Pidato Lengkap Gubernur Aceh di Refleksi 9 Tahun Perdamaian Aceh

GUBERNUR Aceh Zaini Abdullah sore tadi menghadiri peringatan sembilan tahun perdamaian Aceh, Jumat 15 Agustus 2014. Kegiatan yang dipusatkan di halaman Masjir Raya Baiturrahman Banda Aceh itu dihadiri sejumlah kepala SKPA. Berikut isi pidato lengkapnya:

Bismillahirrahmannirrahim.

Assalamualaikum Wr.Wb

Marilah kita mengucapkan puji syukur kehadhirat Allah SWT, atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga pada hari ini, kita bisa berkumpul, dalam peringatan 9 Tahun MoU Helsinki.

Salawat dan salam, mari kita sanjungkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabat beliau sekalian.

HADIRIN YANG SAYA MULIAKAN.

Perjanjian MoU Helsinki, antara Republik Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dilandasi atas niat untuk membawa perubahan bagi masyarakat Aceh. MoU Helsinki, lahir karena cita-cita untuk kemajuan Aceh, dan melawan ketidakadilan.

Untuk melawan ketidakadilan, ratusan ribu para syuhada masyarakat Aceh meninggal. Untuk itu, mari kita kenang para syuhada, DENGAN MEMBACA DOA, ALFATIHAH…Semoga arwah para sahabat dan teman perjuangan kita, diterima amalannya oleh Allah SWT. Amien.

HADIRIN YANG SAYA MULIAKAN.

MoU Helsinki bertanda perang senjata telah kita akhiri dengan damai. Tapi perang politik belum usai, karena subtansi MoU Helsinki masih ada yang belum dilaksanakan. Terdapat 3 pasal, MoU Helsinki belum berjalan. Yaitu pasal 2.2 tentang Pembentukan Pengadilan HAM. Pasal 3.2.6 tentang Pembentukan Komisi Penyelesaian Klaim. Dan Pasal 2.3 tentang Pembentukan KKR.

Ini harus menjadi tugas bersama, tugas rakyat Aceh untuk menagihnya. Pemerintah Aceh, memiliki komitmen tinggi, untuk menagih setiap janji Pemerintah Indonesia. Menempati janji itu penting bagi rakyat Aceh. Makanya kita berharap, Bapak Presiden SBY menepati janjinya untuk merealisasi MoU Helsinki dan turunan UUPA No 11 Tahun 2005, sebelum beliau turun dari jabatannya.

Kalau turunan UUPA ini tidak turun, maka saya khawatir rakyat Aceh akan bangkit, untuk melawan ketidakadilan Pemerintah Pusat. Sejarah mencatat, bahwa setiap ketidakadilan bagi Aceh, rakyatnya akan melawan, untuk menjaga harkat dan marwah ke-acehannya.

HADIRIN YANG SAYA MULIAKAN.

Melalui refleksi peringatan 9 Tahun MoU Helsinki, menjadi momentum untuk mengenang masala lalu. Dan menyonsong masa depan. Masa lalu adalah cermin, masa depan adalah harapan. Harapan Aceh, setelah 9 tahun MoU Helsinki, harus kita isi, supaya dapat memberi manfaat bagi semua rakyat Aceh.

Momentum 9 tahun MoU Helsinki, bagian dari intropeksi untuk dapat memberi kontribusi yang nyata bagi pembangunan Aceh. Aceh hari ini mulai bangkit. Jalan raya antar kabupaten lintas tengah dan selatan terus di pacu, pertumbuhan ekonomi dan serapan anggaran daerah terus di genjot, pertanda bahwa Pemerintah Aceh tidak pernah tinggal diam untuk membawa perubahan bagi rakyat Aceh.

 

HADIRIN YANG SAYA MULIAKAN.

Melalui momentum peringatan 9 tahun MoU Helsinki ini. Saya atas nama gubernur Aceh dan mantan petinggi GAM (Gerakan Aceh Merdeka), ingin mengigatkan 6 hal:

Pertama, saya himbau kepada seluruh rakyat Aceh, baik di dalam maupun di luar negeri. Mari kita saling bahu membahu, memberi kontribusi yang kontruktif bagi eksistensi perdamaian Aceh. Pembangunan Aceh paska konflik dan tsunami, harus dilakukan secara holistik.

Kedua, jauhi sikap provokatif. Rakyat Aceh sudah mulai hidup tenang paska MoU Helsinki. Hindari saling salah menyalahkan, Karena dapat merusak fondasi MoU Helsinki. Mari kita perkuat kohesi sosial, supaya turunan UUPA dapat dituntaskan.

Ketiga, aparat keamanan untuk menjaga ketertiban. TNI/Polri harus memberi rasa nyaman bagi setiap warga Aceh. TNI/Polri, bagian terpenting bagi setiap interaksi sosial masyarakat Aceh dan investasi Aceh kedepan.

Keempat, para kombatan GAM untuk menjaga persatuan. Kombatan elemen penting MoU Helsinki. Pihak terkait, harus memberi peluang bagi pemberdayaan eks kombatan yang sesuai dengan kontitusi.

Kelima, kepada seluruh PNS (pegawai negeri sipil) di seluruh Aceh, untuk meningkatkan produktivitas kerja. Produktivitas kerja PNS penting bagi Aceh, karena yang melakukan program-program pemerintah baik di Kabupaten dan Provinsi adalah para pegawai negeri sipil (PNS).

Keenam, himbaun saya terakhir dalam refleksi MoU Helsinki ke 9 ini adalah, supaya alim Ulama, Akademisi, Pengusaha dan aktivis LSM, untuk saling memberi kontribusi yang produktif bagi pengembangan masyarakat Aceh secara berkelanjutan. Menjauhi sikap-sikap yang kontra produktif bagi MoU Helsinki.

Kita harus berbagi peran, setiap peran yang kita mainkan, harus satu irama. Kalau semua elemen rakyat Aceh, dalam satu nada dan irama. Maka saya percaya, insyallah tuntutan subtansi MoU yang belum berjalan dan turunan UU PA yang belum selesai, akan cepat memperoleh jalan keluar.

HADIRIN YANG SAYA MULIAKAN.

Demikianlah sambutan saya, semoga kita selalu diberikankeberkahan dan pikiran yang jernih untuk membangun Acehyang lebih baik. Tak lupa kita berdoa, semoga perjuangan kita membangun kemaslahatan rakyat Aceh, mendapat ridha dari Allah SWT. Terimakasih.

 

GUBERNUR ACEH

dr. H. ZAINI ABDULLAH

  • Uncategorized

Leave a Reply