Peusijuek Sebelum ke Turki Kafilah Lada Sicupak

PEUSIJUEK ialah salah satu kegiatan budaya yang dimengerti oleh orang Aceh, di manapun dirinya berada. Jenis budaya ini telah melekat di dalam diri orang Aceh semenjak zaman yang tidak bisa dihitung. Kegiatan peusijuek adalah budaya serumpun di Asia Selatan dan Tenggara.

Di Aceh, diyakini bahwa peusijuek telah dikenal sebelum agama-agama itu datang. Begitu datang Hindu, maka disesuaikan dengan Hindu, dan tatkala zaman Hindu dan Budha berakhir dengan datangnya Islam, maka peusijuek pun masuk Islam mengikuti orang Aceh.

Barangsiapa yang sengaja atau tidak menghubung-hubungkan peusijuek dengan agama dan memprotesnya, niscaya orang tersebut telah menjadi korban-pikirannya telah diracuni oleh kaum orientalis Barat yang ingin menghapus budaya bangsa lain di Timur.

Peusijuek yang telah membudaya di Aceh persis permainan sepak bola yang telah membudaya di Eropa lalu disebarkan ke seluruh dunia. Saya ingat, tatkala pertama kali sepak bola disiarkan oleh TVRI hitam-putih, anak-anak meniru permainan itu.

Di masa itu, orang-orang ‘alim di kampung melarang permainan sepak bola karena mengandung unsur judi dan pakaian pemainnya membuka aurat. Kini tidak ada lagi pemuka Islam yang meluruskan permainan yang merupakan wabah (virus) budaya Eropa tersebut.

Peusijuek Kafilah Lada Sicupak

Sekian penghantar tentang peusijuek, kini kita bincangkan tentang peusijuek sebelum ke Turki yang terjadi di dua zaman, yakni, zaman Lada Sicupak I (1560-an) dan zaman Lada Sicupak II (2014).

Belum ditemukan data sejarah yang bisa menjawab pertanyaan, apakah kafilah Lada Sicupak yang dikirim oleh Sultan Al-Qahhar Yang Agung ada dipeusijuek atau tidak? Karena belum ada data, bolehlah kita mereka-reka tentang apa yang telah terjadi di masa lalu dengan memakai fakta di masa kini. Ini disebut ‘khayalan tentang masa silam’.

Aceh mesti menilai sejarahnya dengan memakai sudut pandang kepentingan dan budaya Aceh. Di masa kini pun yang adat dan budaya tidak lagi sekental dahulu, di setiap peristiwa baru, menerima barang baru, kepergian, mahupun setelah kemalangan, orang-orang Aceh masih dipeusijuek.

Tentang kepergian, misalnya, orang ingin merantau, meudagang (merantau untuk menuntut ilmu di dayah), berhaji, dipeusijuek oleh keluarga, kerabat, dan tokoh gampong.

Itu di tingkat keluarga dan gampong, apalagi di tingkat yang lebih tinggi. Di masa kini, calon penjabat gampong atau daerah serta penjabat baru kampung dan daerah pun dipeusijuek dengan acara besar-besaran. Masyarakat Aceh, terutama di masa silam, amat menjunjung tinggi perintah pemimpinnya.

Dengan kenyataan ini, maka orang-orang penting di bawah pimpinan Orang Kaya Umar dan Husen yang diutus oleh Sultan Al-Qahhar Yang Agung ke Konstantinopel (Istanbul), dalam menjalankan misi besar dan penting menemui sultan Turki Usmani, tentu saja dipeusijuek secara besar-besaran oleh sultan dan petinggi negara Aceh Darussalam serta keluarga mereka.

Itu adalah momen penting dalam sejarah kehidupan masing-masing utusan dan momen besar dan penting bagi kesultanan. Bahkan amat penting sehingga setelah ratusan tahun, kita masih pun mengingatnya, dan akan terus diingat oleh generasi Aceh dan dunia sepanjang zaman.

Ada kemungkinan, bahkan seluruh ulama besar di Aceh ikut mempeusijuek kafilah Lada Sicupak berserta kapal-kapal dan barang yang mereka bawa di dalamnya. Itu khayalan tentang masa silam tentang peusijuek terhadap kafilah Lada Sicupak yang dikirim oleh Sultan Al-Qahhar Yang Agung.

Baru-baru ini, seorang mahasiswa berbakat, Ariful Azmi bin Usman, dikirim oleh organisasi kebudayaan antar bangsa, Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PuKAT) ke Istanbul, Turki untuk mengikuti Harman Internship Program (GIPUS-Global Internship Program for Undergraduated Students) yang berlangsung pada 1-31 Agustus 2014.

Acara tersebut diperbuat oleh Eurasia Turkic Culture Strategic Research Foundation (ASAV) dan diikuti oleh mahasiswa dari beberapa benua.

Sebelum berangkat, pada 29 Juli 2014, Ariful dipeusijuek oleh keluarga besar atas dukungan kakeknya Teungku H Makhruddin atau Abi Rumoh Lueng. Peusijeuk itu dilakukan di rumah kakeknya, Gampong Teungoh, Blang Mangat, Lhokseumawe.

Pengriman Ariful ke Turki, mengingatkan kita akan sejarah Lada Sicupak yang tejadi sekitar tahun 1560-an -sekitar 450 tahun lalu- Sultan Alaidin Al-Qahhar Yang Agung dari Aceh Darussalam, mengirim utusan ke Konstantinopel untuk menemui Sultan (Khalifah) Suleyman Yang Agung (Sultan Suleyman Al-Qanuny) untuk menjalin hubungan diplomatik.

