dia sering datang ke saya, diskusi bagaimana memecahkan persoalan di Aceh.

Ada informasi, Anda akan maju dengan NasDem?

Saya begini. Saya katakan bahwa semua partai-partai nasional kita lakukan pendekatan-pendekatan. Walaupun saya orang dalam birokrasi. Tentu saya bermain dalam etika dan aturan yang ada.

Saya memegang dua-dua itu. Pertama, memegang posisi saya sebagai pejabat. Yang kedua, etika-etika tadi. Saya punya pimpinan, sebagai staf Kemendagri, misalnya. Saya kan enggak bisa mengungkapkan apa saja.

Apa sudah ada tawaran untuk maju dari partai politik tertentu untuk Pilkada Aceh?

Oh, saya punya link, baik di lokal maupun nasional terkait partai tadi dan dalam politik tadi, kita kan melakukan komunikasi politik.

Wakilnya nanti dari NasDem?

Itu belum.

Jadi calon wakilnya masih terbuka untuk semua partai?

Saya punya link dengan semua partai politik.

Terkait pertemuan Sofyan Dawood dan Mualem, apa tanggapan Anda?

Bang Sofyan berpikir begini. Tokoh-tokoh yang mampu di Aceh itu selalu di-support. Dia mengungkapkan kepada saya, bahwa ingin membangun Aceh.

Saya tidak menjanjikan apapun dengan dia.

Apakah pertemuan Mualem dan Sofyan Dawood memengaruhi sikap politik Anda?

Dia duduk dengan saya, bukan berarti saya satu-satunya. Demikian juga saat Bang Yan duduk dan bertemu dengan Mualem, bukan berarti meninggalkan saya.

Banyak juga yang menanyakan ke saya, “Itu Bang Yan habis duduk dengan Anda, duduk dengan Mualem.” Kalau saya berpikirnya begini, itulah yang dilakukan komunikasi politik. Yang dia inginkan adalah tokoh-tokoh yang bagus membangun Aceh. Bukan berarti duduk dengan Mualem, mendukung Mualem kan?[]