Perekonomian Lahad Datu lesu akibat perang

PERANG di wilayah Tandou dan Tanjung Batu membawa dampak yang cukup serius di Lahad Datu. Kota di pinggir pantai itu pun kini lesu ditinggal para pelancong.

"Biasanya saya selalu bawa turis kulit putih. Tapi satu bulan ini tak ada yang datang. Hotel pun sepi," ujar Haji Aulia, pemilik rumah singgah di kawasan Pasar Rakyat, seperti dilaporkan reporter merdeka.com Hery H Winarno dari Lahad Datu, Sabah, Malaysia, Sabtu (9/3).

Menurutnya, seminggu lalu adalah puncak paling sepi di Lahad. Kota yang biasanya ramai didatangi orang saat akhir pekan, kini mendadak sepi.

"Bahkan hanya dua-tiga kedai makanan yang buka. Biasanya puluhan kedai di sini buka semua. Semua takut dengan mengganas," ujar Aulia.

Silami, penjual makanan tenda yang menyajikan ikan dan ayam bakar di kawasan Pasar Rakyat juga mengeluhkan hal yang sama. Biasanya banyak turis yang mendatangi kedai saat malam minggu, tapi malam ini kedai sepi.

"Cuma orang sini saja yang makan. Tak ada itu turis-turis. Mungkin banyak yang takut ke Lahad," ujarnya.

Pantauan merdeka hotel-hotel kecil di sekitar Pasar Rakyat Lahad Datu juga banyak yang tutup. Bila ada yang buka, harganya pun naik hampir dua kali lipat.

Warga Lahad pun berharap perang segera berakhir sehingga denyut nadi perekonomian di kota bandar ini kembali bangkit. Meski kota kecil. Lahad menjadi tujuan wisata turis dan para pekerja perkebunan di akhir pekan.

"Kalau tidak ada yang berkunjung ke Lahad, senyap sudah. Tak ada orang makan di sini. Tak bisa kita bayar anak buah," ujar Silami yang memiliki 4 pekerja di warung tendanya ini. | sumber : merdeka

  • Uncategorized

Leave a Reply