Perkara perampokan BRI Beureunuen, terdakwa bilang keamanan sudah dijamin

PENGADILAN Negeri Sigli menggelar sidang lanjutan perkara perampokan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unit Beureunuen, Kecamatan Mutiara, Pidie, Senin, 18 Februari 2013.

Perampokan bersenjata yang melibatkan terdakwa Rustam bin Awahi, 36 tahun, warga Gampong Alue Papeun, Nisam Antara, Aceh Utara sebagai pelaku dan M Rasyid bin Juned alias Maop, 47 tahun, warga Gampong Blang Awe, Syamtalira Bayu, Aceh Utara selaku pemasok senjata, terjadi pada 18 Oktober 2011. Pelaku membawa kabur uang Rp3 miliar.

Dalam persidangan dipimpin Hakim Ketua Nurmiati SH didampingi Hakim Anggota Annisa Sitawati SH dan M Yusuf SH, terdakwa Rustam mengaku dirinya diajak oleh Bayu yang dia kenal di salah satu warung kopi di Lhokseumawe.

Mulanya, kata Rustam, Bayu menanyakan kegiatan dirinya selama ini dan dijawab tidak ada pekerjaan tetap, lebih banyak menganggur. Kemudian  Bayu mengajaknya bekerja sama merampok bank. Awalnya Rustam mengaku tidak mau, tapi karena Bayu menjelaskan bahwa itu bukan perampokan benaran, tetapi datang ke bank hanya mengambil uang saja. Kata dia, Bayu meyakinkan bahwa keamanan sudah dijamin oleh bos bank tersebut.

Menurut Rustam, tugas diberikan kepadanya hanya memegang senjata dan memantau situasi dalam bank, sedangkan di bank tidak ada aparat keamanan dan sudah dijamin oleh bos bank.

Kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) Isman Afan dan Samil Fuadi, terdakwa Rustam mengaku tidak bisa mempergunakan senjata api. “Karena tidak pernah menggunakan senjata api sebelumnya, saya ikut karena keamanan sudah dijamin,” ujarnya.

Ketika ditanya berapa jatah uang yang ia terima dari hasil perampokan tersebut, Rustam mengaku hanya mendapat Rp80 juta. Padahal menurut perjanjian, kata dia, dari uang Rp3 miliar hasil rampokan tersebut setelah dipotong jatah bos bank Rp1,5 miliar, selebihnya dibagi rata termasuk kepada pemilik senjata.

Sementara terdakwa M Rasyid bin Juned alias Maop sebagai pemilik senjata, kepada majelis hakim mengaku senjata tersebut milik pihak tertentu  yang diamanahkan untuk disimpan.

Rasyid mengaku terkejut saat didatangi oleh seseorang bernama Ishak minta pinjam senjata tersebut, yang katanya untuk mengambil uang di bank. “Saya tanya darimana mengetahui bahwa ada senjata sama saya, dia menjawab dari Bayu.

Keesokan harinya, kata Rasyid, dia mendatangi Bayu dan menanyakan kenapa diberitahu ke orang lain. Bayu mengatakan tidak apa-apa, nanti setelah perampokan akan dibagi jatah satu bagian.

“Karena senjata tersebut sudah diketahui orang maka saya serahkan kepada  Bayu selanjutnya diberikan kepada Ishak,” katanya.

Kepada JPU, terdakwa Rasyid mengaku mendapatkan uang hasil rampokan Rp10 juta yang dia terima melalui rekening adik iparnya, kemudian jumlah tersebut dibagi dengan Bayu masing-masing Rp5 juta.

Setelah mendengar keterangan kedua terdakwa didampingi pengacaranya Sanusi SH, majelis hakim menunda persidangan hingga Senin, 4 Maret 2013 mendatang dengan agenda pembacaan tuntutan jaksa.

Ditemui ATJEHPOSTcom usai sidang, JPU Isman Afan mengaku sejauh ini pihaknya baru menerima berkas dua terdakwa itu dan berkas tersangka mantan Kepala BRI Unit Beureunuen Dedi Suprianto dari penyidik polisi, sedangkan berkas tersangka lainnya belum sampai ke jaksa.

Diberitakan sebelumnya, Pengadilan Negeri Sigli menggelar sidang kedua terkait perkara perampokan BRI Unit Beureunuen, Mutiara, Pidie, Rabu, 6 Februari 2013. Sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan, Kamis, 31 Januari 2013. Dua terdakwa dijerat pasal 365 KUHP juncto pasal 55 dan 56 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan dan pasal 1 ayat (1) UU Darurat tahun 1951 tentang senjata api.[](iip)

  • Uncategorized

Leave a Reply