Penghuni Kamp Pengungsian Gampong Bidari Menanti Janji

JALANAN basah dan licin akibat diguyur hujan yang tak kunjung reda sejak pagi hingga sore hari, Sabtu 20 Oktober 2012. Puluhan gubuk berjejer, hanya menyisakan sebuah lorong kecil.

Sejumlah anak kecil duduk bercengkrama di pintu masuk gubuk semi panggung itu. Tak ada duka di wajah mereka yang memang masih sangat polos dan tak paham derita orang tuanya.

Sambil menyaksikan siaran Televisi dari luar pintu gubuk, mulut mereka tak hentinya mengunyah. Dan ternyata, mereka makan buah coklat (kakao) siap jemur yang dijadikan sebagai cemilan sehari-hari.

Di sudut lainnya, berdiri beberapa ibu menggendong anaknya yang masih bayi.

Ada juga kaum lanjut usia. Mereka berdiri merapat di dinding gubuk, karena atap kecil yang tak mampu menahan tempias hujan.

Pemandangan miris itu terlihat di kamp pengungsian korban longsor di Gampong Persiapan Bidari, Kecamatan Langkahan, pedalaman Aceh Utara.

Sejak mengalami musibah bencana longsor pada Desember 2008 lalu, mereka terus menanti janji Pemerintah Aceh yang katanya akan membangun rumah bantuan dalam waktu 6 bulan pasca bencana. Tapi nyatanya, 4 tahun telah berlalu dan janji pun hanya tinggal janji.

Saat ini mereka tak hanya berada di lingkungan kumuh, tetapi juga terancam menjadi tuna wisma. Pasalnya, Haji Husen sebagai pemilik lahan telah meminta kembali tanahnya yang dipinjam pakai untuk camp pengungsian tersebut.

Empat tahun lalu, beberapa hari pasca bencana longsor, penghuni kamp pengungsian ini pernah dikunjungi mantan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf. Saat meninjau lokasi bencana, dia menjanjikan rumah bantuan akan selesai dibangun dalam waktu 6 bulan.

“Jangankan selesai, angin segar pun tak kunjung datang. Kami sudah jenuh tinggal di kamp pengungsian,” ujar Zainun S, Keuchik Gampong Persiapan Bidara, saat ditemui ATJEHPOSTcom di camp pengungsian itu.

Bagaimana bisa generasi penerus bangsa menjadi cerdas dan sehat, sementara anak-anak mereka harus mengkonsumsi air dari terusan Sungai Arakundo. Di sana, warga menjadikan sungai sebagai tempat mencuci, mandi, hingga yang paling fatal menjadi WC umum. Air sungai itu juga yang digunakan untuk memasak dan minum.

“Kami tidak mengerti tentang standart kesehatan, karena untuk menjangkau Posyandu plus saja harus menempuh jarak lebih dari 1 Kilometer ke Desa Leubok Pusaka. Yang kami tahu, perut dan tubuh kami sudah menerima asupan dari air sungai itu,” kata Asmidar (26), penghuni barak pengungsian itu.

Asmidar dan penghuni barak lainnya mulai dilanda resah dan kekhawatiran mendalam. Kini barak yang hanya terbuat dari papan cor itu mulai lapuk dimakan rayap.

Beberapa sisi mulai miring dan hanya menanti waktu untuk roboh. Bagian dapur sudah tak dibahas lagi, karena beberapa barak memang sudah rusak parah.

Hal senada dikatakan Amanrua, 85 tahun. Warga lanjut usia ini mengkahawatirkan jadi tuna wisma setelah desakan pemilik tanah yang menginginkan mereka pindah.

“Kita tidak menyalahkan pemilik tanah, karena ia sudah berbaik hati memberikan tanahnya sebagai lapak pengungsian kami. Tetapi ini sudah terlalu lama, mengingat janji Gubernur Aceh terdahulu hanya 6 bulan.”

Menurut Amanruna, pemilik tanah ingin menjadikan lahan itu sebagai kebun sawit. “Kata si pemilik tanah, jika memang kami tidak segera pindah dan mengosongkan barak, ia bisa mentolerir dengan catatan membayar uang sewa pakai lahan,” tuturnya.

Ketika kini pemerintahan berganti, dan Aceh dipimpin Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf, warga pedalaman itu pun menaruh harapan baru. 

“Kami tidak meminta lapangan pekerjaan karena kami bisa berkebun, yang kami pinta hanya bantuan rumah layak huni. Ini bukan keinginan kami, melainkan bencana alam yang telah menghilangkan tempat tinggal kami,” ujar mereka dengan wajah penuh iba.

Seperti yang diketahui, 33 Kepala Keluarga (KK) korban rumah amblas di Gampong Persiapan Bidari, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara pada Desember 2008 lalu, hingga kini masih menempati barak pengungsian.

Padahal, berdasarkan surat mantan Gubernur Irwandi ke mantan Bupati Aceh Utara, Ilyas A Hamid, tertanggal 2 Maret 2011 lalu, dinyatakan, anggaran untuk bantuan rumah itu telah diplotkan dalam APBA 2011. Namun bantuan itu tak kunjung tiba.(bna)

  • Uncategorized

Leave a Reply