Kafilah yang dikirim tersebut membawa beberapa kapal berisi lada, dan barang berharga seperti emas, perak, dan permata ke Turki sebagai hadiah. Tatkala kafilah tersebut sampai di Konstantinopel, Sultan Suleyman Yang Agung tengah memimpin perang besar di Hongaria. Kafilah Aceh yang dipimpin oleh Orang Kaya Umar dan Husein pun harus menunggu sang sultan pulang dari perang.

Semua perbekalan dan hadiah terpaksa dijual sedikit demi sedikit untuk bertahan, sampai dua tahun setelahnya tibalah kabar ke Konstantinopel bahwa sang sultan Yang Agung telah syahid di dalam perang. Maka Sultan Selim II pun diangkat sebagai pengganti Sultan Suleyman Yang Agung.

Yang tersisa dari kafilah Aceh hanyalah sedikit lada, yang diistilahkan ‘Sicupak’ dalam budaya Aceh.

Sultan Selim II pun menerima kafilah tersebut dan memberikan sebuah meriam, turut dikirimkan bersamanya beberapa orang ahli perang, tukang meriam dan emas, dan selembar bendera Turki, dikirim ke Bandar (Aceh) Darussalam. Maka timbul pertanyaan lagi, apakah kafilah Lada Sicupak dipeusijuek juga tatkala tiba di Aceh dengan selamat berserta barang dan orang-orang penting dari Istanbul?

Ini tidak perlu dijawab lagi, lihat saja orang pulang berhaji dan menempati rumah baru, membeli kenderaan baru, apakah mereka dipeusijuek bersama benda-benda yang mereka bawa?

Dan, apakah hubungan antara diutusnya kafilah Lada Sicupak oleh Sultan Al-Qahhar Yang Agung dengan diutusnya Ariful oleh PuKAT ke Konstantinopel?

Pengiriman ini memiliki beberapa perbedaan, di antaranya:

  1. Kafilah Lada Sicupak dikirim pada tahun 1560-an; Ariful dikirim pada tahun 2014, berbeda masa sekitar 450 tahun dalam hitungan perjalanan matahari.
  2. Kafilah Lada Sicupak dikirim tatkala Turki merupakan kerajaan yang memiliki hegemoni sebagai kekuatan terbesar di dunia yang memimpin banyak negeri di Asia, Afrika, dan Eropa; Ariful dikirim tatkala Turki sebagai sebagai negara republik parlementer kuat yang memiliki wilayah di Eropa dan Asia.
  3. Kafilah Lada Sicupak dikirim dengan beberapa kapal berisi lada dan barang berharga lainnya milik Kesultanan Aceh Darussalam dan dipimpin oleh dua orang besar; Ariful dikirim dengan belanja dari negara Turki dan hanya satu orang. Hadiah yang ia bawakan hanyalah sepucuk rincong yang kemudian dihaturkan kepada petinggi media Negara Turki, TRT (Turkish Television dan Radio) yang tatkala diberikan langsung disangkutkan ke dinding kantor itu di Istanbul.
  4. Kafilah Lada Sicupak dikirim untuk meminta dukungan militer dari Sultan Turki; Ariful dikirim untuk mempelajari cara berpikir dan bertindak orang Turki dalam menghadapi perkembangan zaman.
  5. Kafilah Lada Sicupak membawa pulang meriam dan ahlinya serta ahli lainnya sebagaimana Kafilah Lada Sicupak; Ariful membawa pulang pengetahuan disertai beberapa benda yang ia beli sendiri.
  6. Kafilah Lada Sicupak menempuh perjalanan dengan menggunakan kapal buatan Aceh sendiri dengan melintasi Samudera Hindia, mengelilingi benua Afrika dan lebih dua tahun setelahnya baru pulang dengan hasil bantuan Sultan Selim II; Ariful menempuh perjalanan selama dua hari dengan memakai pesawat sewaan umum, singah di Kuala Lumpur, Dubai, dan Istanbul melalui udara dan pulang sendiri dengan pengetahuan dan pengalaman tanpa orang dan benda kiriman pemimpin Turki.
  7. Kafilah Lada Sicupak dikirim oleh Sultan Al-Qahhar Yang Agung pemimpin negara terbesar dan paling berpengaruh di Asia Tenggara kala itu; Ariful dikirim oleh LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) atau NGO (Non Goverment Organisation) antar bangsa.
  8. Kafilah Lada Sicupak dikirim untuk memperkuat ketentaraan Aceh Darussalam supaya bisa menguasai perairan Selat Malaka dan mengusir Portugis di Semenanjung; Ariful dikirim untuk menambah pengetahuan.
  9. Kafilah Lada Sicupak dikirim di masa Aceh adalah negara terbesar dan terkuat di Asia Tenggara; Ariful dikirim di masa Aceh adalah sebuah propinsi dari negara yang bukan terkuat di Asia Tenggara.
  10. Dan lain-lain.

Dengan beberapa perbedaan tersebut, maka PuKAT tidak berani mengatakan bahwa Ariful adalah kafilah Lada Sicupak kedua setelah yang pertama sekitar 450 tahun lalu. Tetapi pengiriman itu terjadi karena Sultan Al-Qahhar Yang Agung telah melakukannya di masa dahulu.

Prinsipnya, apabila Al-Qahhar Yang Agung mengirim orang Aceh ke Konstantinopel, maka PuKAT pun melakukannya. Namun karena kami tidak seagung Al-Qahhar, maka kafilah yang kami kirimpun tidak sebesar kafilah Lada Sicupak.

Tetapi kami terus mengupayakan perbaikan untuk masa depan bangsa ini. Duduk diam menunggu tidak akan mendapatkan jatuhan bintang dari langit. Berpikir dan bertindak akan melahirkan sesuatu yang baik untuk masa kini dan masa hadapan.*

Thayeb Loh Angen adalah pengurus Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PuKAT)

  • Uncategorized

Leave a Reply