Polisi Prancis Tetapkan Dua Tersangka Penyerangan Media Penghina Nabi

KEPOLISIAN Prancis menyatakan dua kakak beradik Cherif dan Said Kouachi sebagai tersangka penyerangan kantor redaksi majalah Charlie Hebdo, pada Rabu (07/01).

Seperti diberitakan BBC Indonesia, kepolisian  kemudian merilis foto kedua pria itu seraya memperingatkan khalayak bahwa mereka mungkin bersenjata dan berbahaya.

Adapun pria ketiga yang disebut dalam dokumen polisi, Hamyd Mourad, menyerahkan diri ke polisi setelah melihat namanya muncul di media sosial.

Penetapan dua tersangka itu diikuti berbarengan dengan operasi penggerebekan di Kota Reims, 140 kilometer dari Paris.

Kouachi bersaudara diduga menyerang kantor redaksi Charlie Hebdo yang mengakibatkan 12 orang tewas, termasuk redaktur Stephane Charbonnier, kartunis Wolinski dan Cabu, serta ekonom Prancis Bernard Maris.

Sejumlah laporan mengatakan Stephane Charbonnier sedang menggelar rapat redaksi ketika dua pria bersenjata yang memakai topeng menyerbu masuk dan melepas tembakan dengan senapan mesin Kalashnikov seraya memekik "Allahu Akbar." 

Stepane yang biasa disapa Chad kerap membuat kartun satir. Selain dianggap menghina Islam, majalahnya juga pernah membuat lelucon dari aspek Kristen dan Yudaisme. 

Pada 2007, Charlie Hebdo berurusan dengan pengadilan sehubungan dengan kartun yang dianggap Nabi Muhammad dan membuat marah umat muslim dunia. 

Pada 2011, kantor majalah itu pernah diserang bom molotov yang menghancurkan peralatan kerja majalah itu. Penyerangan terjadi setelah majalah itu mengumumkan mengangkat Nabi Muhammad sebagai "pemimpin redaksi" pada terbitan terbaru untuk menandai kemenangan Partai Islamis Ennahda di Tunisia. Disebutkan, nama majalah juga diganti menjadi Sharia Hebdo. 

Sementara itu, unjuk rasa menentang pembunuhan di kantor majalah Charlie Hebdo, yang menewaskan 12 orang, berlangsung di beberapa kota Prancis dan Eropa.

Ribuan orang berkumpul di Alun-alun Place de la Republique di pusat kota Paris, Rabu (07/01) malam, menggelar aksi siaga dan banyak yang membawa plakat bertuluskan 'Je suis Charlie' atau 'Saya Charlie'.

Tumpukan pulpen–yang mencerminkan kebebasan berekspresi–dan lilin diletakkan di alun-alun itu untuk mengenang para korban.

Puluhan ribu lainnya menggelar aksi serupa di sejumlah kota Prancis, antara lain di Lyon, Toulouse, dan Montpellier.

Dalam pidato yang disampaikan melalui televisi, Presiden Prancis Francois Hollande mengatakan, “Hari ini Republik Prancis sebagai suatu kesatuan telah menjadi target.”

Dalam kesempatan itu, Hollande juga mengumumkan hari Kamis (08/01) sebagai hari berkabung nasional. Selama 50 tahun terakhir hari semacam itu hanya diadakan sebanyak lima kali.[] (atjehpost/bbc indonesia)

  • Uncategorized

Leave a Reply