Perempuan Aceh dinilai tak mendapat tempat di partai

KETERLIBATAN perempuan di ranah politik untuk memenuhi quota 30 persen dinilai masih jauh dari harapan. Bahkan keterlibatan mereka di parlemen dinilai hanya mendekati angka 10 persen. Kondisi yang sama juga berlaku di tingkat eksekutif, di mana peran perempuan di jabatan-jabatan strategis masih sangat minim.

Hal tersebut diungkapkan oleh Presidium Balai Syura Ureung Inong Aceh, Suraiya Kamaruzzaman, saat berkunjung ke kantor rekdaksi ATJEHPOSTcom menjelang petang tadi, Rabu, 6 Maret 2013.

Kondisi itu katanya terjadi karena minimnya pembelajaran politik bagi perempuan, sehingga minat mereka untuk terjun ke dunia politik menjadi berkurang. Partai politik sebagai organisasi formal tempat mencetak kader-kader politik juga dinilai belum “ramah” terhadap perempuan.

Seorang anggota Balai Syura lainnya, Evi Narti Zein, turut menegaskan jika partai politik dalam hal ini tidak menjalankan fungsinya sesuai undang-undang yang berlaku. “Partai tidak memberikan pendidikan politik untuk perempuan,” katanya.

Kondisi ini katanya menyebabkan partai politik kesulitan memperoleh calon anggota legislatif perempuan pada saat pemilu legislatif. Perekrutan yang mereka lakukan juga terkesan mendadak.

Evi juga menegaskan, jika kuota 30 persen tersebut hendaknya bukan soal kuantitas semata tapi juga dibarengi dengan kualitas calon itu sendiri.

Sementara itu, Suraiya menambahkan, di lain pihak politikus pria terlihat seperti tidak rela untuk bermitra dengan perempuan di ranah politik. Padahal, jika keduanya saling bersinergi tentunya akan melahirkan kekuatan-kekuatan baru yang memudahkan pekerjaan mereka.

“Di Indonesia, khususnya di Aceh pembunuhan karakter perempuan baik di ranah politik dan ekonomi tidak terlalu ekstrim mengarah ke kerasan fisik seperti di luar negeri, tapi itu terjadi secara sistematis juga,” kata Suraiya.

Bahkan katanya, upaya tersebut tak jarang dilakukan dengan mempolitisasi agama. Dan hal itu tidak hanya terjadi di daerah-daerah yang tingkat pendidikan masyarakatnya masih terbatas. Namun juga terjadi di kota-kota di mana kehidupan masyarakatnya dianggap lebih maju.

Dalam hal ini Suraiya melihat terjadi kemunduran perempuan Aceh di ranah politik. Padahal jika menilik sejarah Aceh, banyak perempuan-perempuan Aceh yang terlibat di dunia politik. Namun beberapa peristiwa sejarah yang terjadi di masa lalu menyebabkan menguatnya sistem patriarki dalam tataran masayarakat. Sistem patriarki inilah salah satu yang menyebabkan terjadinya domestikasi peran perempuan di Aceh.

“Hampir semua wilayah di Indonesia terjadi domestikasi, terutama pada masa orde baru, di mana peran-peran perempuan diarahkan hanya ke sektor rumah tangga,” ujarnya.

Di Aceh kondisi ini semakin diperburuk dengan konflik yang terjadi selama belasan tahun. Di mana pada masa itu akses perempuan untuk mendapatkan pendidikan sangat terbatas. Di sinilah katanya peran media dalam mencerdaskan masyarakat sangat diperlukan. Di mana media bisa mempublikasi kiprah-kiprah perempuan Aceh di ranah politik yang selama ini luput dari pemberitaan.

Klik di sini untuk melihat geleri foto kunjungan aktivis perempuan Balai Syura ke kantor redaksi ATJEHPOSTcom
.[] (ihn)

Berita terkait:

Aktivis perempuan Aceh kunjungi ATJEHPOSTcom

  • Uncategorized

Leave a Reply