Polemik Mirza Alfath(isme)

KALAU saat ini disurvei siapa dosen Universitas Malikussaleh (Unimal) yang paling sensasional, barangkali nama yang muncul adalah Mirza Alfath. Nama itu juga berlaku untuk nominasi dosen Unimal yang paling tidak disukai karena tulisan-tulisannya di Facebook. Berbagai cemoohan dari Alfath terhadap Islam dan Alquran telah memancing respons keras berbagai pihak.

Banyak komentar terhadap Alfath yang tetap mengarah pada satu kesepakatan: dosen–yang mengidentifikasikan dirinya sebagai seorang penganut agnostic theism (atheis)–tersebut dianggap sesat sehingga harus ditentang. Komentar-komentar yang berhasil saya catat, antara lain, “Rektor harus segera memecatnya”, “Kalau ajarannya menyebar di kampus, itu berbahaya”, “Mahasiswa dalam bahaya”, hingga “Kita harus bikin aksi (demonstrasi) supaya dia tidak macam-macam lagi”, dan seterusnya.

Yang paling penting, kampus tempat Alfath mengajar tidak boleh dihakimi terkait persoalan ini. Alfath tidak melakukan penghinaan terhadap Islam dengan menggunakan ruang akademik, tetapi pada ruang atau akun Facebook pribadinya yang kemudian menjadi konsumsi publik. Lagi pula, Alfath tidak melakukan doktrinasi pemahamannya yang dianggap sebagai bentuk rasionalitas berpikir (kritis) terhadap ajaran agama–kepada mahasiswa agar ia punya pengikut.

Dengan demikian, potensi penyebaran juga tak perlu dikhawatirkan. Kecuali ada penyebaran terselubung yang dilakukannya, juga oleh pihak-pihak lain. Sampai saat ini, nyatanya, belum ada satu pun bukti yang mengonfirmasi Alfath telah bersalah karena melakukan pendangkalan akidah terhadap mahasiswa. Kalaupun ada pendoktrinan, mahasiswa punya cukup proteksi diri: kendati benteng pertahanan terhadap sekulerisme dan ateisme mereka adalah “sentimen”, bukan “iman”.

Persoalan Alfath ini bukan menjadi tanggung jawab kampus semata. Begini saja saya jelaskan: Alfath merupakan pengajar di kampus U, penganut agama I, warga desa K, akademisi atau pakar dalam keilmuan T, dan pengguna media jejaring sosial F. Ketika Alfath dianggap salah pada aspek I, yang harus melakukan pembinaan atau memperbaiki akidahnya adalah manusia-manusia yang ada dalam ruang I, baik itu penganut I yang berada dalam ruang U, K, T, dan F.

Tidak mudah merinci konstruksi pemikiran Alfath. Sebab, ia tidak membangun pemikiran dengan mengikuti kaidah keilmiahan, tetapi hanya menulis komentar-komentar singkat dan lebih banyak nuansa cemoohan atau pelecehannya, ketimbang argumen-argumen yang sesuai dengan prinsip dialektika yang beradab. Tetapi, setidaknya saya dapat menyimpulkan dua kontradiksi cara berpikir Alfath, yang oleh sejumlah mahasiswa disebut dengan istilah “Alfathisme”.

Pertama, soal kecenderungan Alfath pada penghormatan (yang berlebihan) atas hak asasi manusia. HAM bukan berarti menyediakan ruang kebebasan yang tidak tanpa batas. Salah satu–dari tujuh aspek–yang dibatasi dalam HAM adalah prinsip perlindungan terhadap reputasi. Artinya, hak asasi dibatasi agar tidak tercipta hak untuk bebas merusak reputasi pihak lain.

Tulisan-tulisan Alfath di Facebook, selain bisa dianggap tidak ilmiah, juga merupakan upaya pengrusakan reputasi Islam, termasuk para penganutnya dengan menyebut mereka sebagai “onta”. Ini artinya, Alfath gagal menjadi seorang akademisi yang mampu membangun konstruksi pemikiran dan tindakan yang sesuai dengan prinsip HAM yang benar. Lagian, jika Alfath sangat menjunjung tinggi HAM, mengapa pula ia membela Israel yang jelas-jelas melakukan pelanggaran HAM terhadap penduduk Palestina di Gaza?

Kedua, soal pilihannya menjadi seorang ateis. Dalam prinsip ajaran ateisme, rasionalitas harus lebih diutamakan dan diagungkan dalam berkeyakinan. Asumsinya: segala yang “ada” merupakan hasil dari “pengadaan”. Asumsi ini mengandaikan “ada” merupakan yang dapat tampak nyata, melalui penggunaan rasio. Sebab Tuhan merupakan “ada” yang tidak dapat diamati dan tidak “diadakan” (diciptakan), keberadaan atau menganggapnya ada dianggap tidak rasional. Asumsinya, bagaimana mungkin Tuhan ada kalau Tuhan tidak ada yang menciptakan.

Saya mencatat sebuah komentar Alfath yang mengatakan: “… Tuhan sudah memberikan aku otak, kenapa aku tidak memakainya?” Secara eksplisit, pernyataan Alfath ini mengakui Tuhan itu ada, sebuah Dzat yang telah memberinya otak.

Kemudian, ateisme tidak hanya mengkritisi atau tidak percaya pada satu agama, tetapi juga semua agama. Bagi orang ateis, agama dan Tuhan hanyalah fantasi yang tidak rasional. Pada identitas akun Facebook-nya, Alfath pernah mencantumkan ”agnostic theism” sebagai agamanya.

Namun, status-status Facebook Alfath tak hanya mengkritisi atau “menyerang” Islam, tetapi memuja agama Yahudi. Pada statusnya yang lain, saya sempat membaca Alfath kagum pada agama Budha yang dianggapnya sebagai agama yang paling humanis. Ini jelas merupakan kontradiksi nyata dalam cara berpikirnya: ia mengaku seorang ateis, tetapi mengakui dan kagum pada agama Yahudi dan Budha.

Yang dapat disimpulkan: Alfath bukanlah seorang ateis karena ia gagal menjadi ateis. Namun, Alfath juga pernah gagal menjadi penganut agama Islam. Pilihan baginya ada dua: kembali menjadi seorang yang anti-Islam, atau kembali menjadi seorang Muslim atas dasar pilihan pribadi tanpa desakan.

Mengambil pilihan pertama akan besar sekali risikonya. Alfath hidup dalam ruang atau lingkungan yang tidak mendukung penyebaran sekulerisme dan ateisme. Hendaknya ia belajar beradaptasi dengan lingkungan sekitar, dengan menghormati dimensi lokalitas yang ada, seperti unta yang mampu beradaptasi dengan kondisi gurun pasir.

Alfath hendaknya belajar dari munculnya gelombang demonstrasi besar-besaran berskala global memprotes film Innocence of Muslim yang melecehkan Islam. Risiko tidak hanya akan mengancam Alfath sendiri, tetapi bisa berimplikasi pada keluarganya.

Mengambil pilihan kedua atau tidak lagi mengulangi kesalahannya akan lebih baik bagi Alfath. Ia berkesempatan berbaur dalam lingkungan masyarakat.

Di tempatnya mengajar, Alfath tergabung dalam Gerakan Pembaharuan Kampus (GPK), sebuah organisasi beranggotakan dosen-dosen penentang berbagai kesalahan dalam pengelolaan kampus, termasuk menentang rezim rektorat sebelumnya yang korup. Alfath juga kerap menyuarakan berbagai kritik terhadap korupsi yang merajalela di negeri ini, dalam status-status Facebook-nya yang lain.

Ada hal-hal baik yang ia suarakan. Ini berarti Alfath punya kesempatan kembali diterima sebagai akademisi yang layak dijadikan panutan oleh masyarakat kampus dan masyarakat sosial.

Ulama sudah mengimbau agar Alfath dimaafkan. Sebagai masyarakat yang beragama, yang beradab, ulama hendaknya dijadikan referensi. Persolan memang belum sepenuhnya usai ketika Alfath meminta maaf kepada umat Islam. Ia bisa saja masih dihujat oleh orang-orang yang memproteksi diri dari sekulerisme dan ateisme dengan sentimen, bukan dengan iman.

Peradaban yang baik, yang komposisinya diisi oleh manusia-manusia beradab, tidak akan melakukan tindakan serta mengeluarkan pernyataan yang bertentangan dengan prinsip moral keadaban. Manusia beradab juga tidak akan saling melecehkan. Ini saya tujukan bagi Alfath, bagi semua pihak yang melakukan pendangkalan akidah, juga bagi semua orang yang masih berniat “menyiksa” Alfath kendati ulama telah menyerukan agar ia dimaafkan.

Saya bukan pembela Alfath, bukan pembela sekulerisme dan ateisme, tetapi membela peradaban yang beradab.

 Bisma Yadhi Putra, Mahasiswa Prodi Ilmu Politik Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe

Catatan: Versi cetak artikel ini dimuat di tabloid The Atjeh Times edisi 27 (10-16 Desember 2012)

  • Uncategorized

Leave a Reply