Perkawinan

APA yang diharapkan dari sebuah perkawinan? Saya sendiri berharap mendapatkan kebahagiaan.

Siapa yang berhak menentukan kriteria Anda bahagia atau tidak. Anda, orang yang menjalani perkawinan itu sendiri. Anda berhak secara subjektif menilai apakah Anda bahagia atau tidak. Jangan biarkan orang lain mengintervensi arti kebahagiaan untuk Anda.

Setelah 10 tahun menikah saya masih sering bertanya kepada diri sendiri; apakah ini kebahagiaan yang benar.

Jika saja perkawinan seperti bermain catur melawan komputer, mungkin kita rajin menekan tombol “take back move” atau  “show hint”. Setiap melakukan kesalahan atau sekedar coba-coba untuk mencuri tau langkah serangan balik lawan. Tombol itu membereskan masalah yang sudah kita buat, tanpa bekas. Tidak ada yang dirugikan. Komputer  diam dan kita senang.

Kenyataanya, tidak ada tombol demikian dalam sebuah perkawinan. Kita harus matang menyusun dan menjalankan rencana. Sekali membuat kesalahan, maka resiko harus dihadapi. Bagi orang yang berpasangan, pasti tau bagaimana perasaan ketika baru berbuat salah dan saling berbaikan. Bagi saya, mirip rasa coklat yang lumer di dalam mulut.

Bermain catur dan mengelola perkawinan memiliki persamaan. Harus cermat, percaya diri dalam kesulitan, tangkas, berfikir beberapa langkah ke depan dengan segala kemungkinannya. Saya sering merasa khawatir kalau menteri atau ster saya dicaplok musuh. Kalau sudah khawatir, konsentrasi buyar dan langkah semakin bersalahan. Padahal bukan tidak mungkin kita bisa menang main catur tanpa menteri atau ster.

Adalah komunikasi, mesin pelicin dalam perkawinan. Setiap perkawinan memiliki gaya masing-masing dalam berkomunikasi. Ada yang cukup melalui tatapan mata, sentuhan lembut, tulisan, tutur kata yang halus sampai gaya blak-blakan yang lantang. Komunikasi bisa mengurai benang yang kusut menjadi rapi kembali.

Kalau gaya berkomunikasi saja sudah bermacam-macam, konon lagi definisi kebahagiaan. Setiap orang memiliki standarisasi dalam menterjemahkan kata bahagia. Terlebih merujuk kepada kondisi terkini mereka.

Komunikasi dalam perkawinan saya dan suami adalah komunikasi yang egaliter dan saling menghargai. Pasangan adalah pantulan diri kita. Selisih paham adalah kewajaran.

10 tahun bersama suami, saya merasa bahagia. Nakal sedikit dan sekali-kali adalah hal biasa. Kami nikmati saja semua ritmenya.[]

 

Arabiyani, pedagang buku di Banda Aceh

  • Uncategorized

Leave a Reply