Perayaan Maulid Bukan Sekadar Makan Enak

Bocah-bocah itu berhamburan keluar dari pintu samping kiri meunasah. Mereka kemudian duduk bersila membentuk lingkaran di lantai keramik teras meunasah di dusun Dayah Guci, desa Sukon Baroh, kecamatan Glumpang Tiga, Pidie. Di kompleks meunasah tampak ramai warga, baik yang berusia lanjut maupun anak muda.

Tepat pukul 12.10 WIB, hari Ahad, 9 Februari 2014, belasan bocah usia sekolah dasar itu baru selesai meramaikan dike moloed atau zikir maulid yang digelar para santri Yayasan Pendidikan Islam Asjadi Teungku Syiek Beuriweuh Dayah Guci sejak pagi. Sama seperti tahun sebelumnya, seusai acara zikir, masyarakat menghidangkan kenduri untuk peserta dike.

Ci bet sipasang idang keu aneuk mit nyoe (tolong angkat sepasang idang untuk bocah-bocah ini),” seru salah seorang laki-laki paruh baya di tengah kerumunan warga.

Dua anak muda naik ke balai di sisi kiri bangunan meunasah. Di atas balai berlantai kayu itu tersusun puluhan idang atau dalong berisi kenduri. “Untuk perayaan maulid tahun ini terkumpul kenduri sebanyak 76 idang dari masyarakat Dayah Guci,” ujar Muhammad Gade, sekretaris desa Sukon Baroh yang menetap di dusun Dayah Guci.

Sepasang idang diturunkan dari balai, lalu disajikan depan bocah-bocah tadi. “Tulong bagi siat,” ujar Muhammad Gade memerintahkan dua remaja agar membagikan kenduri.

Kain pembungkus idang dibuka. Salah satu idang berisi puluhan bu kulah atau nasi yang dibungkus dengan daun pisang muda yang telah dilayukan. Bu kulah dibagikan dengan cara diletakkan depan bocah. Masing-masing bocah kebagian dua bu kulah. Bocah lantas membuka bu kulah.

Satu idang lagi berisi lauk-pauk khas Aceh. Ada sie manok, sie itek, boh itek masen, boh manok, eungkot sure, kuah boh aneuh, boh timon phang, dan lainnya. Ketika lauk-pauk dibagikan, sekonyong-konyong suasana berubah semarak lantaran muncul beragam komentar dalam aksen Aceh yang riuh-rendah. Selain petugas yang membagikan kenduri, bocah-bocah yang tidak sabar menunggu, dan masyarakat yang menjadi penonton ikut buka suara. 

Yang bek lakee, bandum meurumpok”.

Boh manok saboh sapo”.

Lon hana lom”.

Lee protein bak boh itek”.

Yang hansep eungkot sambong ngon eungkot sie”.

Kuah beu abeh”.

Nyoe dilikot golom na eungkot”.

Tanyoe ta iem mantong, troh keudroe jih”.

Nyoe keu syeh dike”.

Kuah boh aneuh beurata bacut sapo”.

Ka beh, kajeut bungkoh, beurangkat laju”.

Selesai pembagian kenduri, sebagian bocah pulang membawa bu kulah yang sudah dicampur lauk-pauk. Sisanya menyatap kenduri di teras meunasah. Tak lama kemudian, salah seorang santri mengumandankan azan dzuhur lewat pengeras suara. Masyarakat bergegas mengambil air wudu’, lalu masuk ke meunasah untuk melaksanakan salat dzuhur berjemaah.

Tiga saf salat terisi penuh. “Biasanya pada hari lain hanya satu saf, dan mayoritas para santri,” ujar salah seorang santri kepada saya seusai salat. Di meunasah ini selalu dihidupkan salat lima waktu secara berjemaah, meski yang salat hanya sekitar sepuluh orang. “Yang agak ramai saat magrib,” kata santri lainnya.

Seusai salat dhuzur, datang seratusan masyarakat desa Kayee Raya (desa ini disebut juga Tanjong), kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya, tetangga dusun Dayah Guci. Rombongan tamu dari Tanjong mulai laki-kaki tua hingga bocah.

