Polisi: Kasus anak di Indrapuri, pelecehan seksual bukan pemerkosaan

KEPALA Kepolisian Sektor Indrapuri, Iptu Suyono, mewakili Kapolres Aceh Besar AKBP Jajuli membenarkan kalau ibu dari korban dugaan pelecehan seksual di Indrapuri, telah melapor pada 14 Juni 2013.

"Yang dilaporkan adalah pelecehan seksual, bukan pemerkosaan," ujar Suyono kepada ATJEHPOSTcom, di Polsek Indrapuri, Kamis sore, 20 Juni 2013.

Hari itu juga Suyono memerintahkan anak buahnya menindaklanjuti laporan tersebut. "Kita antar ke Puskesmas untuk divisum, ternyata mereka tidak bisa keluarkan hasil karena bukan ahli," ujar Suyono.

Saat itu, kata dia, seorang dokter di Puskesma menduga korban tidak lagi perawan. "Tapi secara lisan. Sedangkan kita harus hasil visum," ujar Suyono.

Ia juga meminta kasus itu jangan diberitahukan ke siapa pun dulu. "Maksudnya, biar kami cari bukti dulu. Kami sampaikan saat pemeriksaan pada ibu korban sore hari," ujar Kapolsek.

Entah bagaimana ceritanya, kata Suyono, malamnya keluarga dari Ibu korban datang dan diduga mengeroyok Asnawi. "Yaitu pada malam Sabtu (14 Juni 2013), kemudian kita ingin mengamankan keluarga ibu korban," kata Suyono.

Menurut dia, polisi juga sudah mengirim surat panggilan terhadap orang yang diduga mengeroyok Asnawi. "Mereka tidak datang alasan takut. Kita jemput mereka, mereka lari. Padahal kita hanya ingin mengamankan saja," ujarnya.

Suyono juga telah menyampaikan kepada keluarga Asnawi yang berada di Lampanah, Aceh Besar, agar tidak ada lagi kekerasan.

"Malam Sabtu mereka pulang, tapi apa karena tidak puas karena keluarga korban tidak menyerahkan diri, pada malam Minggu sekitar pukul 21.00 WIB, sebagian besar penduduk Desa Lampanah, ada juga yang dari Kota Cot Glee mencari Yahlek dan Darmawan, yaitu keluarga dari ibu korban," ujarnya.

Ia menepis anggapan kalau itu keributan antardesa, melainkan hanya antarkeluarga saja. Suyono juga mengaku mencari rombongan dari keluarga  Asnawi tersebut pada malam itu juga (Minggu malam-red).

"Kita lihat di Lampanah, ternyata mereka di Desa Grot dan mereka melempar rumah Darmawan, keluarga dari korban," ujar Suyono.

Tidak hanya itu, kata dia, setelah dari Desa Grot, massa juga diduga merusak warung ibu korban.

"Namun tentang adanya keterlibatan oknum TNI, kami belum melihat apa benar dan memang hak ibu korban melaporkan ke POM (Polisi Militer) jika merasa ada oknum TNI terlibat," ujarnya.

Suyono hanya menyayangkan ada penyampaian yang salah dari Ibu korban kepada keluarga. "Kasusnya kan pelecehan seksual, disampaikan pada keluarga ibu korban pemerkosaan, sehingga terjadilah seperti ini," ujar Suyono.

Namun Suyono akan menindaklanjuti kasus pelecehan seksual itu. "Asnawi bisa saja merupakan pelaku, jika terbukti dan dia juga korban pengeroyokan," ujarnya.

Dia juga menyampaikan bahwa polisi tidak menutup mata terhadap kasus ini. Menurutnya,  Asnawi pada pukul 10.35 WIB tadi sudah dibolehkan pulang dari RSUZA dan telah ada di rumah. Hari Senin, dia menjalani cek up.[] (mrd)

  • Uncategorized

Leave a Reply