Pengusaha Eksportir Ikan Basah Meulaboh Raup Untung Rp60 Juta Per Tahun

MEULABOH – Usaha Dagang (UD) Camar Laut mampu mengekspor ikan basah per hari sebanyak tiga ton. Hal tersebut disampaikan pemilik UD Camar Laut, Haji Jauhari, kepada ATJEHPOSTcom, Rabu 14 November 2012.

Menurut dia, setiap harinya ikan yang diekspor jenis tongkol, dan telah merambah ke Medan, Lhokseumawe, Pidie dan Bireuen. Selain itu, ekspor ikannya juga masuk ke Malaysia. Untuk Malaysia, kata dia, pihaknya mengekspor ikan tenggiri, kakap merah, coli, jenea, bawal dan beberapa ikan karang lainnya.

“Untuk pengiriman ikan ke malaysia biasanya setiap bulan mencapai 10 ton,” ujarnya.

Jauhari mengatakan, dalam ekspor ikan yang dia lakukan dia mengaku berhasil memperoleh omzet Rp60 juta setiap bulannya. Biasanya, kata dia, ekspor ikan miliknya dilakukan melalui pelabuhan Belawan yang ada di Medan. Alasannya, hanya di pelabuhan tersebut yang memiliki kapal penyeberangan, yang mengangkut ikan langsung ke Malaysia.

“Untuk Aceh sendiri belum ada. Dulu pernah diwacanakan di Kuala Langsa, namun karena daya tangkap ikan nelayan Aceh kurang jadi tidak bisa beroperasi, karena hingga saat ini sistim tangkap ikan nelayan kita masih tradisional,” ujarnya.

Kendati mendapat keuntungan besar dari bisnis ini, namun kata dia, dalam bisnis ekspor ikan terkadang juga terkendala saat harga ikan tiba-tiba menurun. Resikonya adalah merugi, atau kualitas ikan yang kurang sesuai permintaan agen penampung. Namun, dia tetap memperoleh keuntungan dari kondisi tersebut walaupun sangat kecil.

Kata Jauhari, awalnya dia berbisnis ekspor ikan basah dengan modal nekat. Untuk modal awal, dirinya menjual mobil dan beberapa harta lainnya sehingga memperoleh modal Rp100 juta. Bisnis tersebut dirintisnya sejak tahun 2008.

Saat ini, dirinya sudah memilik inventaris senilai Rp600 juta, yang terdiri dari tiga unit boat, mobil pengangkut barang, ruko dan rumah.

Bisnis ekspor ikan miliknya pernah difasilitasi oleh organisasi dunia sekaliber FAO. Saat itu, kisah dia, ada 11 pengusaha ekspor ikan basah dari Aceh yang diboyong ke Malaysia. Namun, dari jumlah tersebut hanya dirinya yang berhasil mengembangkan usaha tersebut.

Keberhasilannya tersebut, membuat Jauhari menjadi salah satu toke bangku di Aceh Barat. Dia kerap membantu nelayan memberikan modal pada nelayan saat hendak melaut.

Selain itu, dia juga membantu alat tangkap modern atau bubuh. Masing-masing boat, diberikan 100 set bubuh. Satu set bubuh harganya mencapai Rp400 ribu rupiah atau secara keseluruhan mencapai Rp80 juta untuk dua boat.

100 bubuh, kata dia, mampu mendapat tangkapan hingga 500 kilogram per sekali melaut dengan rentang waktu di laut 3 hingga satu minggu. Ada satu cita-cita yang belum dicapai Jauhari saat ini.

Cita-cita tersebut, yaitu mengembangkan usahanya mengekspor ikan basah miliknya ke sejumlah negara lainnya.(bna)

  • Uncategorized

Leave a Reply