Kajeut ta bet idang keu jamee (sudah bisa disajikan kenduri untuk tamu),” seru Zulkarnaini, tokoh pemuda Dayah Guci.

Padib boh idang keu jamee Tanjog (berapa idang untuk tamu dari Tanjong),” tanya Bang Mae, salah seorang warga.

Dua blah pasang idang (dua belas pasangan idang),” ujar Muhammad Gade.

Sembari bahu-membahu mengangkat idang, sejumlah warga saling berkomentar dengan penuh semangat.

Cok blah rap ujong dilee yang awai ba”.

 “Grak laju”.

Pasangan idang bek meutuka, teumon droe jih”.

Ci bileung padib boh kana, di dalam kana nyang ato”.

Baro lapan dipeugah”.

Peuduek beu meulheung beh”.

Padib ka, ci eu siat”.

Ka, ka sep u dalam”.

Dua belas idang sudah diletakkan dalam meunasah. Pak “Sekdeh” Muhammad Gade dan tokoh masyarakat Dayah Guci meminta masyarakat Tanjong masuk ke meunasah menerima kenduri. Masyarakat Tanjong duduk bersila dilantai meunasah dan membentuk lingkaran yang terbagi dalam 12 kelompok sesuai jumlah pasangan idang. Dua orang dari masing-masing kelompok bertugas membagikan bu kulah dan lauk-pauk. Riuh-rendah beragam komentar menyeruak selama pembagian kenduri.

Ketika masyarakat Tanjong sedang membagikan kenduri, bersamaan dengan itu datang rombongan tamu dari dusun Bahagia desa Sukon Baroh. Masyarakat Dayah Guci menyebut tamu itu awak Meunasah Sukon. Di antara tamu tampak pula Geuchik Sukon Baroh, Muhammad.

Katroh awak Meunasah Sukon,” kata Ruslan, pemuda Dayah Guci memberitahu warga lainnya.

Tayue preh lee siat (kita minta mereka menunggu sebentar),” ujar Muhammad Gade.

Selesai membagikan kenduri, masyarakat Tanjong membungkus bu kulah bercampur lauk-pauk, lalu dimasukkan dalam kantong plastik yang sudah dipersiapkan. Sebagian di antaranya mencicipi kenduri beberapa suap sebelum dibungkus untuk dibawa pulang. Mereka kemudian berpamitan pada masyarakat Dayah Guci.

Sebagian warga Dayah Cuci kini membersihkan lantai meunasah. Setelah disajikan 12 idang, warga meminta tamu dari Meunasah Sukon masuk ke meunasah untuk menerima kenduri. Lantaran ruangan meunasah sudah sesak, warga menyediakan sepasang idang untuk Geuchik Muhammad bersama 10 tokoh masyarakat Meunasah Sukon di atas balai kecil, sebelah kanan meunasah.

“Tiap tahun perayaan maulid, kita mengundang masyarakat dari Tanjong, Meunasah Sukon, dan Blang Drang,” kata Muhammad Gade saat bercakap-cakap dengan saya. “Masyarakat desa Blang Drang sudah memberitahukan kepada kami, mereka baru bisa datang nanti jam tiga sore, karena hari ini ada kenduri pernikahan di desa itu,” ujarnya.

Ketika masyarakat Tanjong, Meunasah Sukon, dan Blang Drang merayakan maulid, kata Muhamad Gade, giliran masyarakat Dayah Guci yang diundang ke desa-desa itu untuk menerima kenduri. Melalui kenduri maulid, kata dia, masyarakat antardesa menyambung silaturrahmi dan membangkitkan semangat kebersamaan. 

“Pada bulan maulid tahun ini kita juga akan menggelar musabaqah yang diikuti sekitar 200 santri Asjadi Teungku Syiek Beuriweuh Dayah Guci. Selain MTQ, juga ada cerdas cermat, lomba pidato, baca kitab kuning, dan cabang lainnya,” kata Muhammad Gade.

Malam puncak musabaqah, kata dia, dilaksanakan pembagian hadiah kepada para juara, dan ditutup dengan dakwah. Panitia musabaqah mengundang salah seorang teungku untuk menyampaikan ceramah tentang maulid.

