Pengamat Politik Unimal: Pemilih di Aceh Cendrung Homogen

LHOKSEUMAWE – Pengamat politik Universitas Malikussaleh M Rizwan Haji Ali SAg MA menyebutkan secara teoritis situasi sosial ikut memengaruhi warga yang menggunakan hak pilihnya dalam pemilu di Aceh. Rizwan menilai pemilih cendrung tidak ingin menyimpang dari apa yang sudah diyakini benar secara sosial atau dipercayai di lingkungan mereka sebagai suatu yang tepat dan harus dilakukan.

“Karena dipengaruhi lingkungan sosial, maka pemilih kita cendrung homogen. Kalau situasi sosial mengarahkan mereka pada salah satu partai politik, pemilih akan ke sana,” kata Rizwan usai menjadi narasumber pada workshop “Pendidikan Pemilih untuk Mendorong Partisipasi Masyarakat dalam rangka Meningkatkan Kualitas dan Kepercayaan Rakyat terhadap Pemilu”, yang digelar KIP Lhokseumawe, Rabu, 10 Oktober 2012.

Itu sebabnya, kata Rizwan, di tengah masyarakat Aceh sering terdengar pernyataan, “yang peunteng bek gabuk (yang penting jangan terjadi konflik)”. Hal itu, kata dia, menunjukkan ada pemilih yang ingin menciptakan harmonisasi dalam masyarakat. “Mereka tidak ingin menyimpang dari lingkungan sosial mereka karena bisa berakibat secara sosial seperti terisolasi,” katanya.

Menurut Rizwan, di tengah masyarakat Aceh ada tren yang beda dengan daerah lain. Rakyat Aceh membincangkan persoalan-persoalan politik di warung kopi. “Dan ini penentunya adalah media massa, apa yang dibicarakan masyarakat di warung kopi, ditentukan apa headline media massa (koran). Membedah isi pemberitaan, itu disukai oleh masyarakat kita,” kata Rizwan.

Kebiasaan masyarakat Aceh tersebut, kata Rizwan, bisa menjadi sebuah kekuatan yang dapat digunakan oleh pemerintah, partai politik dan Komisi Independen Pemilihan sebagai salah satu strategi menyosialisasikan agenda-agenda pemilu atau agenda politik lainnya.

Rizwan juga mengemukakan bahwa dari praktek sosial kemasyarakan, kesadaran politik orang Aceh lebih besar dibandingkan di daerah lain.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply