Po Meurah kian tergerus

BAU bangkai terhidu dari jarak belasan meter. Mesti memakai masker jika tak kuat mencium aromanya yang sungguh menyengat. Lalat hijau beterbangan ke sana kemari, hinggap di dedaunan, simpang siur.

Pemandangan di bawah pohon itu sangat memilukan. Seekor gajah Sumatera (Elephas Maximus Sumatrensis) teronggok tanpa kepala. Belalai jatuh tak jauh dari tubuhnya. Darah kering berceceran di tanah. Namun kepala sang gajah entah di mana.

Po Meurah—sebutan orang Aceh untuk gajah—itu dinamakan Papa Genk. Gajah ini ditemukan mati tanpa gading di pinggir sungai Desa Ranto Sabon, Kecamatan Sampoiniet, Aceh Jaya, pada Sabtu, 13 Juli 2013.

Papa Genk diduga mati terkena ranjau yang sengaja dibuat manusia. Di sekitar lokasi juga ditemukan tiga botol minuman mineral, ranjau, dan yang diduga milik pelaku.

Nama Papa Genk diberikan oleh para Ranger di Conservation Response Unit (CRU) Sampoiniet, Aceh Jaya. “Papa Genk sering turun ke perkampungan. Beberapa kali kami berhasil menghalaunya kembali ke hutan. Papa Genk juga memiliki seorang anak hasil perkawinannya dengan gajah betina jinak beberapa waktu lalu. Anak dan gajah betina itu kini ada di CRU,” ujar seorang Ranger.

Papa Genk tewas pada Sabtu pagi. "Ada warga desa yang melaporkan ke kami ada gajah yang tewas, Sabtu pagi kami ke lokasi bersama petugas Polhut dan beberapa pawang gajah," ujar Mukhtar, Ketua Ranger Aceh Jaya. Ia membenarkan Papa Genk tewas terkena perangkap dengan adanya bekas luka tusukan di kepala.

Lokasi matinya Papa Genk berjarak sekitar dua kilometer dari permukiman warga. Saat The Atjeh Times menuju ke lokasi bersama para Ranger sehari sesudah kematian gajah itu, juga ditemukan ranjau yang sengaja dipasang di pohon pinang. Perangkap yang disebut “inosoeh” itu terbuat dari batang kelapa dengan besi runcing pada ujungnya. Perangkap ditancapkan dari atas pohon pinang mengarah ke bawah. Persis seperti yang tertancap di kepala Papa Genk.

Malam sebelum Papa Genk mati, kata Mukhtar, ada kawanan gajah turun ke kampung. Para Ranger malam itu berpatroli untuk mengusir kawanan kembali ke hutan. Saat berpatroli itu, Mukhtar dan anak buahnya tidak menemukan ada perangkap yang dipasang. Dilihat dari cara kerjanya, kata dia, Papa Genk diduga dibunuh untuk diambil gadingnya. Harga gading ini di pasar gelap menggiurkan. Untuk gajah sebesar Papa Genk berat gadingnya bisa mencapai 25 kilogram.

***

MATINYA gajah di Sampoiniet itu melahirkan petisi di www.change.org/papagenk, pada 16 Juli 2013. Hingga Kamis 18 Juli 2013 pukul 11.31 WIB, petisi yang digagas Aulia Ferizal itu sudah mendapatkan 7.208 tanda tangan.

Aulia awalnya membaca kicauan seorang follower di akun Twitternya mengenai gajah dibunuh di Aceh Jaya. Merasa tergerak, Aulia menghubungi tim Ranger Conservation Responce Unit di Sampoiniet dan segera berangkat ke Desa Ranto Sabon, Sampoiniet.

Aulia terkejut saat melihat kondisi Papa Genk. Ia juga mengunjungi Ibu Suci (pasangan Papa Genk) dan Baby Rosa (anak Papa Genk), yang menjadi pendiam akibat tragedi itu. “Jangan sampai kasus seperti ini terus terjadi dari tahun ke tahun. Berikan sosialisasi tentang gajah bagi warga yang membuka lahan perkebunan di area hutan lindung.”

Dari Jakarta, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan berjanji menangkap pelaku dalam waktu sepekan. “Insya Allah dalam satu minggu ini tersangka bisa tertangkap sehingga bisa kita tuntut dengan hukuman yang seberat-beratnya,” tulis Zulkifli dalam akun Twitternya, 16 Juli. Akibat kasus itu, kata Zulkifli, Kepala Desa Ranto Sabon diperiksa polisi.

***

SEBELUM Papa Genk, dua Po Meurah juga ditemukan mati di Tualang Sawit, Birem Bayeun, Aceh Timur, pada Jumat, 26 Juli 2013. Kedua gajah itu juga diambil gadingnya. Pada 2012, kata Project Leader World Wildlife Fund (WWF) Aceh Dede Sumitra, 15 ekor gajah mati.

Gajah dan satwa liar lainnya, kata Dede, memiliki kawasan habitat yang kini mulai mengecil. Pemicunya, alih fungsi lahan untuk aktivitas manusia. “Secara sederhana gajah memiliki homering yang merupakan jalur kebiasaan menjelajah," ujar Dede kepada The Atjeh Times, Rabu pekan lalu.

Jalur jelajah gajah berputar. Akibat banyaknya homering yang beralih fungsi menjadi lahan, gajah pun turun pemukiman penduduk. “Atau karena pemukiman yang dibuat merupakan homering gajah itu sendiri," ujarnya.

Walaupun wilayah gajah kini terfragmentasi oleh pembangunan yang dilakukan manusia, kata Dede, tidak ada yang bisa disalahkan. Ujung-ujungnya, kata dia, yang harus dipikirkan adalah tata ruang Aceh, yang kian tak berpihak kepada satwa-satwa liar. “Kalau tata ruang tidak diperbaiki dengan baik, satwa-satwa bisa saja terus turun ke pemukiman, ini bukan hanya gajah, begitu juga dengan harimau," ujarnya.

Dalam tata ruang perlu didesain cara hidup berdampingan antara manusia, gajah, dan satwa liar lain. “Bagaimana cara kita memiliki wilayah sendiri, dan gajah serta satwa liar lainnya juga tidak terusik dengan wilayahnya yang sudah ada," ujar Dede.

Koordinator Konservasi Spesies Flora dan Fauna Internasional (FFI) Aceh, Munawar Kholis, menilai perlu ada kebijakan arif agar rotasi gajah tidak terganggu. "Kita tidak bisa melarang gajah untuk tidak berputar," ujarnya.

Konflik manusia dengan gajah di Aceh, kata dia, sama-sama merugikan kedua pihak. Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008 telah mengatur mekanisme yang harus dilakukan jika terjadi konflik antara gajah dan manusia.

Saat ini banyak pihak mencari keuntungan membunuh gajah untuk mengambil gadingnya. Sementara, secara hukum pelestarian satwa liar sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990. Gajah, kata Kholis, satwa yang dilindungi dan tidak boleh dibunuh.[]

+++++

@ JUMLAH Gajah Sumatera turun 50 persen dari populasi sebelumnya, yaitu 3.000 – 5.000 ekor pada 2007.

@ PENYEBAB konflik gajah dan manusia karena hilangnya habitat akibat alih fungsi hutan.

@ HARGA Gading menyebabkan perburuan gajah Sumatera meningkat. Di pasar gelap satu kilogram gading dijual Rp2,5 juta-Rp10 juta per kilogram.

Sumber: World Wildlife Fund

  • Uncategorized

Leave a Reply