***

Bukan hanya di Dayah Guci, sebagian masyarakat berbagai daerah di Aceh secara turun-temurun melaksanakan tradisi kenduri maulid saban tahun. Ada yang menggelar kenduri pada moloed awai (rabi’ul awwal), ada pula saat moloed teungoh (rabi’ul akhir), dan moloed akhe (jumadil awwal).

“Kenduri maulid itu sebuah tradisi, bukan bagian dari agama, karena sejarah membuktikan jika Nabi dan sahabat, juga para tabi’in tidak pernah merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wassalam,” ujar Ustadz Muhammad Syahrial Razali Ibrahim akrab disapa Teungku Balee di Lhokseumawe kepada saya.

Mengenai kebersamaan, kata Teungku Balee, Nabi memang pernah menganjurkan, “Saling berbagi hadiahlah di antara kalian, maka kalian akan saling mencintai”. Artinya, saling berbagi makanan dan sejenisnya mendorong lahirnya rasa cinta di antara masyarakat. “Tetapi yang menjadi masalah di Aceh hari ini, terlepas dari pro-kontra seputar boleh tidaknya merayakan maulid, kecintaan dan saling peduli hanya saat maulid: anak yatim dimuliakan dan fakir miskin kekenyangan. Ketika bulan maulid berakhir mereka kembali pada kondisi semula, lapar dan terbiarkan,” katanya.

Itu sebabnya, Teungku Balee menilai praktek silaturahim dan kebersamaan yang terlihat kontras setiap perayaan maulid di Aceh terkesan semu dan dipaksakan. Saat ini, kata dia, kebersamaan dan silaturahim selalu terajut erat lantaran faktor duniawi. Motifnya materi karena ada kenduri atau makan-makan. Bukan silaturahim sungguhan yang dilakukan karena adanya keinginan yang tulus “Lillahi Taa’la” untuk menyambung persaudaraan dan mengeratkan keakraban, walaupun tanpa makan enak dan terlepas dari semua kepentingan. 

“Penting untuk disadari bahwa sesuatu yang dilakukan bukan karena dorongan hati dan keyakinan kepada Allah, ia takkan pernah permanent dan langgeng,” ujar Teungku Balee yang juga dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Malikussaleh Lhokseumawe.

Ia melihat selama ini ada sesuatu yang miss dari kesadaran banyak orang, termasuk pada perayaan maulid. Sebagian besar masyarakat tidak lagi melihat tujuan dan substansi, tetapi lebih terpaku pada simbol-simbol dan kulit luarnya. Itu sebabnya perayaan maulid di banyak tempat identik dengan membesarkan makanan.

“Jadi di Aceh, jika ada dua orang, yang satu taat menjalankan agama, berusaha mempraktekkan nilai-nilai luhur dari ajaran Rasul setiap harinya, tetapi tidak membesarkan makanan pada bulan maulid, kesannya ia dianggap tidak mencintai Nabi. Satunya lagi dipandang mencintai Nabi hanya karena ia membesarkan makanan pada bulan maulid, meski moralnya sangat rendah,” ujar Teungku Balee.

Kehilangan kesadaran, kata Teungku Balee, bukan hanya di kalangan masyarakat awam, tetapi ditunjukkan pula oleh orang-orang berpendidikan tinggi. Mereka selalu beralasan untuk mogok kerja, tidak berbuat apa-apa karena tak ada anggaran atau belum disahkan anggaran. “Galom dikhok palee” begitu ungkapan popular di kalangan mereka.

“Tidak tersedianya dana menjadi “kambing hitam” untuk tidak melakukan apa-apa, termasuk untuk tidak mau berpikir. Ini karena kita sudah begitu larut dalam buaian materi, segalanya harus bendawi, bahkan sampai memuliakan dan membesarkan hari kelahiran Nabi,” katanya.

Oleh karena itu, Teungku Balee mengingatkan semua pihak di Aceh bahwa hakikat dari perayaan maulid sebenarnya dengan meneladani Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam sepanjang hidup kita, bukan sekadar seremonial dan makan enak.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply